Nykken Nur Rahmawati
Universitas Negeri Surabaya

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

KESULITAN SISWA KELAS V MEMPRODUKSI KRAMA DALAM UNGGAH-UNGGUH BASA JAWA: STUDI KASUS DI SEKOLAH DASAR Nykken Nur Rahmawati; Heru Subrata
Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar (JIPDAS) Vol 6 No 4 (2026): Vol. 6 No. 4 September - November 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Bahasa Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37081/jipdas.v6i4.6462

Abstract

Tingkat tutur bahasa Jawa (unggah-ungguh basa) menyatakan kesopanan, tetapi siswa sekolah dasar sering kesulitan memakai krama kepada guru. Penelitian ini menelaah kesulitan siswa kelas V dalam memakai krama di sekolah, faktor yang melatarinya, dan rekomendasi. Studi kasus kualitatif dilakukan di SDN 1 Pacekulon, Nganjuk, Jawa Timur, pada Agustus 2026. Data berasal dari wawancara semi-terstruktur dengan enam siswa yang dipilih purposif, orang tua mereka, wali kelas, dan kepala sekolah, serta observasi berbasis peristiwa dan dokumentasi, lalu dianalisis tematik dengan ATLAS.ti. Kesulitan siswa terutama terletak pada memproduksi krama (mengingat kosakata, mencampur ngoko dan krama, dan mempertahankan tuturan panjang), bukan pada mengetahui kepada siapa krama dipakai. Ketika ragu, siswa beralih ke bahasa Indonesia yang sopan, pilihan yang dibenarkan guru dan orang tua. Keenam siswa merasa tidak nyaman setelah salah, sedangkan keraguan sebelum berbicara bervariasi; ejekan “sok halus” dari teman tidak muncul, walaupun satu siswa takut ditertawakan saat salah. Siswa menunjukkan sikap hormat dan menerima koreksi, tetapi bentuk yang dikoreksi sering terlupa. Informan menyebut rumah yang tidak mewajibkan dan jarang mencontohkan krama, pandangan beragam tentang gawai, dan sumber belajar sekolah yang terbatas. Latihan krama bertahap, koreksi yang mendorong siswa menemukan sendiri bentuk yang benar, pelibatan orang tua, uji kecil media pembelajaran, dan kejelasan peran bahasa Indonesia sebagai pengganti sementara diajukan sebagai pertimbangan dan masih perlu diuji.