Asfiksia neonatorum yaitu kondisi di mana bayi baru lahir mengalami kesulitan bernapas secara normal dan teratur setelah proses kelahiran. Angka kejadian Asfiksia pada tahun 2022 sebanyak 83 bayi dari 698 (11,7%) persalinan dan meningkat di tahun 2023 sebanyak 100 bayi dari 741 (13,4%) persalinan. Asfiksia neonatorum jika tidak ditangani dengan tepat, dapat mengakibatkan kegagalan fungsi berbagai organ tubuh. Keadaan ini bisa dihindari dengan mengelola faktor risiko pada ibu dan bayi selama kehamilan dan persalinan. Salah satu penyebab asfiksia neonatorum ialah ketuban pecah dini (KPD). KPD terjadi ketika kantung berisi cairan yang mengelilingi bayi dalam rahim pecah sebelum waktunya melahirkan tiba. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara kejadian KPD dan kejadian asfikisa. Penelitian ini menggunakan pendekatan Cross Sectional dengan memanfaatkan data skunder. Sampel penelitian ini adalah 260 ibu bersalin yang ada di RSUD DKH Balangan tahun 2023 yang dipilih berdasarkan random sampling dan dianalisis dengan uji chi-square. Hasil penelitian mengindikasikan dari total 48 bayi, ada 5 (10,4%) yang mengalami KPD dan 43 (89,6%) tidak mengalami KPD. Hasil uji statistic antara kejadian asfiksia neonatorum dan kejadian KPD didapatkan hasil uji chi-squarep value= 0,994>0.05, maka tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian KPD dan kejadian asfiksia neonatorum di RSUD Datu Kandang Haji Balangan tahun 2023. Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kejadian KPD dan kejadian asfiksia neonatorum di RSUD Datu Kandang Haji Balangan tahun 2023.