ABSTRAK kecamatan bunut hilir merupakan kecamatan yang berada di pesisir sungai Kapuas, banyaknya danau-danau beserta anak sungai di kecamatan ini berdampak pada mata pencaharian sebagian besar masyarakat di kecamatan ini, yaitu sebagai nelayan. Menangkap ikan dengan alat tradisional masih mereka gunakan walaupun jarang di temui lagi, seperti : Unak duri Rotan, bubu rotan, pukat, jala, pengilar, entaban, pancing/kail, serokap bambu, utas, pelabuh, penyarak, seruak, termasuk bubu warin yang masih menggunakan bahan dari alam sekitar yang digunakan untuk menangkap ikan. Khusus untuk alat tangkap ikan yang disebut alat warin, merupaka alat tangkap ikan yang dilarang disebagian wilayah perairan. Dengan demikian alat tangkap warin hanya bisa digunakan di sungai Kapuas dan danau yang tidak dilindungi. Larangan tersebut dapat dilihat dalam peraturan danau, baik yang sudah di bukukan maupun belum di bukukan, masing-masing danau memiliki peraturan yang sesuai dengan kondisi geografisnya, salah satu contohnya adalah Buku Peraturan Danau Miyuban yang dibuat oleh masyarakat adat, ketua adat dan perangkat desa.Sehubungan dalam hal larangan menangkap alat warin ketua danau, perangkat desa, masyarakat secara bermusyawarah membuat peraturan danau yang harus di patuhi semua masyrakat yang beraktifitas di lingkungan danau. Dalam pembuatan peraturan pun terbagi menjadi tim pengurus dan tim perumus, selain merumuskan peraturan danau tim perumus juga mensosialisasikan peraturan danau tersebut kepada seluruh masyarakat yang akan beraktifitas di danau miyuban.Berdasarkan uraian tersebut diatas yang menjadi permasalahannya adalah (1) Mengapa terhadap pelaku yang menangkap ikan dengan alat warin dikecamatan Bunut Hilir belum di berikan sanksi adat sebagaimana mestinya ? (2) Bagaimana peranan ketua adat menjaga eksistensi hukum adat yang berkaitan dengan larangan penangkapan ikan dengan alat warin?Adapun metode penelitian yang digunakan adalah yuridis sosiologis, di sisni penulis melihat dari segi efektifitas hukum adat dengan melihat langsung dilapangan. Sedangkan hasil penelitian ini bahwa penegakan hukum adat khususnya alat warin tidak efektif di karenakan tidak adanya laporan dari masyarakat dan adanya pembiaran dari masyarakat serta kurangnya pengawasan dari masyarakat pengawas.Dengan demikian secara bersama-sama masyarakat menjaga peraturan yang telah mereka buat, sebagai panduan mereka bekerja di danau yang dapat menjadi tumpuan kehidupan dari generasi ke generasi berikutnya. Kata Kunci : Alat warin, Penegakan Hukum Adat, Penangkapan ikan   ABSTRACT   Bunut downstream district is a sub-district located on the Kapuas river, the number of lakes and tributaries in this sub-district has an impact on the livelihoods of most of the people in this sub-district, namely as fishermen. Catch fish with traditional tools they still use even though they are rarely seen again, such as: Unak rattan, rattan, trawl, nets, pengilar, entaban, fishing rod / hook, serokap bamboo, thread, harbor, penyarak, exclamation, including bubu waru still using materials from the surrounding nature that are used to catch fish. Especially for fishing gear called warin tools, it is a fishing gear that is prohibited in some waters. Thus warin fishing gear can only be used in the Kapuas river and unprotected lakes. The prohibition can be seen in the lake regulations, both those that have been posted and not posted, each lake has regulations that are in accordance with its geographical conditions, one example is the Book of Lake Miyuban Regulations made by indigenous peoples, customary leaders and village officials.In relation to the prohibition to catch the warin tool of the head of the lake, the village apparatus, the community deliberately makes lake regulations that must be obeyed by all the people who work in the lake. In the making of the regulation, it was divided into a team of management and formulating teams. In addition to formulating lake regulations, the drafting team also socialized the lake regulations to all communities who would be active in the Lake Miyagi.Based on the description above, the problem is (1) Why has the customary fishermen caught using warin in the district of Bunut Hilir not been properly sanctioned? (2) How does the role of the adat leader maintain the existence of customary law relating to the prohibition of fishing with warin?The research method used is sociological juridical, the writer looks at the effectiveness of customary law by looking directly at the field. While the results of this study that customary law enforcement, especially warin tools are not effective because there are no reports from the public and the omission from the community and lack of supervision from the supervisory community.Thus, the community together maintain the rules they have made, as a guide they work in the lake which can be the foundation of life from generation to generation. Keywords: warin tools, customary law enforcement, fishing