Spiritual ministry in the digital age takes place amid complex economic pressures and a culture of consumerism. Global economic transformation, labour market disruption, and the expansion of social media require ministers to balance their commitment to their spiritual calling with material challenges. This study aims to analyse the dynamics of clergy motivation in negotiating their calling and the lure of money amid economic challenges and the culture of digital visibility. This study uses a qualitative literature review method. It can be concluded that the temptation of money in ministry is a multi-layered phenomenon involving systemic, structural, and subjective dimensions, which the digital age reinforces through the culture of the visibility economy, performativity, and the monetisation of spiritual ministry. This dynamic often gives rise to narratives of justification that shift the meaning of blessings from the spiritual dimension to material legitimacy, thereby significantly affecting ministry motivation and congregational well-being. Therefore, intervention strategies are needed that emphasise deep spiritual formation, transparent accountability systems, and critical digital literacy so that servants of God remain faithful to their divine calling amid economic and digital cultural pressuresAbstrakPelayanan rohani di era digital berlangsung di tengah tekanan ekonomi dan budaya konsumtif yang kompleks. Transformasi ekonomi global, disrupsi pasar kerja, dan ekspansi media sosial menuntut hamba Tuhan untuk menyeimbangkan kesetiaan pada panggilan rohani dengan tantangan materi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika motivasi hamba Tuhan dalam menegosiasikan panggilan dan godaan uang di tengah tantangan ekonomi dan budaya visibilitas digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif studi pustaka. Maka dapat disimpulkan bahwa godaan uang dalam pelayanan merupakan fenomena bertingkat yang melibatkan dimensi sistemik, struktural, dan subjektif, di mana era digital turut memperkuatnya melalui budaya visibility economy, performativitas, dan monetisasi pelayanan rohani. Dinamika ini sering kali melahirkan narasi pembenaran yang menggeser makna berkat dari dimensi spiritual menuju legitimasi material, sehingga memengaruhi motivasi pelayanan dan kesejahteraan jemaat secara nyata. Karena itu, diperlukan strategi intervensi yang menekankan formasi rohani yang mendalam, sistem akuntabilitas yang transparan, serta literasi digital yang kritis agar hamba Tuhan tetap setia pada panggilan ilahi di tengah tekanan ekonomi dan budaya digital.