Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kritisisme Kant dan Studi Agama Hudin, Nurul Amin
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol 9 No 2 (2019): Agustus
Publisher : Jurusan Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v9i2.3035

Abstract

Studi agama adalah kajian mengenai agama sebagai sebuah sistem yang urgen dan mandiri. Dalam perjalannya, model studi agama ini terbelah menjadi dua model, yaitu model studi agama yang dogmatif dan studi agama yang empiris. Keterbelahan paham dalam studi agama ini tentu akan mengantarkan pada pemahaman agama yang reduktif, bahkan bisa menyeret pada kesalahpahaman yang berujung konflik. Untuk mengurai permasalahan-permasalan pelik dikotomi studi agama tersebut, artikel ini mencoba untuk mengambil pelajaran dari kritisisme Immanuel Kant. Kritisisme Kant ini dimulai dengan menaruh kesangsian atas pemikiran kaum rasionalis yang begitu saja menerima pengetahuan-pengetahuan apriori. Namun, di sisi lain, Kant masih berusaha untuk menyelidiki bagaimana hal-hal apriori sebagai ilmu pengetahuan itu mungkin? Hingga akhirnya Kant menunculkan putusan sintesis apriori sebagai salah satu moda pengetahuan dan berhasil menyudahi keterbelahan paham antara kelompok rasionalis dan emirisis. Rancang bangun studi agama harus beranjak dari dikotomi dokmatis dan empiris, lalu mengadopsi sintesis rasionalisme dan empirisisme. Sebagaimana peringatkan oleh Kant baik pemikiran apriori maupun aposteriori jika berdiri sendiri, masing-masing mempunyai kelemahan sendiri-sendiri. Begitupun dengan studi agama, model dokmatis dan model empiris jika berdiri sendiri, maka masing-masing akan berujung pada pemahaman yang reduktif. Kata kunci: studi agama, empirisisme, dogmatisme, kritisisme, rasionalisme
Dilema Penggunaan “Syariah” Dalam Deklarasi-Deklarasi HAM Islam Hudin, Nurul Amin
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1863.216 KB) | DOI: 10.14421/lijid.v2i1.1879

Abstract

Among the many religions in the world, Islam is the only religion that explicitly declares the notion of human rights known as al-Bayàn al-`Alam ‘an Huqùq al-Insàn fi al-Islàm (Universal Declaration of Human Rights in Islam). Therefore, it is clear that Islam truly respects human rights. However, the use of the term "Islam" in the declaration implies that the declaration was based on sharia. Even though the principles of sharia in question tend to discriminate against other religious groups, slaves, and women. This article will explain some of the ambiguities in the Universal Declaration of Human Rights in Islam and suggest more adequate ideas in the enforcement of human rights campaigns in the Islamic world.