ABSTRAK Konferensi Bandung menandai perubahan penting dalam praktik diplomasi global. Meskipun berdampak besar dalam politik antarnegara, tulisan ini menyoroti elemen lain dari penyelenggaraan Konferensi Bandung, yakni pentingnya pengakuan terhadap inisiatif diplomasi yang dilakukan oleh aktor non-negara melalui pendekatan “diplomasi baru” (new diplomacy). Berbasis studi literatur dan process tracing, tulisan ini secara khusus mengkaji dan membandingkan strategi dua organisasi yang terkait erat dengan Konferensi Bandung, yaitu Afro-Asian People's Solidarity Organization (AAPSO) dan Afro-Asian Journalists Association (AAJA). Artikel ini menunjukkan bagaimana aktivisme transnasional dari aktor non-negara terutama dalam memanfaatkan kesempatan politik, membangun institusi, dan mensosialisasikan agendanya berkontribusi dalam menciptakan praktik diplomasi alternatif di ranah internasional. Kata Kunci: Konferensi Bandung, diplomasi, aktor non-negara, aktivisme transnasional ABSTRACT The Bandung Conference marked a significant transformation in the practice of global diplomacy. While it had a major impact on interstate politics, this paper highlights another important element of the Bandung Conference, namely the recognition of diplomatic initiatives conducted by non-state actors through the approach of “new diplomacy.” Based on literature study and process tracing, this paper specifically examines and compares the strategies of the Afro-Asian People's Solidarity Organization (AAPSO) and the Afro-Asian Journalists Association (AAJA)as two organizations closely linked to the Bandung Conference. The article demonstrates how the transnational activism of non-state actors, particularly in seizing political opportunities, institutionalization, and socializing their agendas, contributed to the creation of alternative diplomatic practices in the international sphere. Keywords: Bandung Conference, diplomacy, non-state actors, transnational activism