Akhmad Jauhari
Universitas Gadjah Mada

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Peliyanan (Othering): Sebuah Praktik Kekerasan Kultural terhadap Perempuan Pekerja Migran Kabupaten Indramayu Jawa Barat Arifah Rahmawati; Dody Wibowo; Akhmad Jauhari; Nobertus Mario Baskoro
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v19i2.660

Abstract

This qualitative study examines othering as a form of cultural violence experienced by Indonesian women migrant workers. Othering is conceptualized as a social practice that constructs women as different and inferior, thereby producing stigma, labeling, and unequal gender relations, including among women themselves. Despite their significant contribution to household economies through remittances, women migrant workers continue to face degradation, suspicion, and social control both in their home communities and in destination countries. Data were collected through in-depth interviews with women migrant workers in three villages in Indramayu Regency, focus group discussions with non-migrant women, and field observations and documentation. The analysis centers on power relations, identity construction, and the control of knowledge and technology as key arenas through which othering operates. The findings demonstrate that othering functions through the normalization of stigma, social surveillance, and the restriction of access and agency, systematically lowering the social position of women migrant workers. Conceptually, this study affirms othering as a cultural mechanism that reproduces gender inequality in the context of labor migration. Abstrak Penelitian kualitatif ini menganalisis peliyanan atau othering sebagai bentuk kekerasan kultural yang dialami perempuan pekerja migran Indonesia. Peliyanan dipahami sebagai praktik sosial yang mengonstruksi perempuan sebagai pihak yang berbeda dan inferior sehingga melahirkan stigma, pelabelan, serta relasi gender yang timpang, termasuk di antara sesama perempuan. Meskipun remitansi mereka berkontribusi signifikan terhadap ekonomi keluarga, para pekerja migran tetap menghadapi perendahan martabat, kecurigaan, dan kontrol sosial di kampung asal maupun di negara tujuan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan perempuan pekerja migran di tiga desa di Kabupaten Indramayu, diskusi kelompok terarah dengan perempuan nonmigran, serta observasi dan dokumentasi lapangan. Analisis difokuskan pada relasi kuasa, konstruksi identitas, serta penguasaan pengetahuan dan teknologi sebagai arena kerja peliyanan. Temuan menunjukkan bahwa peliyanan beroperasi melalui normalisasi stigma, pengawasan sosial, dan pembatasan akses serta agensi yang secara sistemik menurunkan posisi sosial perempuan pekerja migran. Secara konseptual, penelitian ini menegaskan peliyanan sebagai mekanisme kultural yang mereproduksi ketimpangan gender dalam konteks migrasi kerja.