Muhammad Fahmi Rizkian
Indraprasta Pgri University

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Fusi Horizon dalam Seni Tutur Tradisional Betawi Rancag si Pitung: Studi Hermeneutik atas Transformasi Makna Tio Zulfan Amri; Muhammad Fahmi Rizkian; Jayakandi
Hortatori: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 10 No 1 (2026): Hortatori: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jh.v10i1.991

Abstract

Penelitian ini berjudul “Fusi Horizon dalam Seni Tutur Tradisional Betawi Rancag si Pitung: Studi Hermeneutik atas Transformasi Makna.” Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap proses transformasi makna yang terjadi dalam seni tutur tradisional Betawi Rancag si Pitung melalui pendekatan hermeneutik Hans-Georg Gadamer, khususnya konsep fusi horizon (Horizontverschmelzung). Rancag si Pitung sebagai salah satu bentuk seni tutur tradisional Betawi tidak hanya berfungsi sebagai hiburan rakyat, tetapi juga sebagai wahana penyampaian nilai-nilai sosial, moral, dan identitas budaya masyarakat Betawi. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis hermeneutik, yang menempatkan teks dan konteks Rancag si Pitung dalam dialog dengan horizon penutur, pendengar, dan peneliti. Proses fusi horizon antara tradisi lama dan pandangan masyarakat modern menjadi kunci dalam memahami perubahan makna tokoh si Pitung dari simbol perlawanan terhadap kolonialisme menuju ikon keadilan sosial dan kebanggaan identitas lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi makna Rancag si Pitung merupakan bukti kelenturan budaya Betawi dalam menafsirkan kembali tradisinya sesuai perkembangan zaman. Studi ini menegaskan bahwa hermeneutika Gadamer dapat menjadi kerangka teoritis yang relevan untuk memahami dinamika penafsiran seni tutur tradisional Indonesia. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan hermeneutika dapat menjadi kerangka konseptual yang efektif dalam mengungkap transformasi makna pada sastra lisan. Temuan ini juga memperkuat upaya pelestarian seni tutur Betawi melalui pembacaan yang kontekstual sehingga Rancag si Pitung tetap relevan sebagai media pendidikan budaya, identitas lokal, dan pembelajaran sastra di era kontemporer. Dengan demikian, pembelajaran sastra di sekolah menjadi lebih kontekstual, reflektif, dan berorientasi pada pelestarian budaya lokal.