Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Penatalaksanaan Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Tennis Elbow Tandiyo, Desy Kurniawati
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.537 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v41i5.1141

Abstract

Tennis elbow atau epikondilitis lateral merupakan kasus nyeri siku bagian lateral. Penatalaksanaan Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi bertujuan mengatasi inflamasi; mempercepat penyembuhan; mengurangi overuse; dan memperbaiki fleksibilitas, kekuatan dan ketahanan jaringan lunak. Penatalaksanaan dengan cara tidak melakukan aktivitas yang memprovokasi, analgesik, modalitas fisik dan pembidaian. Modalitas fisik berupa cryotherapy, TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation), ultrasound dan phonophoresis, Extracorporeal Shock-Wave Therapy (ESWT) dan Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation (LASER) kekuatan rendah. Terapi latihan dengan pembebanan progresif ekstensor pergelangan tangan. Dengan penatalaksanaan yang baik, pasien dapat kembali bekerja atau berolahraga dengan modifikasi beban dan latihan khusus. Intervensi penting lainnya berupa modifikasi tempat kerja, edukasi dan latihan postur.Tennis elbow or lateral epicondylitis is the most common presentation of lateral elbow pain. The goals of Physical Medicine and Rehabilitation treatment are to control the inflammation; to reduce overuse; and to improve soft-tissue flexibility, strength and endurance. Treatment involves discontinuation of provocative activities, analgesics, physical modalities and bracing. Physical modalities include cryotherapy; TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation); ultrasound and phonophoresis; Extracorporeal Shock-Wave Therapy (ESWT); and Low Level Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation (LASER). Therapeutic exercise include progressive loading of the wrist extensors. With proper treatment, patients can return to activities with modification. Workstation modifications, education, and postural retraining are important interventions. 
ESWT (Extracorporeal Shock Wave Therapy) untuk Calcaneal Spur Tandiyo, Desy Kurniawati
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.525 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i12.939

Abstract

Nyeri tumit ditandai nyeri pada tumit bagian inferior atau posterior yang diperparah dengan posisi tubuh weight bearing, bersifat progresif dan ditemukan spur pada 50% kasus. Terapi modalitas yang biasa diberikan antara lain terapi dingin, terapi panas, iontophoresis, dan TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation). ESWT (Extracorporeal Shock Wave Therapy) adalah terapi menggunakan shock wave (gelombang kejut) dengan impuls tekanan mikrodetik; tergantung energi yang digunakan dapat mengurangi nyeri dan fragmentasi deposit kalsifikasi, sehingga dapat dipertimbangkan sebagai alternatif penanganan nyeri tumit dengan spur.Painful heel is characterised by severe pain in the inferior or posterior aspect of the heel, aggravated by weight bearing, progressively worsening, with evidence of spur in about 50% of cases. Treatment modalities for painful heel are usually cold therapy, heat therapy, iontophoresis, and TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation). ESWT (Extracorporeal Shock Wave Therapy) is based on the use of shock wave with microsecond pressure impulses, depending on the energy used, to reduce pain and fragmentation of calcific deposits. ESWT can be used as an alternative therapy for painful heel with calcaneal spur.
EFFICACY OF ELECTRICAL STIMULATION (ES) ON DYSPHAGIA IN POST-STROKE PATIENTS: A SYSTEMATIC REVIEW Modesty, Kyra; Sitepu, Brigitta Ellycia; Budianto, Pepi; Probandari, Ari; Tandiyo, Desy Kurniawati
MNJ (Malang Neurology Journal) Vol. 11 No. 2 (2025): July
Publisher : PERDOSSI (Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Cabang Malang) - Indonesian Neurological Association Branch of Malang cooperated with Neurology Residency Program, Faculty of Medicine Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.mnj.2025.011.02.08

Abstract

Background: Stroke is a disease that can occur in both developed and developing countries and is the second leading cause of death in the world. Stroke can cause various complications such as dysphagia. This study examines the efficacy of electrical stimulation (ES) as a treatment for dysphagia in post- stroke patients with various measurements of the severity of dysphagia. Objective: This study aims to review the efficacy of electrical stimulation on dysphagia in post-stroke patients. Methods: This study uses a systematic review method by following the guidelines from PRISMA. Articles are arranged based on keywords that have been determined in PICO, namely electrical stimulation, dysphagia, and stroke. Articles included in the inclusion criteria are RCTs, in English, and published between January 2013 and January 2023. Results: Eighteen studies that met the inclusion criteria were critically reviewed by the two authors. There were ten types of outcomes included in this systematic review and six of them had significant results for reducing the severity of dysphagia. Conclusion: ES can be given as the main therapy for post-stroke dysphagia patients. The six types of outcomes used to measure the degree of dysphagia, namely FOIS, PAS, FDS, PTT, OTT, and MASA, showed high significance associated with a reduction in the degree of dysphagia thereby reducing the risk of aspiration pneumonia by using this ES therapy.
Peningkatan Pengetahuan Tenaga Medis PPK 1 Area Rumah Sakit UNS dalam Deteksi Dini dan Tata Laksana Glaukoma Tandiyo, Desy Kurniawati; Eliza, Dyah Ayu; Landiasari, Debby Andina; Noviastuti, Kartika; Prasetiyono, Heru
Smart Society Empowerment Journal Vol 4, No 3 (2024): November
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/ssej.v4i3.84610

Abstract

Pendahuluan: Glaukoma adalah penyebab kebutaan permanen nomor dua setelah katarak di Indonesia yang sering tidak disadari oleh penderita.  World Health Organization (WHO) memprediksi jumlah penderita Glaukoma di dunia mencapai sekitar 60,7 juta orang di tahun 2010 dan akan menjadi 79,4 juta di tahun 2020.  Kegiatan Pengabdian berupa seminar  kesehatan sebagai sarana edukasi   bagi tenaga kesehatan di PPK 1 terkait deteksi dini pada pasien dengan glaukoma sehingga bisa cepat dapat dilakukan tatalaksana dan menghindarkan pada perburukan yang bisa menyebabkan hilangnya penglihatan.Metode: Langkah pengabdian meliputi perencanaan, pengumpulan bahan  dan materi, kegiatan edukasi terkait deteksi dini dan tatalaksana glaukoma, dan pemberian kuisioner pretest dan posttest sebagai bahan evaluasi kegiatan bagi  tenaga kesehatan di PPK1 di area sekitar Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret.Hasil dan Pembahasan: Terdapat perbedaan yang signifikan pada subyek terkait pengetahuan dan tatalaksana dini glaukoma sebelum dan sesudah seminar berdasarkan hasil kuisioner pretest dan posttest yang diberikan ke 23 peserta seminar yang terdiri dari tenaga Kesehatan yang mayoritasnya merupakan tenaga medisKesimpulan: Pengabdian berjalan dengan baik, peserta mengalami peningkatan pengetahuan terkait cara untuk deteksi dini dan penatalaksanaan glaukoma.
Edukasi Pendidikan Reproduksi pada Remaja di SMP Negeri 1 Surakarta Ghozali, Dhoni Akbar; Tandiyo, Desy Kurniawati; Pramaratu, Inge; Rinardi, Ekky Putra; Saptarini, Dian Nita Eka; Arkhani, Fasha Putri; Ferdianto, Fattan Fairuz Ahmad; Sari, Ika Kartika
Smart Society Empowerment Journal Vol 5, No 2 (2025): Juli
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/ssej.v5i2.99488

Abstract

Pendahuluan: Pengetahuan yang kurang mengenai pendidikan reproduksi terkait pubertas berdampak negatif untuk remaja perempuan sehingga perlu program peningkatan sikap dan kesadaran terkait perubahan pubertas. Kurangnya pengetahuan tentang perubahan fisik selama pubertas memicu persepsi yang salah dan menyebabkan pelecehan seksual. Penyampaian informasi terkait pendidikan reproduksi terhambat oleh karena tidak tersedianya ruang diskusi di sekolah. Program ini bertujuan untuk mengedukasi siswi di SMP Negeri 1 Surakarta terkait pendidikan reproduksi yang meliputi materi pubertas dan kesehatan alat reproduksi.Metode: Program dilaksanakan di SMP Negeri 1 Surakarta dengan sasaran penyuluhan adalah siswi kelas 7 dan 8. Pemberian materi meliputi pubertas dan kesehatan alat reproduksi terbagi dalam dua sesi yang diawali dengan pretest dan diakhiri dengan posttest untuk mengukur dampak penyuluhan. Tes menggunakan 10 soal pilihan ganda yang sama tentang materi penyuluhan dan dinilai peningkatan rata-rata dari pretest dan posttest.Hasil dan pembahasan: Penyuluhan diikuti 30 siswi yang turut serta seluruh acara dari pretest hingga posttest. Dari hasil analisis data ditemukan peningkatan rata-rata nilai sebesar 2.20, dengan rata- rata nilai pretest 5.43 (SD=0.68) dan posttest 7.63 (SD=0.67).Kesimpulan: Penyuluhan tentang pendidikan reproduksi berlangsung dengan baik. Pengetahuan siswi terkait pendidikan reproduksi meningkat pasca pemberian materi.
Hubungan Antara Rasio Lingkar Pinggang dan Panggul dengan Derajat Nyeri Pada Pasien Low Back Pain di RS UNS Adhi, Auliya Yasmin; Tandiyo, Desy Kurniawati; Wiyono, Nanang
Plexus Medical Journal Vol. 2 No. 4 (2023): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/plexus.v2i4.848

Abstract

Pendahuluan: Low back pain merupakan masalah kesehatan yang sangat umum, yaitu berupa nyeri pada batas bawah kosta dan di atas lipatan gluteal. Obesitas terbukti menjadi faktor risiko low back pain dan menyebabkan peningkatan rasa nyeri pada pasien. Pengukuran obesitas menggunakan rasio lingkar pinggang dan panggul (RLPP) dianggap lebih sensitif untuk menilai distribusi lemak abdomen. Penelitian ini dilakukan untuk menilai hubungan antara RLPP dengan derajat nyeri pada pasien low back pain di RS UNS. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian berjumlah 51 orang. Variabel bebas yaitu RLPP dan variabel terikat yaitu derajat nyeri. RLPP diukur menggunakan pita ukur dan derajat nyeri diukur menggunakan kuisioner numerical rating scale (NRS). Hubungan antar variabel diuji menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: Terdapat hubungan yang bermakna antara RLPP dengan derajat nyeri pasien low back pain (p=0,028) dengan koefisien korelasi 0,308. Kesimpulan: RLPP berhubungan dengan peningkatan derajat nyeri pada pasien low back pain di RS UNS.