This Author published in this journals
All Journal Avatara
PUJO JATMIKO, AGIL
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

TRADISI UPACARA BERSIH DESA SITUS PATIRTHÄ€N DEWI SRI DI DESA SIMBATAN WETAN, KECAMATAN NGUNTORONADI, KABUPATEN MAGETAN (KAJIAN TENTANG KESEJARAHAN DAN FUNGSI UPACARA) PUJO JATMIKO, AGIL
Avatara Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (Juli 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berbicara mengenai tradisi oleh masyarakat Indonesia, maka pelaksanaan upacara bersih desa di situs patirthãn Dewi Sri menjadi salah satu hal yang menarik untuk dikaji, karena sampai zaman sekarang tradisi tersebut masih berlangsung dan diadakan oleh warga masyarakat di Desa Simbatan Wetan, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Berdasarkan kesejarahannya, tidak diketahui secara pasti kapan pertama kali kegiatan pelaksanaan tradisi bersih desa di situs patirthãn Dewi Sri berlangsung dan diadakan oleh warga masyarakat di Desa Simbatan. Melihat dari struktur bangunannya, patirthãn Dewi Sri merupakan bangunan pada zaman klasik yang dianggap penting. Melihat kenyataan itu, maka tidak diketahui secara pasti apakah pelaksanaan upacara bersih desa di situs patirthãn Dewi Sri merupakan fungsi sejak zaman klasik yang masih bertahan hingga zaman sekarang oleh masyarakat di Desa Simbatan.Pada penelitian ini menggunakan metode sejarah, dimana peneliti akan menerapkan prinsip-prinsip heuristik, kritik, interprestasi, dan historiografi dalam meneliti kesejarahan pelaksanaan upacara besih desa dan perkembangan fungsi upacara bersih desa di patirthãn Dewi Sri.Hasil penelitian menunjukkan, upacara bersih desa di situs patirthãn Dewi Sri pertama kali diadakan oleh masyarakat di Desa Simbatan pada zaman klasik akhir. Hal ini terbukti dari cerita tertua yang menghubungkan Dewi Sri terdapat pada kitab Tantu Panggelaran yang berkembang sejak abad ke 15 – 16 Masehi. Selanjutnya, upacara disempurnakan oleh masyarakat penganut agama Islam abad ke 15 Masehi dengan tetap memunculkan simbol Dewi Sri dalam pelaksanaanya. Berdasarkan fungsinya patirthãn Dewi Sri zaman klasik digunakan untuk upacara penghapusan noda dan dosa-dosa sehingga bersih jiwanya dan mencapai moksa atau bisa kembali ke surga. Seiring berjalannya waktu, fungsi zaman klasik bangunan patirthãn sebagai tempat dilaksanakannya upacara pembersihan noda dan dosa-dosa serta sebagai pemujaan sudah mulai mengalami perubahan. Akan tetapi tidak menjadikan ditinggalkan masyarakat zaman sekarang karena masih mengadakan upacara bersih desa di situs patirthãn Dewi Sri. Kata Kunci : Patirthãn Dewi Sri, Bersih Desa, Tarian Ikan.