The Independent Learning Curriculum (Kurikulum Merdeka) in Indonesia reflects a shift in education toward a holistic understanding of human life and existence, which resonates with the philosophical tenets of Martin Heidegger’s ontology. This paper conducts an intellectual and existential analysis of the Kurikulum Merdeka to address the persistent theory–practice gap in educational management. Although the curriculum promotes flexibility and student-centered learning, its implementation continues to face several challenges, including disparities in resources, unclear operational guidelines, and the persistent dominance of quantitative evaluation methods. Heideggerian ontology offers a crucial existential dimension by viewing the student as Dasein, a being conscious of its presence and meaning in the world, and by understanding education as a process of becoming an authentic human being rather than merely a means of career preparation. By bringing these perspectives together, educational management can move beyond a mechanistic paradigm. Educational administrators can integrate data-based accountability informed by positivism, accommodate contextual plurality associated with postmodernism, and cultivate existential reflection grounded in Heideggerian ontology. The analysis shows that Heidegger’s emphasis on authentic understanding, contextual awareness, and experiential learning provides a necessary framework to ensure that the Kurikulum Merdeka is implemented as a transformative praxis that liberates individuals and addresses a profound philosophical gap in educational policy. Abstrak Kurikulum Merdeka di Indonesia mencerminkan pergeseran pendidikan menuju pemahaman yang lebih holistik mengenai kehidupan dan eksistensi manusia, yang memiliki kesesuaian dengan prinsip-prinsip filosofis ontologi Martin Heidegger. Artikel ini melakukan analisis intelektual dan eksistensial terhadap Kurikulum Merdeka untuk menjawab kesenjangan teoretis dan praktis yang masih berlangsung dalam manajemen pendidikan. Meskipun kurikulum ini mendorong fleksibilitas dan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk kesenjangan sumber daya, ketidakjelasan pedoman operasional, serta dominasi metode evaluasi yang bersifat kuantitatif. Ontologi Heidegger menawarkan dimensi eksistensial yang penting dengan memandang peserta didik sebagai Dasein, yaitu keberadaan yang menyadari kehadiran dan makna dirinya di dalam dunia, serta memahami pendidikan sebagai proses menjadi manusia yang autentik, bukan sekadar sarana mempersiapkan karier. Dengan mempertemukan kedua perspektif tersebut, manajemen pendidikan dapat bergerak melampaui paradigma mekanistik. Pengelola pendidikan dapat mengintegrasikan akuntabilitas berbasis data yang dipengaruhi positivisme, mengakomodasi pluralitas kontekstual yang berkaitan dengan postmodernisme, serta mengembangkan refleksi eksistensial yang berlandaskan ontologi Heidegger. Analisis ini menunjukkan bahwa penekanan Heidegger pada pemahaman autentik, kesadaran kontekstual, dan pembelajaran berbasis pengalaman menyediakan kerangka yang diperlukan untuk memastikan bahwa Kurikulum Merdeka diterapkan sebagai praksis transformatif yang membebaskan individu sekaligus menjawab kesenjangan filosofis yang mendalam dalam kebijakan pendidikan.