This Author published in this journals
All Journal Solah
NENGAH MARIASA, I
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PEREBUTAN KEDUDUKAN “DALAM KARYA TARI DREDAH” DWI AGUSTIN MEGASARI, LUTHFIYAH; NENGAH MARIASA, I
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada koreografi dengan berjudul Dredah penulis yang juga sekaligus menjadi koreografer mengangkat fenomena dari perebutan kekuasaan. Koreografer mengangkat tema ini berdasarkan dari cerita Ronggolawe dan Patih Nambi yang merebutkan kekuasaan (Tahta). Didalam kehidupan harta, tahta, wanita sangatlah rentan perpecahan. Melalui karya tari Dredah merupakan ide penyajian sebuah karya Tari Dramatari yaitu sebuah pertunjukan tari yang memiliki kecenderungan untuk menggambarkan emosi serta kejadian dalam hubungannya dengan kehidupan. Dari pengertian ini berarti penggambaran karakter dan alur cerita dari sebuah peristiwa sangat menjadi sangat menonjol. Karya tari ini menggunakan aspek dari bentuk pengembangan tradisi gaya jawa timuran.Karya tari Dredah ini merupakan gambaran dari cerita Ronggolawe dan Patih Nambi yang merebutkan kekuasaan melalui media ungkap gerak yang didukung oleh jumlah penari dan kemampuan penari sehingga dapat mengisi dan mengeksplorasi ruang panggung prosenium. Selain itu, keberadaan penari didukung oleh pola penataan sehingga membentuk pola-pola yang dapat mengisi ruang dan membangun suasana. Media pendukung yang lain adalah iringan, properti, tatarias, dan busana serta tata teknik pementsan. Kata Kunci : Karya Tari, Dredah, Perebutan Kedudukan
KARYA TARI DHUHKITA BRANTA UNGKAPAN RASA SAKIT HATI PUTRI ANDANSARI DAN PUTRI ANDANWANGI DALAM TIPE DRAMATIK JAVA RIYAROSA, MEVIKI; NENGAH MARIASA, I
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Putri Andansari dan Putri Andawangi adalah putri dari Kediri yang menyukai panji Laras dan panji Liris dari Lamongan, namun cintanya tidak tersampaiakan, koreografer mengangkat cerita tersebut berangkat dari cerita mitos yang ada di Kabupaten Lamongan. Koreografer menemukan permasalahan yang menjadi fokus yaitu rasa sakit hati Putri Andansari dan Putri Andanwangi yang cintaanya ditolak oleh Panji Laras dan Panji Liris. Dalam karya tari dhuhkita branta ini fokus bentuk membahas tentang tipe tari dramatik, sedangkan variabel isinya adalah rasa sakit hati Putri Andansari dan Putri Andanwangi. Kajian pustaka dan kajian teori yang digunakan dalam penyusunan karya diantaranya mengunakan teori bentuk Jaquelin Smith, dan teori koreografi dari Sal Murgianto. Metode penciptaan menggunakan pendekatan konstruksi yaitu metode yang ada pada Jaquelin Smith. Tipe tari ini adalah tipe dramatik karena merupakan tari kelompok dan memunculkan seorang tokoh pada suasana tertentu. Mode penyajian dalam karya tari ini adalah simbolik dengan lima orang penari wanita.Dalam karya tari ini dibagi menjadi empat bagian. Bagian satu penggambaran tokoh Putri Andansari dan Putri Andanwangi yang sedang jatuh cinta. Bagian kedua, mengungkapan perjuangan Putri Andansari dan Putri Andanwangi dalam mengungkapkan cintanya dengan sebuah prasyarat yang harus dipenuhi yaitu membawa gentong untuk Panji Laras dn Panji Liris dan juga mengungkapkan penolakan cinta. Bagian ketiga, mengungkapkan kekecewaan sang Putri Andansari dan Putri Andanwangi karena mengalami penolakan cinta. Bagian keempat, mengungkapkan kemarahan yang meluap pada diri Putri Andansari dan Putri Andanwangi.Kata kunci : mitos, Putri Andansari, Putri Andanwangi, Dhuhkita branta
SINGGAH SINGKIR UNGKAPAN KEBERSAMAAN PADA PERISTIWA GERHANA BULAN MELALUI KOREOGRAFI LINGKUNGAN RASIDA LUISANDRITH, DESELLA; NENGAH MARIASA, I
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari Singgah Singkir merupakan sebuah karya inspiratif yang berangkat dari fenomena gerhana bulan. Fenomena alam ini memunculkan berbagai tanggapan oleh masyarakat, salah satunya di Jawa. Menurut orang jawa, gerhana bulan disebabkan oleh sesosok raksasa besar yang sedang berusaha menelan bulan. Setiap kali terjadi gerhana bulan, masyarakat jawa secara bersama-sama membunyikan kentongan, lesung, dan benda-benda di sekitar untuk mengusirnya. Kebersamaan yang dilakukan masyarakat jawa tersebut menjadikan bentuk tematik yang ingin disampaikan koreografer secara ekspresif dan dikemas dalam suatu pertunjukan tari. Membahas tentang pandangan koreografer, bahwa kepercayaan tersebut diartikan sebagai budaya masyarakat jawa.Koreografi lingkungan dijadikan aspek utama dalam penggarapan karya tari Singgah Singkir tepatnya di ?Rumah Budaya Watulimo?, sehingga dapat diapresiasi langsung pada arena pentas di tengah-tengah masyarakat. Metode Konstruksi dengan tipe dramatik dipilih, karena koreografer ingin menciptakan moment-moment dan memunculkan berbagai suasana yang terjadi pada peristiwa gerhana bulan oleh masyarakat jawa. Konsep lingkungan dengan signifikasi tertentu, suasana pedesaan dimana zaman dahulu belum ada listrik, hanya menggunakan penerangan lampu kecil, masyarakat jawa menyebutnya ublik atau dimar. Koreografer juga menghadirkan obor sebagai penerangan disaat bulan purnama.Ruang dalam koreografi lingkungan pengaruhnya juga sangat signifikan, oleh karena itu dalam proses penciptaan koreografer mengajak penari terjun langsung untuk menemukan ruang sendiri melalui eksplorasi. Mode penyajian yang digunakan pada penggarapan karya tari ini adalah simbolik representatif, karena sajian dalam gerak menggunakan simbol-simbol dan juga sesuai dengan keadaan nyata yang terlihat pada tubuh penari.Karya tari Singgah Singkir menawarkan bentuk sajian tari eksplorasi satu unsur yang terpilih yaitu kebersamaan pada peristiwa gerhana bulan, sehingga menjadikan sesuatu yang kompleks melalui pertunjukan koreografi lingkungan. Pada hal tersebut koreografer berharap untuk semua penikmat agar dapat belajar dari karya tari ini, bahwa dengan gotong royong berbagai permasalahan kehidupan bersama dapat dipecahkan dan mampu memberikan nilai positif bagi masyarakat.Kata Kunci: Singgah Singkir, Kebersamaan, Gerhana Bulan, Koreografi Lingkungan
KREATIVITAS PENCIPTAAN SUMITRO HADI SEBAGAI MAESTRO PENATA TARI KREASI BARU BANYUWANGI PRIMA DIYANTI, KENDURI; NENGAH MARIASA, I
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sumitro Hadi merupakan seniman asli dari Kabupaten Banyuwangi yang lahir pada tanggal 16 Agustus 1951. Beliau adalah seniman hebat yang sampai saat ini masih eksis dalam kesenian Banyuwangi.Tujuan penelitian adalah 1) mendeskripsikan latar belakang kehidupan Sumitro Hadi sebagai Maestro penata tari kreasi baru Banyuwangi, 2)mendeskripsikan peran Sumitro Hadi di Banyuwangi sebagai Maestro penata tari kreasi di Banyuwangi, dan 3) mengetahui karya dan prestasi yang telah dicapai Sumitro Hadi sebagai Maestro penata tari kreasi baru di Banyuwangi. Metode penelitian yang digunakan berupa penelitian kualitatif yang bertujuan menggambarkan data yang menyangkut pertanyaan what, how, dan why. Sumber data dalam penelitian ini menggunakan place (tempat), person (orang), paper (tulisan). Metode pengumpulan data dalam penelitian ini metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah 1) Reduksi data, 2) Penyajian data, dan 3) Penarikan Kesimpulan. Penelitian ini dilakukan di Banyuwangi (rumah Sumitro Hadi, Pantai Boom, Sanggar Tari Tawang Alun Kecamatan Songgon, dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi). Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa 1) Sumitro Hadi dikenal sebagai koreografer berbakat karena latar belakang keluarga, riwayat pendidikan, riwayat pekerjaan dan pengaruh terbesar dari pengalaman berkesenian yang mendorong munculnya kreativitas/ bakat sebagai seniman. 2) Sumitro Hadi memiliki peranan yang sangat besar dalam dunia seni tari di Banyuwangi khususnya dalam bidang pengembang, pelestari, dan pendidik tari Banyuwangi. 3) Karya tari dan lagu yang beliau ciptakan pada tahun 1968-2015 berjumlah 103 karya. Salah satu karyanya yang menjadi ikon Banyuwangi sampai saat ini adalah tari Gandrung. Sumitro Hadi memiliki piagam penghargaan dari regional, nasional, internasional. Dari bukti-bukti lewat dari karya-karya, penghargaan, murid yang telah beliau didik adalah bukti nyata Sumitro Hadi layak menyandang gelar maestro penata tari kreasi baru Banyuwangi. Kata Kunci: Sumitro Hadi, Maestro, Penata Tari, Tari Kreasi Baru
“YES OR NO” KARYA TARI DRAMATIK WUJUD KARAKTER SEORANG TRANSGENDER ANINDITA DWIKA RATRI, CLAUDIA; NENGAH MARIASA, I
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transgender dapat dikatakan sebagai ekspresi identitas gender di luar konstruksi. Gender tradisional dalam masyarakat yang hanya mendefinisikan dan mengakui dua jenis gender yakni maskulin dan feminin, tanpa mengkalkulasi gender ketiga yang baru-baru ini sering diperhatikan kemunculannya. Ekspresi ini hanyalah sebatas ekspresi penampilan dari individu transgender tersebut dan tidak mengarah pada pengubahan tampilan fisiknya (Nagoshi dan Brzuzy 2010). Fokus karya dalam pembuatan karya tari sangatlah penting karena memiiki tujuan memudahkan koreografer untuk membantu proses penggarapan pengkaryaan menjadi lebih terencana dan terstruktur. Fokus juga membantu koreografer untuk mewujudkan bentuk karya sesuai dengan tema yang diangkat. Apabila fokus karya jelas, maka jalan menyusun karya tari menjadi lebih mudah. Fokus karya tari ini menjelaskan tentang wujud karakter seorang transgender. Fokus karya ini akan diwujudkan dengan 5 penari dan memliki dasar tari yang hampir sama. Karya tari ?Yes or No? merupakan karya tari yang berangkat dari gagasan ide koreografer. Karya ini memiliki dua variabel yaitu variabel bentuk dengan menggunakan konsep tari dramatik. Setelah terciptanya karya tari ini, variabel isi terlihat dari metode yang digunakan untuk penggarapan karya tari ?Yes Or No?. Karya tari ini menggunakan metode konstruksi. Konsep alur pada karya tari ?Yes or No? untuk membangun unsur tari dramatik sehingga menimbulkan diamika yang kuat yang berdampak pada suasana dramatis dalam penyajianya. Kata Kunci : Tipe Dramatik, Karakter, Transgender