Ruang tamu pada rumah kecil Indonesia telah bergeser, dari ruang penerima formal menjadi area yang kerap dilebur dengan ruang keluarga karena keterbatasan lahan dan kebutuhan multifungsi. Studi deskriptif-kualitatif ini menelaah sepuluh rumah tipe kecil di Perumahan Bulan Terang Utama, Malang, melalui observasi terstruktur, wawancara, dan pemetaan ruang untuk merekonstruksi hierarki ruang serta alur sirkulasi tamu. Analisis menegaskan dua strategi utama. Strategi pertama mengubah teras depan menjadi ruang tamu semi-terbuka, memendekkan rute tamu, mengurangi paparan ke area privat, serta menambah kapasitas interaksi. Strategi kedua mempertahankan ruang tamu menyatu dengan ruang keluarga, dengan teras berfungsi sebagai limpahan ketika jumlah tamu meningkat. Mekanisme pengatur batas konsisten pada seluruh objek meliputi relokasi area servis, orientasi duduk mengarahkan pandangan menjauh dari kamar tidur, penggunaan partisi ringan atau penataan level lantai, serta pengelolaan bukaan untuk kenyamanan termal dan visual. Dari sisi sosiokultural, strategi tersebut menjaga kesinambungan silaturahmi tanpa renovasi besar, sekaligus menyesuaikan praktik menerima tamu. Penelitian merekomendasikan prinsip penataan peka budaya bagi rumah kecil yaitu sirkulasi tamu terfokus di bagian depan, pembatas visual adaptif, penggunaan furnitur modular, serta aturan penggunaan ruang yang disepakati keluarga. Temuan memberi rujukan bagi perancang, pengembang, dan pemilik untuk mengoptimalkan area depan sebagai zona perantara ramah, efisien, sekaligus melindungi privasi.