Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi makna nasionalisme dalam lirik lagu Mawtini dan Bagimu Negeri melalui perspektif semiotik serta membandingkan representasi nasionalisme dalam konteks budaya yang berbeda. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis semiotik struktural Ferdinand de Saussure yang dipadukan dengan konsep semiotika Riffaterre. Data penelitian berupa kata, frasa, dan ungkapan dalam kedua lirik yang dianalisis berdasarkan hubungan penanda dan petanda, ketidaklangsungan ekspresi, pembacaan heuristik dan hermeneutik, matriks, model, varian, serta hipogram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua lagu menggunakan ketidaklangsungan ekspresi melalui penggantian arti, penyimpangan arti, dan penciptaan arti untuk membangun makna nasionalisme. Mawtini mengonstruksi nasionalisme melalui simbol tanah air, kebebasan, perjuangan, dan martabat bangsa, sedangkan Bagimu Negeri menekankan negara, janji, pengabdian, loyalitas, dan pengorbanan. Pembacaan heuristik dan hermeneutik menunjukkan transformasi makna dari tingkat literal menuju makna simbolik dan ideologis. Analisis hipogram menunjukkan bahwa perbedaan konstruksi tersebut berkaitan dengan latar sosial dan historis masing-masing lagu. Secara komparatif, Mawtini merepresentasikan nasionalisme yang cenderung emansipatoris melalui perjuangan dan pembebasan, sedangkan Bagimu Negeri merepresentasikan nasionalisme yang cenderung devosional melalui pengabdian dan loyalitas kepada negara. Penelitian ini menegaskan bahwa lagu patriotik tidak hanya merefleksikan nilai nasionalisme, tetapi juga berperan sebagai medium semiotik dalam membentuk identitas dan kesadaran kolektif lintas budaya.