Hikmah, Wiqayatul
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Textual Negotiation and the Reality of Interpreting Verses on the Ethics of War: A Comparative Study of Tafsĭr Marāḥ Labĭd and Tafsĭr al-Iklĭl Hikmah, Wiqayatul
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 20 No 2 (2026)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v20i2.32815

Abstract

Abstract The discourse on the ethics of war in Islam has always involved a negotiation between the authority of the Qur’anic text and the demands of the socio-historical realities surrounding a mufasir. Studies of Nusantara tafsir on verses concerning war remain limited in comparing classical Arabic-language tafsir works with vernacular Javanese-language works. As a result, local dynamics in the construction of the ethics of war have not been sufficiently explored. This study aims to analyze the negotiation between text and reality in the interpretation of verses concerning the ethics of war in Tafsĭr Marāḥ Labĭd by Syekh Nawawi al-Bantani and Tafsĭr al-Iklĭl fĭ Ma‘ānĭ al-Tanzĭl by KH. Misbah Mustafa, focusing on QS. al-Baqarah (2): 190–193 and QS. al-Naḥl (16): 125–126. The study employs a qualitative approach based on library research, using thematic (mauḍū‘ĭ) and comparative (muqāran) tafsir methods. The findings show that Marāḥ Labĭd interprets the verses on war within the framework of classical Fiqh, emphasizing the normative boundaries of defensive jihad. In contrast, al-Iklĭl interprets these verses through a Javanese local perspective that places preaching with wisdom and self-restraint at the core of the ethics of war, while mitigating tendencies toward political-radical interpretations. The study concludes that both tafsir works negotiate the sacred text with the realities of their respective periods, producing two variants of the Nusantara ethics of war: a Fiqh-normative variant and a cultural-preaching variant. Both contribute to the construction of a moderate discourse on jihad in Indonesian Islam. Keywords: Ethics of War; Nusantara Tafsir; Text-Reality Negotiation.   Abstrak Diskursus etika perang dalam Islam senantiasa berada pada titik negosiasi antara otoritas teks Al-Qur’an dan tuntutan realitas sosial-historis yang melingkupi seorang mufasir. Kajian tafsir Nusantara atas ayat-ayat perang masih terbatas dalam membandingkan karya tafsir klasik berbahasa Arab dengan karya tafsir vernakular berbahasa Jawa, sehingga dinamika lokal dalam konstruksi etika perang belum banyak terungkap. Penelitian ini bertujuan menganalisis negosiasi antara teks dan realitas dalam penafsiran ayat-ayat etika perang pada Tafsĭr Marāḥ Labĭd karya Syekh Nawawi al-Bantani dan Tafsĭr al-Iklĭl fĭ Ma‘ānĭ al-Tanzĭl karya KH. Misbah Mustafa, dengan fokus pada QS. al-Baqarah (2): 190–193 dan QS. al-Naḥl (16): 125–126. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan metode tafsir tematik (mauḍū‘ĭ) dan komparatif (muqāran). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Marāḥ Labĭd menafsirkan ayat-ayat perang dalam kerangka fikih klasik yang menonjolkan batas-batas normatif jihad defensif, sedangkan al-Iklĭl menafsirkannya dengan nuansa lokal Jawa yang menempatkan dakwah hikmah dan pengendalian diri sebagai inti etika perang, sembari meredam kecenderungan pemaknaan politis-radikal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kedua tafsir menegosiasikan teks suci dengan realitas zamannya masing-masing sehingga melahirkan dua varian etika perang Nusantara: varian fikih-normatif dan varian dakwah-kultural, yang keduanya berkontribusi bagi konstruksi wacana jihad yang moderat dalam Islam Indonesia. Kata Kunci: Etika Perang; Negosiasi Teks- Realitas; Tafsir Nusantara.