Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan Minum Obat pada Pasien Halusinasi di Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta Azzahrah, Safira; Rahayu, Septirina; Reni, Reni; Suryanti, Sri
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.5927

Abstract

Kepatuhan minum obat pada pasien halusinasi merupakan masalah serius dengan angka ketidakpatuhan mencapai (40,1%) di rumah sakit jiwa Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta. Kesehatan jiwa menurut World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa seseorang dikatakan sehat mental ketika merasa baik dan bahagia, mampu menghadapi masalah dalam hidup, bergaul dengan orang lain, dan merasa nyaman dengan diri sendiri serta berada dengan orang-orang disekitar mereka. Dukungan keluarga diduga berperan penting dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan pada penelitian ini. Penelitin ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada pasien halusinasi di rumah sakit jiwa Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 60 pasien halusinasi yang di pilih melalui teknik simple random sampling. Instrument penelitian terdiri dari kuesioner dukungan keluarga (15 item) dan kuesioner Morisky Medication Aadhere Scale-8 (MMAS-8). Analisis data menggunakan uji Spearman Rank. Sebagian besar responden menerima dukungan keluarga kategori tinggi (68,3%), namun kepatuhan minum obat mayoritas berada dalam kategori rendah (53,3%). Analisis statistic menunjukkan hubungan signifikan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat (r = 0,311, p = 0,016). Terdapat hubungan positif yag signifikan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada pasien halusinasi di rumah sakit jiwa Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta, meskipun kekuatan hubungan termasuk lemah. Dukungan keluarga berperan dalam meningkatkan kepatuhan, namun diperlukan pendekatan komprehensif yang mempertimbangkan faktor-faktor lain yang mempengaruhi kepatuhan.
Hubungan Dukungan Keluarga dengan Harga Diri pada Siswa SMA 1 Barunawati Jakarta Barat Lestari, Arini Shulkha; Reni, Reni; Rahayu, Septirina
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.6028

Abstract

Remaja merupakan kelompok usia yang berada pada fase perkembangan kritis dan rentan terhadap berbagai perubahan psikososial, sehingga memerlukan dukungan yang memadai dari lingkungan terdekat, terutama keluarga, untuk menjaga kesejahteraan mentalnya. Salah satu aspek penting dari kesejahteraan mental remaja adalah harga diri, yaitu evaluasi individu terhadap nilai, keberhargaan, dan penerimaan terhadap dirinya sendiri. Dukungan keluarga yang meliputi dukungan emosional, informatif, instrumental, dan penghargaan berperan penting dalam membentuk persepsi diri yang positif pada remaja. Kurangnya dukungan keluarga dapat memicu munculnya penilaian diri negatif, kecemasan, stres, serta kesulitan dalam penyesuaian diri sosial dan akademik. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 51 siswa kelas XI yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dukungan keluarga yang dikembangkan oleh Fatmawati (2016) dan Aida (2021), serta Rosenberg Self-Esteem Scale untuk mengukur harga diri. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat dukungan keluarga tinggi (58,8%) dan harga diri tinggi (86,3%). Uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dan harga diri (r = 0,456; p = 0,001). Terdapat hubungan positif dengan kekuatan sedang antara dukungan keluarga dan harga diri. Semakin tinggi dukungan keluarga yang diterima, semakin tinggi pula harga diri siswa.
Hubungan Citra Tubuh Dengan Harga Diri Pada Remaja Di SMKN 32 Jakarta Selatan Aryani, Naurah Salsabilah; Reni, Reni; Rahayu, Septirina
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.6029

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara citra tubuh dan harga diri pada remaja di SMKN 32 Jakarta Selatan. Masa remaja merupakan periode perkembangan yang rentan terhadap perubahan fisik dan psikologis, sehingga persepsi terhadap tubuh dapat memengaruhi pembentukan harga diri. Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional dengan desain kuantitatif. Populasi penelitian terdiri dari 213 siswa kelas X SMKN 32 Jakarta Selatan. Sampel penelitian berjumlah 69 responden yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling, dengan penyesuaian berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi Multidimensional Body-Self Relations Questionnaire–Appearance Scales (MBRSQ-AS) untuk mengukur citra tubuh, Rosenberg Self-Esteem Scale untuk mengukur harga diri, serta Google Form sebagai media pengumpulan data. Analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman Rank untuk mengetahui kekuatan dan signifikansi hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara citra tubuh dan harga diri pada remaja, dengan nilai signifikansi sebesar 0,003 (p < 0,05). Sebagian besar responden memiliki tingkat harga diri sedang (62,3%), sementara lebih dari setengah responden (53,6%) menunjukkan citra tubuh negatif. Temuan ini mengindikasikan bahwa citra tubuh berperan penting dalam pembentukan harga diri remaja, namun persepsi negatif terhadap tubuh tidak selalu berimplikasi pada rendahnya harga diri. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan intervensi psikososial untuk meningkatkan kesejahteraan mental remaja.