Keterlambatan proyek konstruksi masih menjadi permasalahan dominan dalam industri konstruksi, yang secara signifikan berkontribusi terhadap peningkatan biaya tidak langsung, penurunan produktivitas, serta potensi klaim kontraktual. Pada proyek infrastruktur utilitas, seperti jaringan air bersih dan air limbah, kompleksitas koordinasi antar aktivitas serta keterbatasan ruang kerja memperbesar risiko keterlambatan dibandingkan proyek konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis durasi dan biaya proyek pada kondisi normal,(2) mengevaluasi efektivitas metode crashing, (3) mengevaluasi metode overlapping, dan (4) menentukan alternatif percepatan yang paling optimal berdasarkan analisis time–cost trade-off. Analisis dilakukan melalui identifikasi aktivitas pada jalur kritis menggunakan Precedence Diagram Method (PDM), yang kemudian dilanjutkan dengan simulasi percepatan pada aktivitas kritis tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa durasi proyek pada kondisi normal adalah 180 hari dengan total biaya sebesar Rp50.630.500.000,00. Penerapan metode crashing (lembur 3 jam dan tambahan 15 tenaga kerja) mempercepat durasi menjadi 133 hari dengan efisiensi biaya sebesar 1,92%. Metode overlapping mempercepat durasi menjadi 167 hari dengan efisiensi biaya 0,60%. Alternatif paling optimal diperoleh melalui metode gabungan crashing dan overlapping yang mampu mereduksi durasi menjadi 120 hari (lebih cepat 60 hari) dan menurunkan total biaya menjadi Rp49.354.711.414,95 atau hemat sebesar 2,52% dibandingkan kondisi normal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi gabungan merupakan metode paling efisien dalam mengoptimalkan waktu dan biaya pada proyek infrastruktur utilitas kawasan industri.