Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Revitalisasi Makna Syukur sebagai Antitesis Budaya Hedonisme di Masyarakat Modern Faidza, Haura Nadine Nayla; Mansur, Syafiin
Bashirah Vol 6 No 2 (2025): Bashirah
Publisher : Prodi Komunikasi Penyiaran Islam Sekolah Tinggi Agama Islam As-Sunnah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51590/bashirah.v6i2.1153

Abstract

Fenomena hedonisme dalam masyarakat modern ditandai oleh dominasi orientasi pada kesenangan material, pencarian validasi sosial, serta perilaku konsumtif yang semakin dipengaruhi oleh media digital. Kondisi ini beriringan dengan pergeseran makna syukur, yang semula dipahami sebagai nilai spiritual dan kesadaran diri, namun kini cenderung direduksi menjadi simbol atau formalitas, sehingga berpotensi melahirkan perilaku berlebihan dan ketidakpuasan batin. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji peran syukur sebagai antitesis terhadap budaya hedonisme dalam kehidupan modern. Penelitian ini merupakan kajian konseptual berbasis studi pustaka dengan pendekatan interdisipliner yang mengintegrasikan perspektif psikologi positif dan ajaran Islam. Unit analisis difokuskan pada masyarakat modern yang terpapar media digital dan tekanan sosial. Data diperoleh dari artikel jurnal terindeks Sinta serta buku-buku relevan yang diterbitkan pada periode 2020–2025. Analisis dilakukan secara tematik dengan empat fokus utama, yaitu konsep syukur, hedonisme dan gaya hidup konsumtif, hubungan syukur dengan kesejahteraan psikologis dan finansial, serta perspektif Islam tentang keseimbangan hidup. Hasil kajian menunjukkan bahwa revitalisasi makna syukur berpotensi menjadi strategi spiritual, psikologis, dan kultural dalam mengendalikan perilaku konsumtif serta membangun kesejahteraan yang autentik. Kebaruan kajian ini terletak pada pengintegrasian perspektif religius, psikologis, dan media digital dalam memahami syukur sebagai pengendali perilaku dan penopang keseimbangan hidup.
A Comparative Study of Abraham Geiger and Al-Aṣfahānī on the Concept of Rabb Az Zahra, Priyantika Lesyaina; Mansur, Syafiin; Millah, Mus’idul
Abrahamic Religions: Jurnal Studi Agama-Agama Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Prodi Studi Agama-Agama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/arj.v6i1.34743

Abstract

Rabb is one of the central terms in the Qur’an that encompasses complex linguistic, semantic, and theological dimensions. This study aims to analyze and compare the views of Abraham Geiger and Al-Raghib al-Aṣfahānī regarding the concept of Rabb, while also examining the epistemological frameworks underlying their interpretations. This research employs a qualitative method with a comparative-analytical library research approach. The theoretical framework applied in this study is Hans-Georg Gadamer’s hermeneutics, particularly the concept of fusion of horizons in textual interpretation. The primary sources include Al-Aṣfahānī’s Al-Mufradāt fī Gharīb al-Qur’ān, Abraham Geiger’s Judaism and Islam, and Was hat Mohammed aus dem Judenthume aufgenommen?. The findings reveal that although both scholars depart from relatively similar etymological roots, they arrive at different understandings of the concept of Rabb. Al-Aṣfahānī interprets Rabb within the framework of Islamic theology as a divine concept related to tarbiyah, sustenance, and the absolute sovereignty of God. In contrast, Geiger approaches Rabb through a historical-comparative perspective, viewing it as a term shaped within Jewish rabbinic and broader Semitic traditions. These differences demonstrate that interpretations of the concept of Rabb are strongly influenced by intellectual traditions, historical backgrounds, and the pre-understandings of each interpreter
Filsafat Qur’ani Mengenai Deskripsi Manusia Mansur, Syafiin
Aqlania Vol. 10 No. 1 (2019): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.319 KB) | DOI: 10.32678/aqlania.v10i01.1991

Abstract

filsafat qurani merupakan pemikiran mendalam yang dilandasai Al-Qur’an yang menggambarkan manusia, baik secara bentuk atau model kejadian seperti Adam tanpa Bapak dan Ibu, Hawa tanpa Ibu tetapi ada Bapak, Isa ada Ibu tanpa ada Bapak dan Muhammad ada Bapak dan Ibu, sama seperti kita semua yang tercipta ada Bapak dan Ada Ibu melalui pernikahan yang syah. Kemudian manusia disebut dengan sebutan yang indah adalah an-Nas adalah makhluk sosial, al-Insan adalah makhluk bermoral, al-Basyar adalah makhluk biologis, al-Abdu adalah makhluk religious dan Bani Adam adalah makhluk historis.
Kebebasan Beragama Dalam Piagam Madinah Mansur, Syafiin
Aqlania Vol. 9 No. 1 (2018): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.034 KB) | DOI: 10.32678/aqlania.v9i01.2061

Abstract

Piagam Madinah terbentuk sebagai dokumentasi politik yang paling istimewa dalam sejarah Islam. Piagam ini merupakan konstiusi Negara pertama yang ditulis dalam sejarah pada abad ke-tujuh Masehi yang memuat 47 pasal yang sangat sistematis uraianya dari muqadimah, pembahasan dan penutup. Piagam Madinah ini memuat nilai pembentukan umat, hak asasi, persatuan seagama, persatuan segenap warga negara, golongan minoritas, melindungi negara, pimpinan negara, politik perdamaian. Piagam Madinah sebagai dokumen yang berisi nilai, norma, hukum dan aturan hidup bermasyarakat yang majemuk. serta ajaran dasar akan pengakuan tinggi atas perbedaan etentitas sosial dan politik, perbedaan agama dan keyakinan yang ada dalam kehidupan masyarakat. Piagam Madinah ini juga menjamin dan menlindungi semua elemen kehidupan umat beragama dalam menjalankan ajaran agamanya serta membangun hidup rukun dan damai, toleransi yang saling menghargai dan menghormati serta lemah lembut dan lapang dada sehingga menjadi nilai dasar kebebasan beragama yang toleransi tinggi.