This Author published in this journals
All Journal APRON
OCTARIANTI, ANUGRAH
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

SINONGKELAN DI DESA PRAMBON KECAMATAN TUGU  KABUPATEN TRENGGALEK  SEBAGAI SENI PERTUNJUKAN RITUAL OCTARIANTI, ANUGRAH
APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan Vol 1, No 9 (2016): Volume 1 Nomor 9 (2016)
Publisher : APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak   Kesenian tradisional dipentaskan dalam upacara tertentu sering dijumpai pada masyarakat agraris yang masih kental dengan keparcayaan animisme dan dinamisme. Kesenian yang tumbuh pada masyarakat primitif cenderung bersifat sakral dan magis, karena digunakan untuk mengungkapkan ekspresi kepada hal gaib. Pertunjukan seperti ini dapat dijumpai pada suatu masyarakat pedesaan, salah satunya Sinongkelan di Desa Prambon Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek. Berpijak ulasan tersebut dapat dibagi menjadi tiga rumusan masalah yakni, 1.Bagaimana asal-usul terjadinya Sinongkelan di Desa Prambon Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek? 2. Bagaimana bentuk penyajian Sinongkelan di Desa Prambon Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek? 3. Mengapa Sinongkelan berfungsi sebagai ritual bersih Desa di Desa Prambon Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tehnik pengumpulan data berupa metode observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta menggunakan triangulasi tehnik, sumber dan waktu. Hasil penelitian yang dilakukan, Sinongkelan merupakan cerita asal-usul Desa Prambon. Sinongkel diangkat menjadi pemimpin di Desa tersebut karena telah berhasil mengembalikan kemakmuran Desa Prambon dari paceklik yang kemudian diberi julukan Prabu Anom. Sinongkelan ini diikuti oleh para sesepuh yang mendapat wangsit untuk menjadi tokoh maupun wayang. Tugas untuk menjadi wayang maupun tokoh dalam Sinongkelan tidak dapat digantikan oleh orang lain kecuali orang yang bersangkutan sudah tidak mampu melaksanakan tugasnya. Ada beberapa sesaji yang digunakan di antaranya ladha sega gurih, mule, metri dan sebagainya. Segala sesaji tersebut dimasak oleh para wanita yang sudah Luas Ari dan dibantu oleh  para warga lainnya secara bergotong royong. Sinongkelan digelar di halaman rumah pemangku adat yakni Bapak Seni dan disaksikan oleh para warga sekitar. Kesenian ini hanya terlihat sederhana jika dilihat sekilas tanpa memaknai apa yang terkandung di dalam dialog maupun gerak tari, karena Sinongkelan disajikan secara simbolik dengan dialog dan ucapan secara tidak wantah namun menggunakan sanepo/ sanepan atau perumpamaan. Gerakan digunakan sangat sederhana, hanya dengan duduk bersila serta mengayunkan kedua tangan ke kanan dan ke kiri, namun jika dipahami gerakan tersebut mempunyai makna yang luas. Sinongkelan memiliki beberapa fungsi di antaranya adalah sebagai Ritual Bersih Desa yang dilakukan setiap satu tahun sekali pada bulan Selo. Sinongkelan mempunyai keterkaitan dalam budaya masyarakat yakni penghormatan terhadap leluhur, gotong royong antar sesama warga,  ketertiban, kepatuhan terhadap budaya, persaudaraan dan sebagai aset wisata. Kata Kunci: Sinongkelan, Bersih Desa.