Abstract. Sedentary lifestyles accompanied by increased consumption of high-fat diets (HFD) significantly contribute to the development of metainflammation, which can trigger various gastrointestinal disorders, including gastritis. This study aimed to analyze the effect of water intermittent fasting on the degree of inflammation in the gastric mucosa of mice (Mus musculus) fed a high-fat diet. An experimental study with a post-test only controlled group design was conducted using 24 paraffin-embedded gastric tissue samples of mice. The samples were divided into four groups: standard diet without fasting, high-fat diet without fasting, standard diet with water intermittent fasting, and high-fat diet with water intermittent fasting. The fasting intervention followed a 14:10 fasting-to-feeding pattern for 30 days. Histopathological evaluation was performed on Hematoxylin–Eosin-stained slides using the Updated Sydney classification system. Statistical analysis using Spearman’s correlation revealed a significant negative correlation between water intermittent fasting and the degree of gastric inflammation (r = −0.577; p = 0.006). Inflammatory cell infiltration was observed only in the high-fat diet group without fasting, whereas no inflammatory changes were detected in all fasting groups. In conclusion, water intermittent fasting effectively reduces the degree of gastric mucosal inflammation induced by a high-fat diet, potentially through the activation of the AMPK pathway and enhancement of autophagy. Abstrak. Konsumsi diet tinggi lemak (HFD) telah menjadi tren seiring gaya hidup sedenter, yang memicu kondisi metainflamasi dan kerusakan mukosa lambung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh puasa intermiten air terhadap derajat inflamasi mukosa lambung mencit (Mus musculus) yang diberi pakan tinggi lemak. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan rancangan post-test only controlled group design menggunakan 24 bahan biologi tersimpan (BBT) berupa parafin blok jaringan lambung mencit. Sampel terbagi menjadi empat kelompok: pakan standar tanpa puasa, pakan tinggi lemak tanpa puasa, pakan standar dengan puasa (pola 14:10), dan pakan tinggi lemak dengan puasa. Pengamatan histopatologi dilakukan pada preparat dengan pewarnaan Hematoksilin–Eosin menggunakan sistem klasifikasi New Sydney. Hasil uji Spearman correlation menunjukkan adanya korelasi negatif yang signifikan (r = -0,577; p = 0,006) antara penerapan puasa air dan derajat inflamasi. Infiltrasi sel inflamasi hanya ditemukan pada kelompok pakan tinggi lemak tanpa puasa, sedangkan kelompok yang menjalani puasa tidak menunjukkan inflamasi. Disimpulkan bahwa puasa intermiten air berpotensi memberikan efek protektif dengan menekan respons inflamasi pada mukosa lambung akibat diet tinggi lemak melalui mekanisme aktivasi jalur AMPK dan autofagi.