Naufal Qanito Widadyaji Suhardi
Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Integrasi Budaya Etnis Tionghoa dan Jawa melalui Grebeg Sudiro: Harmonisasi Multikultural di Surakarta Naufal Qanito Widadyaji Suhardi; Harun Joko Prayitno
Jurnal Keilmuan dan Keislaman Vol. 4, No. 2, Juni 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jkk.v4i2.568

Abstract

Grebeg Sudiro di Surakarta merupakan perayaan akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa yang mencerminkan harmonisasi dalam keberagaman. Perayaan ini menjadi simbol integrasi sosial sekaligus media pelestarian tradisi di tengah dinamika globalisasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk integrasi budaya dalam Grebeg Sudiro serta dampaknya terhadap penguatan identitas lokal, kohesi sosial, dan keberlanjutan tradisi multikultural. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap dua informan kunci (tokoh masyarakat dan pemimpin Klenteng), observasi lapangan, serta analisis dokumen pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi budaya Tionghoa-Jawa di Surakarta telah berlangsung sejak abad ke-18 melalui interaksi intensif di bidang ekonomi dan sosial. Meskipun sempat mengalami ketegangan pada masa kolonial akibat kebijakan diskriminatif, hubungan kedua etnis membaik pasca kemerdekaan. Grebeg Sudiro menjadi simbol kolaborasi multietnis, dengan prosesi seperti gunungan kue keranjang dan pawai budaya yang memadukan unsur Tionghoa dan Jawa. Perayaan ini tidak hanya memperkuat identitas lokal, tetapi juga menjadi sarana resolusi konflik historis melalui toleransi antarbudaya. Grebeg Sudiro berperan sebagai alat diplomasi kultural yang mendorong kohesi sosial, pariwisata lokal, dan penghargaan terhadap keberagaman. Temuan ini merekomendasikan perlunya sinergi pemerintah dan masyarakat dalam mempertahankan tradisi serupa sebagai model integrasi di kota multietnis.