Peristiwa kerusakan hutan di Dusun Junggo, Kota Batu menyebabkan terjadinya banjir dan tanah longsor pada tahun 2005 sehingga menjadi perhatian umat Hindu-Dharma. Kesadaran mereka pada alam terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian pada umat Hindu-Dharma ini dilihat dari teori agama sebagai realitas sosial karya Berger. Menurutnya, agama merupakan salah satu peranan penting dalam proses pembangunan dan pemeliharaan dunia. Seperti halnya yang terjadi pada umat Hindu-Dharma dalam memelihara, dan menyelamatkan alam dirinya berpedoman pada nilai-nilai ajaran agama. Penelitian ini menyimpulkan umat Hindu-Dharma mendapatkan pengetahuan nilai-nilai ajaran agama melalui proses pembelajaran di dalam hidupnya baik dari pendidikan sekolah hingga tokoh agama. Nilai kosmologi Hindu mampu membimbing tingkah laku umat Hindu untuk melestarikan alam. Ketika bencana banjir dan tanah longsor melanda, mengajarkan mereka bahwa terjadi perubahan lingkungan fisik karena campur tangan manusia. Dengan pengalaman yang sama, umat Hindu kemudian melahirkan pula kesadaran yang sama tentang bagaimana memperlakukan alam yaitu dengan mengamalkan nilai ajaran Agama Hindu berupa kegiatan penghijauan hutan (Wana Kartika) dan menjalankan upacara keagamaan yang berhubungan dengan alam, serta menerapkan prinsip etika lingkungan dalam kehidupan yang berguna untuk menjaga dan melestarikan alam. Permasalahan yang terjadi adalah kurang terjalinnya kerjasama umat Hindu di Dusun Junggo dengan lembaga pemerintahan yang terkait. Hal tersebut karena minimnya komunikasi antar keduanya. Jika diadakan kerja sama tiap tahunnya dalam hal pelestarian lingkungan dapat memudahkan umat Hindu dan umat lainnya untuk mengatasi kerusakan hutan dan mengantisipasi bencana yang mungkin akan terjadi. Kata Kunci : Kerusakan Hutan, Kosmologi Hindu, Pelestarian Lingkungan Alam.