Atmodjo, Sukarto Karto
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

BEBERAPA TEMUAN PRASASTI BARU DI INDONESIA Atmodjo, Sukarto Karto
Berkala Arkeologi Vol. 14 No. 2 (1994)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v14i2.630

Abstract

In the context of my retirement as an epigraphy officer from the Balai Arkeologi Yogyakarta, I will briefly review some of the findings of new inscriptions in Kalimantan, Sumbawa, Sumatra and Java. However, I need to explain that two of the findings, namely in Kalimantan, have long been discovered and researched by experts, but until now they have not been completed. The findings are actually quite a lot, but on this good occasion and time (subha diwasa), I will only briefly review some of the findings.
PRASASTI BANU RARA II Atmodjo, Sukarto Karto
Berkala Arkeologi Vol. 9 No. 1 (1988)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v9i1.496

Abstract

Pada tanggal 10 sampai dengan 24 Pebruari 1980, bersama-sama dengan beberapa orang teman dari Jakarta dan BaIi, penulis mendapat tugas melakukan penelitian beberapa lembar prasasti yang tersimpan di dalam Pura Pemrajan Rajapurana di Banjar Sangguhan dan sebagian lainnya di dalam Pura di Banjar Clepik, Klungkung (Smarapura). Prasasti ditulis pada beberapa lembar lempengan tembaga (tembagawasa) berukuran panjang 391 mm, lebar 75 mm dan tebal 1 mm. Penelitian pertama pernah dilakukan oleh almarhum Dr. P.V. van Stein Callenfels dalam Epigraphia Balica I (VBG. deel LXVI, 1926, hlm. 60-67).
PRASASTI TAMBELINGAN III Atmodjo, Sukarto Karto
Berkala Arkeologi Vol. 8 No. 2 (1987)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v8i2.490

Abstract

Prasasti Tambelingan disimpan di Pura Batur desa Gobleg (Kabupaten Buleleng) dan merupakan prasasti tembaga. Transkripsi (alih-aksara) pertama dikerjakan oleh P.V. van Stein Callenfels dan dimuat dalam Epigraphia Balica I (VBG, deel LXVI, 1926, hlm. 7-13) tanpa pencatatan ukuran prasasti (afmetingen niet opgeteekend). Oleh Van Stein Callenfels prasasti itu dibedakan menjadi tiga kelompok.
BENDA PURBAKALA DARI PURA TULUKBIYU DI BALI Atmodjo, Sukarto Karto
Berkala Arkeologi Vol. 8 No. 1 (1987)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v8i1.484

Abstract

Di desa Batur (Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Propinsi Bali) terdapat sebuah pura (bangunan suci umat Hindu), yang sampai sekarang masih menyimpan beberapa buah benda purbakala yang sangat penting. Pura itu seakan-akan terlepas dari perhatian para sarjana Arkeologi karena bentuknya memang tidak jauh berbeda dengan pura lainnya di pulau Bali.
TOKOH BHIMA DALAM ARKEOLOGI KLASIK Atmodjo, Sukarto Karto
Berkala Arkeologi Vol. 7 No. 2 (1986)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v7i2.457

Abstract

Tokoh Bhima memang dapat ditinjau dari bermacam-macam segi. Lebih-lebih tanya-jawab antara Bhima dan Dewaruci merupakan sumber kawruh kasampurnan (ilmu kesempurnaan) bagi orang Jawa. Sekarang ini Ibu Sumarti Suprayitno menguraikan tokoh Bhima dalam kaitannya dengan masyarakat sastra dan budaya Jawa. Uraian atau ceramah ini sangat menarik karena tokoh Bhima memang sudah dikenal sejak jaman dahulu, khususnya dalam sastra Jawa Kuno, baik di dalam wiracarita Mahabharata maupun di dalam cerita Nawaruci. Demikian pula lbu Sumarti Suprayitno telah berhasil membanding cerita Bhima-Dewaruci dengan motif yang sama dalam Wanaparwa, saat Markandeya mengunjungi Pandawa di hutan dan memberi berbagai wejangan kepada mereka. Markandeya menceritakan pengalamannya ketika ia masuk ke dalam perut seorang anak kecil yang duduk di atas dahan pohon beringin dan kemudian mengeluarkannya melalui mulutnya dan menyatakan bahwa ia sebenarnya adalah dewa Narayana atau Wisnu. Di dalam perut anak kecil tersebut Markandeya dapat melihat seluruh alam semesta.
MENGUNGKAP MASALAH PEMBACAAN PRASASTI PASRUJAMBE Atmodjo, Sukarto Karto
Berkala Arkeologi Vol. 7 No. 1 (1986)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v7i1.450

Abstract

Dalam buku Laporan Tahunan Oinas Purbakala (Departemen PP dan K) tahun 1954 (terbit tahun 1962) mengenai prasasti Pasrujambe tertulis pada halaman 12 sebagai· berikut (ejaan lama): "Di desa Pasrujambe (Senduro, Lumadjang) didapatkan gundukan tanah dengan batu-batu kali besar dan ketjil. Di antara batu-batu tadi ada 16 buah jang bertulisan. Penelitian tehadap tulisan ini tidak memberikan sesuatu hasil, bahkan djenisnjapun dari tulisan itu tidak dapat diketahui (gb. 15)". Selanjutnya keterangan di bawah gambar 15 berbunyi: "Senduro (Lumadjang). Batu bersurat jang tulisannja gandjil. Foto DP 19427".
PRASASTI KEDENGAN Atmodjo, Sukarto Karto
Berkala Arkeologi Vol. 6 No. 1 (1985)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v6i1.435

Abstract

Baru-baru ini Bapak Letkol (Purn) Dihar Ronggoprawiro dari Mojoroto (Kediri) memperlihatkan sebuah lempengan tembaga bertulis kepada Universitas Kadiri (P.R. II dr. Hartono Moedjisunu) dan selanjutnya faksimil (turunan tangan) prasasti tersebut dikirim oleh Bapak Koesdisarwojo kepada Lembaga Javanologi (Yayasan Panunggalan) di Yogyakarta untuk diteliti lebih lanjut. Prasasti tembaga itu berukuran panjang 45,5 cm, lebar 12,5 cm dan tebal sekitar 2,5 mm. Menurut berita tembaga bertulis (tamraprasasti) itu semula disimpan oleh seorang penduduk Bojonegoro di dalam sebuah peti bersama-sama sebilah keris dan sehelai kain cinde. Namun-demikian asal atau tempat semula prasasti diketemukan (didapat) tidak diketahui secara jelas.