Globalisasi dan modernisasi Barat telah mempengaruhi aspek pendidikan Islam, termasuk dalam memaknai hadis sebagai entitas keagamaan. Seperti penafsiran terhadap tradisi adab dan praktik tabarruk di pesantren yang kerap dikaitkan dengan feodalisme, Pandangan tersebut muncul akibat tradisi adab dan praktik tabarruk santri terhadap kyai yang dinilai sebuah ketimpangan sosial oleh sebagian publik. Berdasarkan fenomena tersebut, penelitian ini memiliki tujuan mengkaji ulang hadis-hadis tentang adab dan tabarruk melalui kitab-kitab hadis serta menggunakan pendekatan hermeneutika Yusuf al-Qardawi guna menyikapi feodalisme pesantren. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah deskriptif-analitis: deskriptif guna menjelaskan landasan teoretis hadis-hadis tabarruk, dan analitis guna menafsirkan ulang hadis adab dan tabarruk melalui perspektif hermeneutika Yusuf al-Qardawi. Analisis tekstual penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan library research dari sumber akademik yang tervalidasi seperti kitab hadis, buku, dan artikel ilmiah. Rumusan masalah dalam penelitian ini mencakup: (1) bagaimana konsep adab dan tabarruk dipahami di dalam dunia pendidikan pesantren?, dan (2) bagaimana reinterpretasi metode hermeneutika Yusuf al-Qardawi dapat menghadirkan pemahaman baru terhadap hadis-hadis tabarruk?. Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa adab dan tabarruk (ngalap barokah) di pesantren adalah simbol spiritual dan juga sarana pendekatan terhadap agama melalui penghormatan, khidmah, dan kedekatan santri terhadap kyai. Kesimpulan penelitian ini ialah praktik tabarruk memiliki akar kuat dalam tradisi Islam yang diwujudkan melalui perilaku adab yang menghubungkan ilmu, amal, dan spiritualitas di dalam tradisi pesantren. Pesantren juga menjadi lembaga yang menjaga berbagai warisan nilai ajaran pendidikan Islam di tengah arus zaman modern hingga saat ini.