Early childhood is a foundational stage for internalizing spiritual, moral, and social values, yet prayer instruction in Christian early childhood education often emphasizes memorization, leaving prayer disconnected from children’s everyday conduct. This article examines how reflection on the Lord’s Prayer (Matt. 6:9–13) can contribute to Pancasila-based character formation through the eight Graduate Profile dimensions of the Regulation of the Minister of Primary and Secondary Education No. 10 of 2025. The study employs a qualitative, literature-based design combining a historical-grammatical reading of the prayer within the Sermon on the Mount with descriptive-interpretive content analysis of national education policy and relevant research. The findings show that the petitions form a coherent sequence of values, including trust, reverence, obedience, gratitude, contentment, honesty, forgiveness, self-control, vigilance, and solidarity, converging with all eight dimensions while providing theological grounding and formative direction. The study proposes a petition-based reflective framework guiding children through knowing, experiencing, and practicing these values through storytelling, guided dialogue, play, role-play, adult modeling, and habituation involving school, family, and church. The framework complements, rather than replaces, the inclusive language of the national standard and requires empirical testing in early childhood classrooms. Abstrak Pendidikan anak usia dini merupakan tahap fundamental dalam proses internalisasi nilai-nilai spiritual, moral, dan sosial. Namun, pembelajaran doa dalam pendidikan anak usia dini Kristen masih sering menekankan aspek hafalan, sehingga doa berisiko terlepas dari perilaku dan kehidupan sehari-hari anak. Artikel ini mengkaji bagaimana refleksi terhadap Doa Bapa Kami (Mat. 6:9–13) dapat berkontribusi terhadap pembentukan karakter berbasis Pancasila melalui delapan dimensi Profil Lulusan sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 10 Tahun 2025. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan memadukan pembacaan historis-gramatikal terhadap Doa Bapa Kami dalam konteks Khotbah di Bukit dan analisis isi deskriptif-interpretatif terhadap kebijakan pendidikan nasional serta penelitian yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap permohonan dalam Doa Bapa Kami membentuk rangkaian nilai yang koheren, meliputi kepercayaan, penghormatan, ketaatan, rasa syukur, kecukupan, kejujuran, pengampunan, pengendalian diri, kewaspadaan, dan solidaritas. Nilai-nilai tersebut memiliki titik temu dengan kedelapan dimensi Profil Lulusan sekaligus memberikan landasan teologis dan arah formatif bagi pembentukan karakter. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini menawarkan kerangka reflektif berbasis permohonan doa yang membimbing anak melalui proses mengetahui, mengalami, dan mempraktikkan nilai-nilai tersebut melalui kegiatan bercerita, dialog terbimbing, bermain, bermain peran, keteladanan orang dewasa, serta pembiasaan yang melibatkan sekolah, keluarga, dan gereja. Kerangka ini dimaksudkan untuk melengkapi, bukan menggantikan, bahasa inklusif yang digunakan dalam standar nasional, serta masih memerlukan pengujian empiris dalam konteks pembelajaran anak usia dini. Kata kunci: Doa Bapa Kami; pembentukan karakter berbasis Pancasila; pembentukan spiritual; pendidikan anak usia dini Kristen; refleksi berbasis permohonan doa