G. Tejakusuma, Iwan
Unknown Affiliation

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

INTERAKSI FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LONGSOR JATI RADIO DI KECAMATAN CILILIN KABUPATEN BANDUNG BARAT G. Tejakusuma, Iwan
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana Vol 12, No 1 (2017): Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.6 KB) | DOI: 10.29122/jstmb.v12i1.3700

Abstract

Longsor di Jati Radio, Kecamatan Cililin Kabupaten Bandung Barat merupakan longsor jenis sand flowslide. Longsor ini dipicu oleh curah hujan serta kemungkinan besar dikontrol oleh perubahan kondisi vegetasi akibat aktivitas manusia dan kondisi hidrogeologi setempat. Faktor penunjang lain adalah kemiringan lereng yang cukup curam dan jenis tanahnya yang didominasi oleh material berukuran pasir dengan permeabilitas agak tinggi. Hidrogeologi mencakup kondisi morfologi bawah permukaan yaitu variasi ketebalan antara tanah dan batuan dasar andesit sedikit terlapukkan yang menyerupai alur cekungan air.
SOIL BIOENGINEERING DAN PERANANNYA DALAM GEOLOGI LINGKUNGAN G. Tejakusuma, Iwan
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana Vol 11, No 1 (2016): Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5379.782 KB) | DOI: 10.29122/jstmb.v11i1.3684

Abstract

Pengetahuan tentang geologi lingkungan memegang peranan yang sangat penting dalam setiap perencanaan pembangunan dan aktivitas manusia  yang memanfaatkan lahan. Khususnya dalam pembangunan infrastruktur atau  keperluan lainnya maka pembukaan lahan dan pemotongan lereng tidak dapat dihindarkan. Akibatnya, bahaya yang mungkin terjadi diantaranya adalah erosi dan ketidakstabilan lereng. Untuk mencegah erosi dan ketidakstabilan lereng, salah satu upaya yang dilakukan adalah penerapan teknik soil bioengineering. Teknik ini menggunakan vegetasi untuk keperluan fungsi tersebut. Penerapan teknik ini memerlukan pemikiran yang serius dan hati hati terutama dalam hal fungsinya untuk meningkatkan kestabilan lereng.
KEMAMPUAN PENANGANAN TERHADAP ANCAMAN BENCANA TSUNAMI DI WILAYAH PESISIR KOTA CILEGON Yuliana, Diyah Krisna; G. Tejakusuma, Iwan
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana Vol 11, No 1 (2016): Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5379.386 KB) | DOI: 10.29122/jstmb.v11i1.3680

Abstract

Wilayah pesisir Kota Cilegon merupakan daerah rawan gempa dan tsunami, karena posisinya yang berbatasan langsung dengan Selat Sunda yang  memiliki bahaya gempa dan dekat dengan Gunung Anak Krakatau. Pada tahun  1883 pernah terjadi tsunami besar akibat letusan Gunung Krakatau yang telah memakan korban sekitar 36.000 jiwa. Risiko bencana tsunami akan sangat besar bagi Kota Cilegon karena terletak di wilayah pesisir dengan tingkat kepadatan penduduk dan aktivitas perekonomian yang cukup tinggi. Risiko bencana yang tinggi dapat diminimalisir jika suatu wilayah memiliki tingkat kemampuan penanganan  atau kapasitas yang tinggi. Oleh karena itu kajian tentang kemampuan penanganan terhadap bencana tsunami di kota ini menjadi sangat penting. Penilaian kemampuan penanganan terhadap ancaman bencana tsunami ini dilakukan dengan menggunakan metode MCE (Multi Criteria Evaluation) dan teknik GIS (Geographical Information System). Kesehatan, kesiapsiagaan dan jumlah penduduk bekerja adalah tiga indikator penting yang digunakan dalam penilaian kemampuan penanganan di wilayah pesisir Kota Cilegon. Berdasarkan analisis MCE dan SIG diketahui bahwa Desa atau Kelurahan Randakari dan Kubangsari adalah desa atau kelurahan yang memiliki kemampuan penanganan terhadap bencana tsunami yang paling tinggi.
BENCANA BANJIR BANDANG DI GARUT 20 SEPTEMBER 2016 G. Tejakusuma, Iwan
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana Vol 11, No 2 (2016): Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6467.579 KB) | DOI: 10.29122/jstmb.v11i2.3686

Abstract

Bencana banjir bandang terjadi di Garut pada 20 September 2016. Bencana ini merupakan bencana terbesar dalam sejarah kota ini dan menimbulkan korban jiwa sebanyak 33 orang tewas, 20 orang hilang tersapu aliran banjir bandang dan lebih dari 6300 orang mengungsi serta sekitar 2000 rumah mengalami kerusakan. Curah hujan yang sangat tinggi hingga mencapai di atas 150 mm atau tergolong ekstrim terjadi di hulu dan tengah Daerah Aliran Sungai Cimanuk. Perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi perkebunan menyebabkan run off menjadi semakin besar dan menyumbang faktor yang signifikan dalam terjadinya banjir bandang. Morfologi sungai berkelok pada setelah morfologi perbukitan dan pegunungan serta perkembangan permukiman di tepi sungai memberikan efek tingginya risiko bencana di Garut. Kombinasi curah hujan yang tinggi, perubahan penggunaan lahan dan morfologi sungai yang disertai dengan perkembangan permukiman di tepi sungai yang tidak ditata dengan baik menjadi faktor dominan untuk terjadinya bencana banjir bandang di Garut.
SOIL BIOENGINEERING DAN PERANANNYA DALAM GEOLOGI LINGKUNGAN G. Tejakusuma, Iwan
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana Vol 11, No 1 (2016): Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5379.782 KB) | DOI: 10.29122/jstmb.v11i1.3684

Abstract

Pengetahuan tentang geologi lingkungan memegang peranan yang sangat penting dalam setiap perencanaan pembangunan dan aktivitas manusia  yang memanfaatkan lahan. Khususnya dalam pembangunan infrastruktur atau  keperluan lainnya maka pembukaan lahan dan pemotongan lereng tidak dapat dihindarkan. Akibatnya, bahaya yang mungkin terjadi diantaranya adalah erosi dan ketidakstabilan lereng. Untuk mencegah erosi dan ketidakstabilan lereng, salah satu upaya yang dilakukan adalah penerapan teknik soil bioengineering. Teknik ini menggunakan vegetasi untuk keperluan fungsi tersebut. Penerapan teknik ini memerlukan pemikiran yang serius dan hati hati terutama dalam hal fungsinya untuk meningkatkan kestabilan lereng.
KEMAMPUAN PENANGANAN TERHADAP ANCAMAN BENCANA TSUNAMI DI WILAYAH PESISIR KOTA CILEGON Yuliana, Diyah Krisna; G. Tejakusuma, Iwan
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana Vol 11, No 1 (2016): Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5379.386 KB) | DOI: 10.29122/jstmb.v11i1.3680

Abstract

Wilayah pesisir Kota Cilegon merupakan daerah rawan gempa dan tsunami, karena posisinya yang berbatasan langsung dengan Selat Sunda yang  memiliki bahaya gempa dan dekat dengan Gunung Anak Krakatau. Pada tahun  1883 pernah terjadi tsunami besar akibat letusan Gunung Krakatau yang telah memakan korban sekitar 36.000 jiwa. Risiko bencana tsunami akan sangat besar bagi Kota Cilegon karena terletak di wilayah pesisir dengan tingkat kepadatan penduduk dan aktivitas perekonomian yang cukup tinggi. Risiko bencana yang tinggi dapat diminimalisir jika suatu wilayah memiliki tingkat kemampuan penanganan  atau kapasitas yang tinggi. Oleh karena itu kajian tentang kemampuan penanganan terhadap bencana tsunami di kota ini menjadi sangat penting. Penilaian kemampuan penanganan terhadap ancaman bencana tsunami ini dilakukan dengan menggunakan metode MCE (Multi Criteria Evaluation) dan teknik GIS (Geographical Information System). Kesehatan, kesiapsiagaan dan jumlah penduduk bekerja adalah tiga indikator penting yang digunakan dalam penilaian kemampuan penanganan di wilayah pesisir Kota Cilegon. Berdasarkan analisis MCE dan SIG diketahui bahwa Desa atau Kelurahan Randakari dan Kubangsari adalah desa atau kelurahan yang memiliki kemampuan penanganan terhadap bencana tsunami yang paling tinggi.
BENCANA BANJIR BANDANG DI GARUT 20 SEPTEMBER 2016 G. Tejakusuma, Iwan
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana Vol 11, No 2 (2016): Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6467.579 KB) | DOI: 10.29122/jstmb.v11i2.3686

Abstract

Bencana banjir bandang terjadi di Garut pada 20 September 2016. Bencana ini merupakan bencana terbesar dalam sejarah kota ini dan menimbulkan korban jiwa sebanyak 33 orang tewas, 20 orang hilang tersapu aliran banjir bandang dan lebih dari 6300 orang mengungsi serta sekitar 2000 rumah mengalami kerusakan. Curah hujan yang sangat tinggi hingga mencapai di atas 150 mm atau tergolong ekstrim terjadi di hulu dan tengah Daerah Aliran Sungai Cimanuk. Perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi perkebunan menyebabkan run off menjadi semakin besar dan menyumbang faktor yang signifikan dalam terjadinya banjir bandang. Morfologi sungai berkelok pada setelah morfologi perbukitan dan pegunungan serta perkembangan permukiman di tepi sungai memberikan efek tingginya risiko bencana di Garut. Kombinasi curah hujan yang tinggi, perubahan penggunaan lahan dan morfologi sungai yang disertai dengan perkembangan permukiman di tepi sungai yang tidak ditata dengan baik menjadi faktor dominan untuk terjadinya bencana banjir bandang di Garut.
INTERAKSI FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LONGSOR JATI RADIO DI KECAMATAN CILILIN KABUPATEN BANDUNG BARAT G. Tejakusuma, Iwan
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana Vol 12, No 1 (2017): Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.6 KB) | DOI: 10.29122/jstmb.v12i1.3700

Abstract

Longsor di Jati Radio, Kecamatan Cililin Kabupaten Bandung Barat merupakan longsor jenis sand flowslide. Longsor ini dipicu oleh curah hujan serta kemungkinan besar dikontrol oleh perubahan kondisi vegetasi akibat aktivitas manusia dan kondisi hidrogeologi setempat. Faktor penunjang lain adalah kemiringan lereng yang cukup curam dan jenis tanahnya yang didominasi oleh material berukuran pasir dengan permeabilitas agak tinggi. Hidrogeologi mencakup kondisi morfologi bawah permukaan yaitu variasi ketebalan antara tanah dan batuan dasar andesit sedikit terlapukkan yang menyerupai alur cekungan air.