Amelia Dwi Heryani
Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Stresor dan Tingkat Kecemasan Pada Perawat di RS Bhayangkara TK II Sartika Asih Bandung Salma Adelia; Mieke Hermiawati Satari; Amelia Dwi Heryani
Bandung Conference Series: Medical Science 893-898
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22418

Abstract

Abstract. Nurses play an essential role in healthcare services but are highly vulnerable to occupational stressors that may lead to anxiety. This study aimed to determine the relationship between work stressors and anxiety levels among nurses at Bhayangkara TK II Sartika Asih Hospital, Bandung. A quantitative study with a cross-sectional design was conducted involving 64 nurses selected through purposive sampling based on inclusion and exclusion criteria. Work stressors were measured using the Stress Diagnostic Survey (SDS), while anxiety levels were assessed using the Hospital Anxiety and Depression Scale–Anxiety (HADS-A). Data were analyzed using univariate analysis and Spearman rank correlation test. The results showed that most respondents experienced severe anxiety. The Spearman test revealed a statistically significant relationship between work stressors and anxiety levels (r = 0.315; p = 0.011), indicating a positive correlation with weak strength. This finding suggests that higher exposure to work-related stressors tends to be associated with increased anxiety among nurses. Although the correlation is weak, work stressors remain an important contributing factor to psychological distress. Therefore, effective stress management strategies and psychosocial support are essential to maintain nurses’ mental well-being and to improve the quality of healthcare services. Abstrak. Perawat merupakan tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam pelayanan kesehatan, namun juga rentan terhadap paparan stresor kerja yang berpotensi menimbulkan kecemasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stresor kerja dan tingkat kecemasan pada perawat di RS Bhayangkara TK II Sartika Asih Bandung. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 64 perawat yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Pengukuran stresor kerja dilakukan menggunakan kuesioner Stress Diagnostic Survey (SDS), sedangkan tingkat kecemasan diukur menggunakan Hospital Anxiety and Depression Scale–Anxiety (HADS-A). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kategori kecemasan berat. Uji Spearman menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara stresor kerja dan tingkat kecemasan dengan nilai r = 0,315 dan p = 0,011, yang menunjukkan hubungan positif dengan kekuatan lemah. Artinya, semakin tinggi tingkat stresor kerja yang dialami perawat, maka kecenderungan tingkat kecemasan juga semakin meningkat. Temuan ini menunjukkan bahwa stresor kerja merupakan salah satu faktor penting yang berperan dalam munculnya kecemasan, meskipun bukan satu-satunya faktor penentu. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengelolaan stres kerja serta dukungan psikososial yang memadai untuk menjaga kesehatan mental perawat dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
Perbedaan Tingkat Kelelahan Berdasarkan Sif kerja pada Pekerja Pabrik Kapur X Nabiel Suryopandu Hartono; Ieva Baniasih Akbar; Amelia dwi Heryani
Bandung Conference Series: Medical Science 1101-1108
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22494

Abstract

Abstract. Shift work systems in industries operating 24 hours, such as limestone factories, have the potential to cause work fatigue due to misalignment with circadian rhythms, particularly during night shifts. Work fatigue is an important risk factor for decreased work performance and occupational safety. This study aimed to analyze differences in work fatigue levels based on work shifts among workers at limestone factory X. A descriptive-analytic study with a cross-sectional design was conducted among 42 blue-collar workers in the production division, consisting of 22 morning-shift workers and 20 night-shift workers. Work fatigue levels were measured using the Subjective Self Rating Test (SSRT) questionnaire. Statistical analysis was performed using the Mann–Whitney test. In the morning shift, low and moderate fatigue were equally distributed (50%), whereas the night shift was predominantly characterized by moderate (70%) and high (30%) fatigue levels. A significant difference in work fatigue levels was found between morning and night shifts (p < 0.001), with higher fatigue observed among night-shift workers. Night shift work is associated with higher levels of work fatigue compared to morning shifts. These findings highlight the importance of effective shift work management to prevent increased fatigue among night-shift workers.Abstrak. Sistem sif kerja pada industri yang beroperasi 24 jam, seperti pabrik kapur, berpotensi menimbulkan kelelahan kerja akibat ketidaksesuaian dengan irama sirkadian, terutama pada sif malam. Kelelahan kerja merupakan faktor risiko penting terhadap penurunan kinerja dan keselamatan kerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan tingkat kelelahan kerja berdasarkan sif kerja pada pekerja pabrik kapur X. Penelitian deskriptif analitik dengan desain cross-sectional dilakukan pada 42 pekerja blue-collar divisi produksi, terdiri dari 22 pekerja sif pagi dan 20 pekerja sif malam. Tingkat kelelahan kerja diukur menggunakan kuesioner Subjective Self Rating Test (SSRT). Analisis statistik menggunakan uji Mann–Whitney. Pada sif pagi, kelelahan rendah dan sedang memiliki proporsi yang sama (50%), sedangkan pada sif malam didominasi kelelahan sedang (70%) dan tinggi (30%). Terdapat perbedaan tingkat kelelahan kerja antara sif pagi dan sif malam (p < 0,001) yang menunjukan tingkat kelelahan lebih tinggi pada sif malam. Sif kerja malam berhubungan dengan tingkat kelelahan kerja yang lebih tinggi dibandingkan sif pagi. Temuan ini memperlihatkan pentingnya pengelolaan sif kerja untuk mencegah kelelahan yang lebih tinggi pada pekerja sif malam.