The integration of computing technology and its widespread adoption by society has transformed online games from solitary and individualistic activities into socially embedded environments. This transformation is driven by institutional pressures that shape consumption behavior, while also eliciting varying levels of individual resistance. These patterns of social interaction are significantly influenced by demographic and individual playing characteristics. This study aims to examine how these characteristics affect consumption behavior in online games. Adopting principal component analysis and regression methods based on previous research, the study found that institutional influence is strongly associated with playing duration and the desire to become a professional player. Meanwhile, individual resistance is influenced by age, playing time, and the same desire. Conducted in Jakarta, the findings reveal that structural pressure is primarily shaped by playing characteristics, while resistance is affected by both demographics (specifically age) and individual playing characteristics. Abstrak Integrasi teknologi komputasi yang didukung oleh adopsi luas di masyarakat telah mengubah permainan daring dari aktivitas yang sebelumnya bersifat mandiri dan individualistis menjadi lingkungan yang melekat secara sosial. Transformasi ini didorong oleh tekanan institusional yang membentuk perilaku konsumsi, sekaligus memunculkan tingkat resistansi individu yang beragam. Pola interaksi sosial tersebut secara signifikan dipengaruhi oleh karakteristik demografis dan karakteristik bermain individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana karakteristik tersebut memengaruhi perilaku konsumsi dalam permainan daring. Dengan menggunakan analisis komponen utama (principal component analysis) dan regresi berdasarkan penelitian sebelumnya, studi ini menemukan bahwa pengaruh institusional sangat dipengaruhi oleh durasi bermain dan keinginan menjadi pemain profesional. Sementara itu, resistansi individu dipengaruhi oleh usia, durasi bermain, dan keinginan yang sama. Penelitian yang dilakukan di Jakarta ini menunjukkan bahwa tekanan struktural terutama dibentuk oleh karakteristik bermain, sedangkan resistansi dipengaruhi oleh demografi (khususnya usia) dan karakteristik bermain individu.