The congregation of GKSI Anugerah Padang faces the challenge of a limited connection between church worship and the local Minangkabau culture. This condition requires a contextual faith approach so that congregational spirituality becomes more relevant to everyday life. The purpose of this program is to revitalize congregational spirituality through faith formation based on contextual liturgy and reflection. The implementation method involved joint planning with pastors and members, the execution of three sessions (faith awareness, contextual worship, reflection–evaluation), as well as participatory observation and interviews. The results indicate that active congregational involvement reached 69–75%, with improvements in faith awareness, spiritual engagement through local culture, and the emergence of a commitment to follow-up actions. The contribution of this program lies in presenting a model of contextual faith ministry that can be replicated in other congregations with cultural adjustments, while also encouraging sustainable formation through small groups. Keywords: congregational spirituality; contextual; faith awareness; faith formation; local culture Abstrak Pelayanan jemaat di GKSI Anugerah Padang menghadapi tantangan rendahnya keterhubungan antara ibadah gereja dan budaya lokal Minangkabau. Kondisi ini menuntut pendekatan iman kontekstual agar spiritualitas jemaat lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari. Tujuan program pengabdian ini adalah merevitalisasi spiritualitas jemaat melalui pembinaan iman berbasis liturgi dan refleksi kontekstual. Metode pelaksanaan mencakup perencanaan bersama gembala dan jemaat, implementasi tiga sesi (kesadaran iman, ibadah kontekstual, refleksi–evaluasi), serta observasi partisipatif dan wawancara. Hasil menunjukkan keterlibatan aktif jemaat mencapai 69–75%, dengan peningkatan kesadaran iman, penghayatan spiritualitas melalui budaya lokal, serta munculnya komitmen untuk tindak lanjut. Kontribusi program ini terletak pada model pelayanan iman kontekstual yang dapat direplikasi di jemaat lain dengan penyesuaian budaya, sekaligus mendorong keberlanjutan pembinaan melalui kelompok kecil. Kata Kunci: budaya lokal; kesadaran iman; kontekstual; pembinaan iman; spiritualitas jemaat