Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh psychological well-being terhadap perilaku social climber pada mahasiswa di Kota Bekasi. Perilaku social climber, yang ditandai dengan penggambaran untuk orang yang menggunakan segala cara supaya bisa diterima oleh orang-orang yang memiliki status sosial lebih tinggi. Perilaku ini didorong oleh kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan dan perhatian dari orang lain, meskipun sering kali dinilai negatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasi dan regresi linear untuk melihat hubungan dan pengaruh antara psychological well-being dan perilaku social climber. Penelitian melibatkan 143 mahasiswa aktif di Kota Bekasi yang memiliki kecenderungan bergaul dengan individu populer dan aktif di media sosial. Data dianalisis menggunakan uji regresi dan teknik korelasi Pearson’s r. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara psychological well-being dan perilaku social climber. Semakin tinggi tingkat psychological well-being, semakin tinggi pula kecenderungan individu untuk menjadi social climber, dan sebaliknya. Penelitian ini menemukan bahwa 16,9% varians perilaku social climber dapat dijelaskan oleh psychological well-being, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain seperti kebutuhan psikologis dan lingkungan sosial. Penelitian ini mendukung temuan sebelumnya yang menyatakan bahwa social climber yang memiliki kontrol tinggi atas upaya mereka untuk mencapai status sosial cenderung memiliki tingkat psychological well-being yang lebih tinggi. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa upaya untuk mencapai status sosial yang lebih tinggi dapat berdampak positif pada kesejahteraan psikologis individu, meskipun motivasi dan tujuan di balik perilaku ini perlu diperhatikan untuk menghindari dampak negatif.