Asia Tenggara menghadapi krisis sampah yang mendesak, terutama di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina, yang mengancam konsekuensi lingkungan, ekosistem, dan kesehatan masyarakat yang parah. Tanpa kebijakan pengelolaan sampah yang komprehensif, kondisi memburuk secara signifikan. Penelitian ini mengeksplorasi studi kebijakan pengelolaan sampah dengan lensa bibliometrik di empat negara Asia Tenggara: Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Filipina. Menggunakan basis data Scopus, yang didukung oleh perangkat lunak VOSViewer dan paket studio bibliometrix-R, penelitian ini memberikan visualisasi yang presisi. Temuan mengungkapkan bahwa empat negara menunjukkan tren peningkatan namun berfluktuasi dalam jumlah publikasi, dengan Indonesia muncul sebagai kontributor utama dalam beberapa tahun terakhir. Lebih lanjut, dokumen terbanyak yang dipelajari oleh akademisi, dokumen dengan dampak tertinggi, dan dokumen terbanyak dalam sumber jurnal juga dibahas. Dua afiliasi di Malaysia merupakan afiliasi terkemuka, diikuti oleh dua afiliasi dari Thailand. Lebih lanjut, ilmu lingkungan dan ilmu sosial merupakan bidang minat para akademisi. Pemetaan lintasan jaringan istilah dan peta tematik disertakan secara komprehensif. Singkatnya, Indonesia berjuang keras melawan sampah plastik untuk meminimalkan perubahan iklim, sementara Malaysia berfokus pada penanggulangan emisi sampah dan sampah rumah tangga. Filipina berupaya meningkatkan kesadaran tentang masalah mikroplastik di lautan dan mendorong kesadaran publik tentang pengelolaan sampah. Thailand membutuhkan perhatian untuk mendanai peralatan pengelolaan sampah, menerapkan solusi ramah lingkungan, dan merevisi aturan pengelolaan sampah. Implikasinya menggarisbawahi kompleksitas baru permasalahan sampah di Asia Tenggara, yang membutuhkan strategi dan solusi yang disesuaikan untuk mengatasi tantangan dan permasalahan sampah di setiap negara. Penelitian terkini berkontribusi pada kondisi pengetahuan yang ada dengan memberikan pandangan yang terurai tentang kebijakan pengelolaan sampah nasional di negara-negara tersebut. Penelitian ini juga menyoroti potensi titik-titik kunci di masa depan untuk intervensi yang terarah dan alokasi sumber daya; dengan demikian, kebijakan dan kolaborasi di masa depan dalam pengelolaan sampah mungkin akan menjadi lebih efektif dan berdampak.