Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Hubungan Antropometri Sefalofasial dengan Jenis Kelamin dan Tinggi Badan Raja Iswara
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 1 (2016): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.906 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i1.241

Abstract

Latar belakang : Pada jenazah yang tidak utuh (termutilasi), pengukuran bagian tertentu dari tubuh dapat dilakukan dalam identifikasi jenazah tersebut. Antropometri sefalofasial merupakan salah satu parameter penting yang dapat digunakan dalam identifikasi jenis kelamin, tinggi badan, maupun ras. Di Indonesia belum ada penelitian terkait hubungan antropometri sefalofasial dengan jenis kelamin dan tinggi badan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antropometri sefalofasial dengan jenis kelamin dan tinggi badan. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Subyek penelitian ini terdiri adalah mahasiswa kepaniteraan klinik di RSUP Dr. Kariadi Semarang periode Januari-Juli 2016, terdiri atas 200 orang laki-laki dan 200 orang perempuan yang memenuhi kriteria inklusi yaitu usia 21-26 tahun, ras mongoloid, dan tidak masuk dalam kriteria eksklusi. Antropometeri sefalofasial meliputi pengukuran panjang kepala, lebar kepala, lingkar kepala horizontal, diameter bigonial dan panjang wajah. Uji normalitas dengan Kolmogorov Smirnov yang dilanjutkan dengan uji korelasi Spearman untuk variabel jenis kelamin dan uji korelasi Pearson untuk variabel tinggi badan. Selanjutnya dilakuan uji regresi linear untuk menentukan rumus yang dapat digunakan dalam menentukan tinggi badan. Data dianalisis menggunakan SPSS 22. Hasil : Uji korelasi Spearman pada semua pengukuran antropometri sefalofasial dengan jenis kelamin adalah signifikan dengan nilai p < 0,05. Uji korelasi Pearson pada semua pengukuran antropometri sefalofasial dengan tinggi badan adalah signifikan dengan nilai p < 0.05. Simpulan : Terdapat hubungan signifikan antara semua pengukuran antropometri sefalofasial dengan jenis kelamin. Terdapat hubungan signifikan antara semua pengukuran antropometri sefalofasial dengan tinggi badan pada kedua jenis kelamin
Pola Perlukaan Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan Raja Al Fath Al Fath Widya Iswara; Ratna Relawati; Intarniati Nur Rohmah
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 3 (2017): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.877 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i3.336

Abstract

Latar Belakang : Kekerasan terhadap anak (KtA) dan perempuan (KtP) mempunyai angka kejadian yang tinggi di Indonesia, dimana setiap tahunnya menunjukkan peningkatan yang signifikan. Upaya meningkatkan kemampuan pendeteksian korban KtA maupun KtP bagi para dokter adalah dengan mengetahui pola perlukaan pada kekerasan baik terhadap anak maupun perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola perlukaan pada kekerasan terhadap anak dan perempuan. Metode: Penelitian deskriptif observasional dengan menggunakan data sekunder dari Rekam Medis korban kekerasan terhadap anak dan perempuan yang divisum di RS Bhayangkara Kota Semarang Periode Januari-Desember 2015. Hasil :Kekerasan terhadap anak terbanyak pada anak laki-laki (72%), Usia terbanyak korban KtA adalah usia 6-10 tahun, sedangkan usia terbanyak pada KtP 26-35 tahun. Bentuk kekerasan terbanyak pada KtA maupun KtP adalah kekerasan Fisik dengan jenis kekerasan tumpul. Jenis luka terbanyak pada KtA adalah luka memar, sedangkan jenis luka terbanyak pada KtP adalah luka lecet. Jumlah luka terbanyak pada KtA maupun KtP sebanyak 2-5 buah. Lokasi luka terbanyak pada KtA laki-laki di wajah, KtA perempuan di Genital, sedangkan lokasi luka terbanyak pada KtP di wajah. Simpulan : Terdapat pola perlukaan yang khas pada korban kekerasan terhadap anak dan perempuanyaitulukaakibat kekerasan tumpul berupa luka memar dan luka lecet, tidak mematikan, multipel dan paling banyak di wajah. Kata Kunci :Pola Perlukaan, Kekerasan, Anak, Perempuan
Perbandingan Visual Analogue Scale antara Pemberian Analgetik Asam Mefenamat, Paracetamol dan Ibuprofen Peroral Sebelum Sirkumsisi Agussalim Ali; Zida Maulina; Raja Al Fath; Muh. Zainsa Asfar
MEDULA JURNAL ILMIAH FAKULLTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO Vol 6, No 3 (2019): Edisi Suplemen
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.609 KB) | DOI: 10.46496/medula.v6i3.9637

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: Nyeri akibat operasi merupakan  keadaan  yang sangat dikuatirkan oleh pasien sebelum menjalani operasi. Warfield  dan  Kahn melaporkan  57% dari pasien  yang  akan dioperasi menaruh perhatian yang serius terhadap kekuatiran nyeri pasca operasi dan 80% dari mereka ternyata mengalami nyeri sedang sampai berat setelah operasi. Dalam sirkusmsisi analgesik yang biasa digunakan yaitu Asam Mefenamat, Paracetamol, dan Ibuprofen. Tujuan: Penelitian ini beetujuan untuk mengetahui perbandingan visual analogue scale (VAS) 1 jam setelah sirkumsisi (T1),2 jam setelah sirkumsisi (T2) dan 3 jam setelah sirkumsisi (T3) antara pasien dengan pemberian analgetik  asam  mefenamat,  paracetamol,  dan  ibuprofen  peroral  pre  sirkumsisi.  Metode:  Jenispenelitian  ini  termasuk  penelitian  quasi-experimental  dengan  model     posttest  design  only  yang dilakukan di wilayah Kec. Abuki. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 30 sampel, yang terdiri dari 10 sampel asam mefenamat, 10 sampel paracetamol, dan 10 sampel ibuprofen. Penelitan ini dianalisis menggunakan SPSS dengan uji kruskal-wallis. Hasil: Pada T1 menunjukan bahwa terdapat perbedaan rata – rata pada tiap kelompok pemberian obat. Asam mefenamat memiliki nilai rata - rata VAS 2,50, paracetamol 3.00 dan ibuprofen 2,30 dengan p-value 0,018. Pada T2 rata – rata VAS yaitu asam mefenamat 4,30, paracetamol 4,70 dan ibuprofen 4,10 dengan p-value 0,252. Pada T3 rata – rata VAS tiap kelempok obat yaitu, asam mefenamat 7,00, paracetamol 7,50, dan ibuprofen6,40 dengan p-value 0,003. Simpulan: Terdapat perbedaan rata-rata VAS pada T1, T2 dan T3, dengan kelompok terendah yaitu pada kelompok ibuprofen.Kata kunci : Asam mefenamat, Ibuprofen, Paracetamol, Sirkumsisi, Visual analogue scale.
Hubungan Antara Jenis Kelamin dengan Jumlah Luka Kasus Kekerasan Fisik pada Anak Waode Sitti Asfiah Udu; Murni Safitri M; Raja Al Fath Widya Iswara
MEDULA JURNAL ILMIAH FAKULLTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46496/medula.v8i1.15014

Abstract

Latar Belakang: kekerasan terhadap anak mencakup semua bentuk perlakuan yang salah baik secara fisik dan/atau emosional, seksual, penelantaran, dan eksploitasi yang berdampak atau berpotensi membahayakan kesehatan anak, perkembangan anak, atau harga diri anak dalam konteks hubungan tanggung jawab. Kekerasan fisik merupakan salah satu jenis kekerasan yang masih mendominasi sebaran jenis kekerasan pada anak. Berdasarkan jenis kelamin, kasus kekerasan terhadap anak lebih banyak terjadi pada anak perempuan di semua jenis kekerasan Tujuan : Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan jumlah luka kekerasan fisik pada anakMetode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik. Subyek terdiri dari 120 anak yang tercatat dalam Visum et Repertum korban kekerasan fisik pada anak di Rumah Sakit Bhayangkara Kendari. Data yang dikumpulkan mencakup karakteristik jenis kelamin, usia, jenis perlukaan dan jumlah luka. Untuk melihat keeratan hubungan dilakukan analisis dengan menggunakan uji Chi Square.Hasil : Subyek terdiri dari 85 (70,8%) anak laki-laki dan 35 (29,2%) dengan rentang usia 0-10 tahun sebanyak 5 (4,2%) anak dan usia 10-18 tahun sebanyak 115 (95,8%) anak. Jenis luka didominasi oleh luka memar sebanyak 45 (37,5%) dan gabungan antara jenis luka memar dan lecet sebanyak 31 (25,8%). Mayoritas subyek memiliki satu jenis luka tunggal sebanyak 52 (43,3%) anak. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan  jumlah luka kekerasan fisik pada anak (p> 0,05).Kesimpulan : Jenis kelamin tidak berhubungan dengan jumlah luka kekerasan fisik pada anak. Kata kunci:  Jenis kelamin, Jumlah Luka, Kekerasan fisik, Anak.
Penentuan Jenis Kelamin berdasarkan Indeks Kaninus (Sex Determination Based on Canine Index) Raja Al Fath Widya Iswara
MEDULA JURNAL ILMIAH FAKULLTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46496/medula.v7i2.11971

Abstract

Background: Identification is an effort made to determine a person's identity. One of the important things in identification is sex determination. Teeth are the hardest part of the human body and are protected in the oral cavity so they have a major role in forensic identification. Canine is the longest teeth and oftentimes used in identification. Purpose: To  determine the sex based on the canine index. Methods: An observational analytic cross-sectional study design with 250 research subjects of Halu Oleo University Medical Faculty students from October to December 2018, ages 18-25 years, who met the inclusion criteria, male (n = 125) and female (n = 125). Canine index by calculating the ratio of mesiodistal width (a measure of the width of canines measured from the two widest ends) divided by the distance between canines in four regions namely upper right jaw, upper left jaw, lower right jaw and upper left jaw. Result: Spearman correlation test results of canine index to sex, namely the upper right jaw value of p = 0.124, the upper left jaw value of p = 0.117, the right and right lower jaw with the p value = 0,000. Conclusion: The lower jaw canine index can be used in sex determination, where male have greater lower jaw canine index than female.Keywords: identification, canine index, sex ABSTRAKLatar Belakang: Identifikasi merupakan upaya yang dilakukan untuk menentukan identitas seseorang. Salah satu hal penting dalam identifikasi adalah penentuan jenis kelamin. Gigi merupakan bagian paling keras dari tubuh manusia dan terlindung di dalam rongga mulut sehingga mempunyai peran besar dalam identifikasi forensik. Kaninus/gigi taring merupakan gigi yang paling panjang diantara semua gigi dan sering digunakan dalam identifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penentuan jenis kelamin berdasarkan indeks kaninus. Metode: Penelitian analitik observasional rancangan cross sectional dengan 250 subyek penelitian mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo Periode Oktober-Desember 2018, usia 18-25 tahun, yang memenuhi kriteria inklusi, laki-laki (n=125) dan perempuan (n=125). Indeks kaninus dengan menghitung rasio lebar mesiodistal (ukuran lebar dari gigi taring yang diukur daripada kedua ujung yang terlebar) dibagi jarak antar kaninus pada empat regio yaitu rahang atas kanan, rahang atas kiri, rahang bawah kanan dan rahang bawah kiri. Hasil: Hasil uji korelasi Spearman indeks kaninus terhadap jenis kelamin yaitu pada rahang kanan atas nilai p=0,124, rahang kiri atas nilai p=0,117, rahang kanan dan kiri bawah dengan nilai p=0,000. Simpulan:  Indeks kaninus rahang bawah dapat digunakan dalam penentuan jenis kelamin, laki-laki mempunyai indeks kaninus rahang bawah lebih besar dibanding perempuan.Kata kunci: identifikasi, indeks kaninus, jenis kelamin
Pendeteksian dan Pencegahan Kekerasan terhadap Anak Sekolah Dasar Raja Al Fath Widya Iswara
Jurnal SOLMA Vol. 10 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v10i2.5473

Abstract

Background: Violence against children (KtA) is acts of physical, sexual, emotional abuse, or neglect of children. KtA is a complex problem and has a varied clinical spectrum, which will have an impact on the growth and development of children. Data from KPAI shows that the number of cases of violence against children in Indonesia has increased significantly every year at school age. This community service aims to detect current and past violence and prevent violence against elementary school children, especially in Lalolara Village, Kambu District, Kendari City. Method: A descriptive qualitative with techniques used in the form of anamnesis, physical examination and drug testing to detect violence against children and socialization of prevention of violence against elementary school children. Result: This service obtained 96 students, signs of violence currently 0 people (0%), a history of violence previously experienced as many as 39 people consisting of a history of physical violence 36 people (92.31%), 2 people (2.13%) and psychological violence. sexual violence 1 person (2.56%). Preventive action is carried out by socializing to children (students) and elementary school teachers in Lalolara village, Kambu sub-district, Kendari city. Extension materials include actions that are useful in recognizing the characteristics, impacts, and prevention of violence against children (KtA). Conclusions: From this dedication is that there are no signs of physical violence or drug use in children at this time, but most children have a history of physical abuse by their parents.
Upaya Tanggap Bencana Nasional Melalui Edukasi dan Pencegahan Penyebaran Covid-19 Di Kota Baubau Jamaluddin Jamaluddin; Sufiah Asri Mulyawati; Zida Maulina Aini; Sulastrianah Sulastrianah; Raja Al Fath Widyaiswara
Jurnal Pengabdian Kedokteran Indonesia Vol 1 No 1 (2020): September 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1455.619 KB) | DOI: 10.33096/jpki.v1i1.104

Abstract

Kota Bau – Bau terletak pada selat Buton yang mempunyai aktivitas kelautan yang sangat tinggi, berperan sebagai titik transit sekaligus daerah penghubung bagi jalur nasional sekunder. Coronavirus adalah zoonosis atau virus yang ditularkan antara hewan dan manusia. Penyebaran penyakit ini telah memberikan dampak luas secara sosial dan ekonomi. Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan dan pemahaman mengenai pencegahan dan penanganan covid-19. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi kegiatan daring maupun luring seperti edukasi kepada masyarakat melalui video penyuluhan, pembagian masker, Hand sanitizer, dan pembagian Alat pelindung Diri. Kegiatan yang dilakukan dalam pengabdian ini melibatkan seluruh elemen masyarakat secara bersama-sama, bersinergi, multidisiplin, dan bermitra sehingga dapat membantu mengendalikan penyebaran Covid 19 dan menurunkan jumlah kasus diwilayah Kota Bau Bau. Program kerja yang dilaksanakan berdasarkan potensi dan permasalahan yang ada di Kota Bau Bau. Hasil dari pengabdian masyarakat ini berupa edukasi penanganan dan pencegahan Covid 19 dan penerapan protokol kesehatan di era new normal, pendistribusian masker kain, pendistribusian hand sanitizer, pembuatan sarana cuci tangan, serta pembagian alat pelindung diri bagi tenaga medis di kota Bau Bau. Capaian dan luaran kegiatan pengabdian kepada masyarakat meliputi peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pencegahan Covid 19 dan penerapan protokol kesehatan, peningkatan penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat, tersedianya Alat Pelindung Diri bagi tenaga kesehatan khususnya pada puskesmas dan rumah sakit.
Effect of pH and neutrophil count on the motility and persistence of spermatozoa in the vagina of candidiasis rat models Iswara, Raja AW.; Hestiantoro, Andon; Budiningsih, Yuli; Werdhani, Retno A.; Birowo, Ponco; Wuyung, Puspita E.; Afandi, Dedi
Narra J Vol. 4 No. 2 (2024): August 2024
Publisher : Narra Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52225/narra.v4i2.823

Abstract

Sexual violence is a global issue affecting individuals regardless of their relationship to the perpetrator or the setting. Microscopic examination of spermatozoa from vaginal swabs is crucial in investigating cases of sexual intercourse to determine the time of the crime. Factors such as vaginal pH and neutrophil count influence the motility and persistence of spermatozoa in the vagina, particularly in conditions like candidiasis, highlighting the need for further research in this area. This study aimed to determine the effect of pH and neutrophil count on the motility and persistence of spermatozoa in the vagina with candidiasis. An experimental study was conducted using white rats (Rattus norvegicus) of the Wistar strain, with four male rats providing spermatozoa samples and 32 female rats receiving treatment. The female rats were divided into two groups: the normal group and the candidiasis model group. In both groups, the female rats were given vaginal insemination of spermatozoa. Variables measured included pH, neutrophil count, motility, and persistence of spermatozoa in the vagina. Data were analyzed using the Mann-Whitney test, followed by the Spearman correlation test. The findings revealed that spermatozoa motility lasted up to three minutes in normal rats, whereas in the candidiasis model, it was reduced to two minutes. Additionally, spermatozoa persistence in the vagina lasted up to six days in the normal group compared to up to three days in the candidiasis model. There were significant differences in pH, neutrophil count, motility, and persistence of spermatozoa in the vagina between the normal group and the candidiasis model (all had p<0.001). There was a correlation between pH and neutrophil count with the motility and persistence of spermatozoa in the rat’s vagina (p<0.001). In conclusion, vaginal pH and neutrophil count influence the motility and persistence of spermatozoa in the vagina of candidiasis rat models.
Penentuan Intravitalitas Gantung berdasarkan Gambaran Histopatologis Otak Besar Mencit Balb/c Iswara, Raja Al Fath Widya; Bhima, Sigid Kirana Lintang; Rohmah, Intarniati Nur
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 6 No. 2 (2019): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.077 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v6i2.387

Abstract

Latar Belakang : Asfiksia merupakan salah satu mekanisme kematian yang dapat terjadi akibat gantung. Otak merupakan salah satu organ penting yang dinilai dalam otopsi kasus gantung. Secara makroskopis tidaklah mudah membedakan temuan asfiksia pada otak yang terjadi antemortem dan perimortem. Adanya temuan asfiksia pada pemeriksaan mikrokopis dapat menentukan intravitalitas gantung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penentuan intravitalitas gantung berdasarkan gambaran histopatologis otakbesar mencit Balb/c. Metode : Penelitian eksperimental ini menggunakan post test only with control group design yang telah memenuhi kelayakan etik dengan sampel berjumlah 18 mencit Balb/c jantan yang dibagi menjadi tiga kelompok yaitu kelompok kontrol yang tidak diberi perlakuan, kelompok antemortem yang digantung saat masih hidup, kelompok perimortem yang digantung 15 menit setelah mati. Pada kelompok pelakuan mencit digantung selama 1 jam dengan tali yang ditambahkan beban 50 gram. Penilaian gambaran histopatologi otak besar berdasarkan reaksi inflamasi dan perdarahan. Hasil : Pada kelompok kontrol hampir tidak terdapat inflamasi dan perdarahan, pada kelompok antemortem terdapat inflamasi sedang hingga berat dan perdarahan berat, pada kelompok perimortem terdapat inflamasi dan perdarahan ringan hingga sedang. Pada uji Kruskal Wallis didapatkan perbedaan bermakna pada semua kelompok (p<0,05). Pada Uji Man Whitney didapatkan perbedaan yang bermakna pada parameter inflamasi dan perdarahan antara kelompok kontrol dengan kelompok antemortem dan perimortem, antara kelompok antemortem dan perimortem (p<0,05). Simpulan : Intravitalitas Gantung dapat ditentukan berdasarkan gambaran histopatologis otak besar mencit Balb/c dimana reaksi inflamasi dan perdarahan berat didapatkan pada kelompok antemortem. Kata Kunci: gantung, histopatologis, intravital, otak besar Hanging Intravitality Determination based on Cerebrum Histopathological Features in Balb/c Mice Abstract Background: Asphyxia is one of the death mechanisms that can occur due to hanging. The brain is one of the important organs autopsied in a hanging-related death case. Macroscopically, it is challenging to distinguish between asphyxiated brains occuring antemortem and those occurring perimortem. The presence of asphyxia on micro-examination can help determining the hanging intravitality. This study aims to determine hanging intravitality based on cereberum histopathological features in mice Balb/c mice. Method: This is a post test only experimental study with control group examining 18 male Balb/c mice in three groups involving untreated control group, antemortem group hanged during alive, perimortem group hanged 15 minutes after death. In the treatment groups, mice were hanged with 50 grams load for 1 hour. Determination of histopathological features is based on inflammatory and bleeding reactions. Results: Nearly no inflammation and bleeding was found in the control group, moderate to severe inflammation and heavy bleeding was found in the antemortem group, mild to moderate inflammation and bleeding was found in the perimortem group. The Kruskal Wallis test showed significant differences in all groups (p <0.05). The Man Whitney test found significant differences in the inflammatory and bleeding parameters between the control group and the antemortem and perimortem groups; between the antemortem and perimortem groups (p <0.05). Conclusion: The cerebrum histopathological features of the Balb/c mice can indicate hanging intravitality in which the antemortem group shows inflammatory reactions and heavy bleeding. Keywords: hanging, histopathological, intravital, cerebrum
Penentuan Jenis Kelamin berdasarkan Sidik Hypothenar Widya Iswara, Raja Al Fath; Rohmah, Intarniati Nur; Santosa, Santosa; Relawati, Ratna
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 7 No. 1 (2020): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.755 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v7i1.419

Abstract

Background : Hypothenar regio in palmar is an area that is often contact with surfaces while doing the activity which can establish print or pattern of protruding line (ridge) that can be used in identification process. One of the important identification to sex determination. The aims of this study is to sex determination based on hypothenar print. Methods : The study was a cross sectional study. Subjects were 300 students underwent clinical clerkship in Forensic and Medicolegal Dr. Kariadi Semarang hospital during October-December 2017, age 21-26 years, male (n = 150) and female (n = 150). Hypothenar print measured by calculating the average number of ridge hypothenar palm on the side of the top, middle and bottom in each area measuring 5 mm x 5 mm. A Mann-Whitney test was performed to analyze the the difference between left and right hypothenar ridge. Spearman correlation test was conducted to measure the association of hypothenar prints and sex. Results : In male, the average number of hypothenar ridge on the right palm was 10 (7-12)/25 mm2, while the left palm 10 (7-13)/25 mm2. In female, the average number of hypothenar ridge on the right palm was 12 (8-16)/25 mm2, while the left hand was 12 (8-16)/25 mm2. The was a significant difference between the right hand hypothenar ridge (p = 0.008) and the left hand hypothenar ridge (p = 0.017) between male and female. There was a significant correlation between hypothenar prints and sex (p = 0.000). Conclusion : Hypothenar prints can be use in sex determiation where female have more hypothenar ridge count and density than male.