Listya Hanum Siswanti
Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Ekstrak Buah Pare (Momordica charantia L) terhadap Histopatologi Jantung pada Mencit Hiperglikemia yang Diinduksi Aloksan Putri 'Aqiilah Fitriana; Maya Tejasari; Listya Hanum Siswanti
Bandung Conference Series: Medical Science 25-32
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22056

Abstract

Abstract. Chronic hyperglycemia is a metabolic condition that can lead to various complications, including myocardial damage caused by persistent oxidative stress and inflammatory processes. One experimental method commonly used to induce hyperglycemia is alloxan administration, which is toxic to pancreatic β-cells and results in elevated blood glucose levels. Bitter melon (Momordica charantia L.) contains several bioactive compounds such as flavonoids, saponins, and charantin, which exhibit antidiabetic and antioxidant activities and therefore may exert protective effects on cardiac tissue. This study aimed to analyze the effect of bitter melon extract on cardiac histopathological changes in alloxan-induced hyperglycemic mice. This study was an in vivo experimental study using a post-test only control group design. Male Balb/C mice (Mus musculus) were divided into six groups: a normal group, a negative control group (hyperglycemia), a positive control group (metformin), and three treatment groups receiving bitter melon extract at doses of 10.5 mg/kgBW, 21 mg/kgBW, and 42 mg/kgBW. Cardiac histopathological parameters evaluated included the area of inflammatory cell infiltration and the extent of myocardial striation loss, assessed on hematoxylin-eosin–stained heart tissue sections. The results demonstrated that administration of bitter melon extract reduced inflammatory cell infiltration and can repair myocardial striation loss compared with the hyperglycemic control group. Improvements in cardiac histopathological features were more pronounced with increasing doses of the extract. In conclusion, bitter melon (Momordica charantia L.) extract shows potential protective effects against hyperglycemia-induced cardiac histopathological damage in alloxan-induced mice. Abstrak. Hiperglikemia kronis merupakan kondisi metabolik yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi, termasuk kerusakan miokardium akibat stres oksidatif dan proses inflamasi yang berkelanjutan. Salah satu metode untuk menimbulkan kondisi hiperglikemia secara eksperimental adalah melalui induksi aloksan, yang bersifat toksik terhadap sel β pankreas sehingga menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah. Buah pare (Momordica charantia L.) diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, dan charantin yang memiliki aktivitas antidiabetik serta antioksidan, sehingga berpotensi memberikan efek protektif terhadap jaringan jantung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian ekstrak buah pare terhadap gambaran histopatologi jantung pada mencit hiperglikemia yang diinduksi aloksan. Penelitian ini merupakan studi eksperimental in vivo dengan desain post-test only control group. Subjek penelitian menggunakan mencit jantan (Mus musculus) galur Balb/C yang dibagi menjadi enam kelompok, yaitu kelompok normal, kelompok kontrol negatif (hiperglikemia), kelompok kontrol positif (metformin), serta tiga kelompok perlakuan yang diberikan ekstrak buah pare dengan dosis 10,5 mg/kgBB, 21 mg/kgBB, dan 42 mg/kgBB. Parameter histopatologi jantung yang diamati meliputi luas infiltrasi sel radang dan luas hilangnya striated miokardium pada preparat jaringan jantung dengan pewarnaan hematoksilin-eosin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak buah pare mampu memperbaiki luas infiltrasi sel radang dan luas hilangnya striated miokardium dibandingkan dengan kelompok kontrol hiperglikemia. Perbaikan gambaran histopatologi jantung tampak lebih optimal pada kelompok dengan dosis ekstrak yang lebih tinggi. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak buah pare (Momordica charantia L.) berpotensi memberikan efek protektif terhadap kerusakan histopatologi jantung pada kondisi hiperglikemia yang diinduksi aloksan.
Karakteristik Pasien Diabetik Polineuropati di Rumah Sakit Umum Daerah di Jawa Barat Zahra Pratiwi Nurhaliza; Nuzirwan Acang; Listya Hanum Siswanti
Bandung Conference Series: Medical Science 239-246
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22130

Abstract

Abstract. Type 2 diabetes mellitus with polyneuropathy can reduce quality of life, increase disability, and elevate economic burden. The rising prevalence of polyneuropathy is accompanied by changes in patient characteristics. Therefore, this study aimed to determine the prevalence of complications and describe the demographic and clinical characteristics of patients in a regional public hospital in West Java. This cross-sectional study used medical record data from 340 patients in the 2023–2024 period, selected through simple random sampling based on inclusion and exclusion criteria. The analyzed variables included age, sex, fasting blood glucose (FBG), 2-hour postprandial glucose (2h-PPG), and HbA1c levels. The results showed a diabetic polyneuropathy prevalence of 15.11% among all T2DM patients. Most patients were female with an average age of 54–55 years. The mean FBG ranged from 167–184 mg/dL (N: 70–100 mg/dL), mean 2h-PPG was approximately 244–245 mg/dL (N: <180 mg/dL), and the average HbA1c ranged from 9.4–9.8% (N: <5.7%), indicating poor glycemic control. These findings suggest that diabetic polyneuropathy is more common in older patients, women, and individuals with chronic hyperglycemia due to suboptimal metabolic control. Early intervention and intensive glycemic management are essential to prevent progression and complications. Abstrak. Diabetes melitus tipe 2 dengan komplikasi polineuropati dapat menurunkan kualitas hidup, disabilitas, serta peningkatan beban ekonomi. Prevalensi polineuropati yang meningkat disertai dengan perubahan karakteristik pasien. Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi komplikasi serta menggambarkan karakteristik demografis dan klinis pasien di salah satu rumah sakit umum daerah di Jawa Barat. Desain penelitian ini menggunakan cross-sectional berdasarkan data rekam medis dari 340 pasien pada periode 2023–2024 dengan teknik simple random sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel yang dianalisis meliputi usia, jenis kelamin, kadar gula darah puasa (GDP), gula darah dua jam setelah makan (GD2PP), dan HbA1C. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi polineuropati diabetik sebesar 15,11% dari seluruh pasien DMT2. Mayoritas pasien berusia rata-rata 54–55 tahun dan berjenis kelamin perempuan. Rerata GDP berkisar antara 167–184 mg/dL (N: 70–100 mg/dL), nilai GD2PP sekitar 244–245 mg/dL (N: <180 mg/dL), dan HbA1C memiliki nilai rata-rata 9,4–9,8% (N: <5,7%), yang menggambarkan kontrol glikemik yang buruk. Temuan ini menunjukkan bahwa polineuropati diabetik lebih banyak terjadi pada pasien usia lanjut, perempuan, serta individu dengan hiperglikemia kronis akibat pengendalian metabolik yang tidak optimal. Penanganan dini dan pengelolaan glikemik secara intensif diperlukan untuk mencegah progresivitas dan dampak komplikasi.