This study aims to analyze the preservation efforts of Sungai Lemau Batik undertaken by Kampung Batik Panca Mukti as an agent of local cultural preservation. The research employs a descriptive qualitative approach and was conducted in Panca Mukti Village, Pondok Kelapa District, Central Bengkulu Regency. Data were collected through non-participant observation, in-depth interviews, and documentation. The analysis is guided by Anthony Giddens’ structuration theory, particularly the concept of agency, which conceptualizes agents as social actors with reflexive capacities to reproduce and transform social structures. The findings indicate that the preservation of Sungai Lemau Batik is carried out through various strategies, including the maintenance of traditional production techniques, the use of natural materials, community-based batik training, the development of educational tourism, and promotion through social media, exhibitions, and bazaars. Batik artisans are not merely economic actors but also cultural agents who consciously maintain authenticity, philosophical values, and local cultural identity. Therefore, the preservation of Sungai Lemau Batik can be understood as the outcome of sustained and adaptive agential practices in response to ongoing socio-cultural dynamics. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis upaya pelestarian Batik Sungai Lemau yang dilakukan oleh Kampung Batik Panca Mukti sebagai agen pelestarian budaya lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan lokasi di Desa Panca Mukti, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah. Data dikumpulkan melalui observasi non-partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis penelitian mengacu pada teori strukturasi Anthony Giddens, khususnya konsep agensi yang memandang agen sebagai aktor sosial yang memiliki kapasitas reflektif dalam mereproduksi dan mentransformasikan struktur sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelestarian Batik Sungai Lemau dilakukan melalui berbagai strategi, antara lain mempertahankan teknik produksi tradisional, penggunaan bahan alami, pelatihan membatik bagi masyarakat, pengembangan wisata edukasi, serta promosi melalui media sosial, pameran, dan bazar. Pengrajin batik tidak hanya berperan sebagai pelaku ekonomi, tetapi juga sebagai agen kultural yang secara sadar menjaga keaslian, nilai filosofis, dan identitas budaya lokal. Dengan demikian, pelestarian Batik Sungai Lemau merupakan hasil dari praktik agensi yang berlangsung secara berkelanjutan dan adaptif dalam menghadapi dinamika sosial budaya.