Penelitian ini mengkaji manifestasi Yang Sakral dalam ritual Pangga masyarakat Manggarai melalui analisis fenomenologi agama Mircea Eliade dengan memberikan penekanan pada tradisi Loling Ata Mata Peang Mbaru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna religius praktik Loling Ata Mata Peang Mbaru sebagai bagian integral dari ritual Panggaserta menjelaskan perjumpaan masyarakat Manggarai dengan Yang Sakral. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif berbasis studi pustaka yang didukung oleh wawancara semi-terstruktur dengan dua tokoh adat yang berasal dari Kampung Pedeng, Desa Golo Lanak, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai. Objek penelitian adalah tradisi Loling Ata Mata Peang Mbaru dalam ritual Pangga masyarakat Manggarai. Data dianalisis secara deskriptif-analitis melalui tahap klasifikasi, deskripsi, dan interpretasi berdasarkan konsep-konsep utama fenomenologi agama Mircea Eliade yaitu, Yang Sakral dan Yang Profan (the sacred and the profane), hierofani (hierophany), simbol religius, ruang dan waktu sakral, serta homo religiosus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi Loling Ata Mata Peang Mbaru tidak sekadar perlakuan khusus terhadap jenazah yang meninggal secara tidak wajar, tetapi menjadi bagian integral dari ritual Pangga yang menandai peralihan dari dunia profan menuju dunia sakral. Manifestasi Yang Sakral tampak melalui batas antara ruang profan dan ruang sakral, kehadiran simbol-simbol religius, waktu sakral, serta pengalaman homo religiosus yang memungkinkan masyarakat Manggarai mengalami kehadiran Yang Transenden. Dengan demikian penelitian ini menunjukkan bahwa ritual Pangga merupakan ruang religius tempat masyarakat Manggarai menghayati relasi antarsesama manusia, leluhur, alam, dan Yang Sakral menurut perspektif Mircea Eliade.