Di Desa Jenggik, masyarakat masih banyak yang percaya dan yakin pada pengobatan tradisional dengan bantuan belian untuk beragam penyakit, seperti hipertensi. Pengetahuan pengobatan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun belum terdokumentasi secara sistematis, terutama mengenai jenis tumbuhan, komposisi ramuan, cara pengolahan, cara penggunaan, dosis, frekuensi penggunaan, dan nilai penting tumbuhan yang digunakan dalam pengobatan hipertensi. Penelitian etnomedisin ini bertujuan untuk mendokumentasikan pemanfaatan dan menentukan nilai penting tumbuhan obat yang digunakan dalam pengobatan hipertensi di Desa Jenggik. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan penyajian data secara kuantitatif dan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara semi terstruktur menggunakan metode snowball sampling terhadap 6 informan belian. Data dianalisis secara deskriptif serta menggunakan Cultural significance index (CSI) dan Relative frequency of citation (RFC). Hasil penelitian menunjukkan terdapat 21 spesies tumbuhan dari 13 famili yang digunakan dalam pengobatan hipertensi. Famili Zingiberaceae merupakan famili yang paling banyak digunakan. Bagian tumbuhan yang paling sering dimanfaatkan adalah daun (34,48%), cara pengolahan dominan ditumbuk/dihaluskan (42,85%), dan cara penggunaan paling umum adalah diminum (71,42%). Nilai CSI dan RFC tertinggi adalah kunyit (Curcuma longa Linn) dengan besar nilai CSI 8 dan RFC 0,6. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kunyit memiliki tingkat kepentingan budaya dan frekuensi penyebutan tertinggi serta menjadi tumbuhan yang paling sering digunakan dalam pengobatan hipertensi di Desa Jenggik.