Kekerasan dalam hubungan pacaran merupakan fenomena yang semakin mengkhawatirkan, khususnya pada perempuan dewasa awal. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika psikologis perempuan korban kekerasan dalam hubungan pacaran di Kota Sorong. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Partisipan dipilih melalui purposive sampling dengan kriteria perempuan berusia 18–40 tahun, berstatus mahasiswi, dan pernah atau sedang mengalami kekerasan dalam pacaran. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, keterangan significant other, serta tes psikologi Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI). Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, dengan triangulasi untuk menjaga keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika psikologis korban terbentuk melalui tiga pola utama. Pertama, keterikatan emosional dalam siklus kekerasan (cycle of violence) yang memunculkan trauma bonding. Kedua, distorsi kognitif berupa self-blame, normalisasi kekerasan, dan keyakinan terhadap perubahan pasangan yang berkontribusi pada learned helplessness. Ketiga, respons perilaku sebagai strategi bertahan yang berkembang menjadi maladaptif dan menyebabkan hilangnya agency. Selain itu, pengalaman kekerasan masa lalu dan rendahnya dukungan sosial memperkuat keterjebakan korban, sementara dukungan sosial menjadi faktor penting dalam proses pemulihan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dinamika psikologis korban bersifat kompleks dan melibatkan interaksi aspek afektif, kognitif, dan konatif. Oleh karena itu, intervensi perlu dilakukan secara komprehensif dengan menekankan pemulihan emosional, restrukturisasi kognitif, penguatan agency, serta dukungan sosial.