Budiman, Kalvin S.
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Mengubah Air Filsafat Menjadi Anggur Teologi Budiman, Kalvin S.
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11 No 2 (2010)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.89 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v11i2.233

Abstract

Apakah peran filsafat dalam teologi? Pemakaian filsafat dalam disiplin teologi memiliki sejarah yang panjang dan seringkali diterima dengan rasa curiga dan was-was. Kutipan di atas diambil dari salah satu tulisan Thomas Aquinas, seorang tokoh utama dalam sejarah Gereja di Abad Pertengahan, yang terkenal karena tafsirannya terhadap tulisan-tulisan filsuf besar Yunani, Aristoteles, dan karena usahanya untuk memakai filsafat dalam teologi. Pada akhirnya, di mata sebagian besar orang Kristen, Aquinas lebih diingat sebagai seorang filsuf ketimbang seorang teolog, apalagi penafsir Alkitab. Padahal jabatan yang diemban oleh Aquinas semasa hidupnya adalah sebagai baccalaureus biblicus dan magister in theologia. Khususnya di kalangan kaum injili, Aquinas memiliki reputasi yang kurang baik karena dianggap telah mencemari kemurnian injil atau teologi Kristen dengan racun pemikiran manusia atau filsafat. Kebalikan dari kesimpulan Aquinas sendiri sebagaimana yang ia ungkapkan dalam kutipan di atas, Aquinas justru sering dipakai sebagai contoh tentang bentuk penculikan teologi Kristen ke dalam ranah filsafat yang asing bagi injil. ... Di dalam tulisan yang tidak terlalu panjang ini, lewat pengamatan terhadap dua tokoh dalam sejarah Gereja, saya ingin mengajak pembaca untuk mempelajari kaitan dan peran filsafat dalam teologi. Tulisan ini bermaksud untuk membandingkan pemakaian filsafat oleh Thomas Aquinas dan oleh John Calvin. Tulisan ini juga bertujuan untuk menjawab kesalahpahaman umum terhadap kedua tokoh ini. Yang pertama (Aquinas) sering dianggap telah mencemari teologi Kristen dengan filsafat; yang kedua (Calvin) seringkali diabaikan dalam diskusi tentang peran filsafat dalam teologi. Kedua asumsi ini perlu diluruskan dengan tujuan untuk mempelajari dengan benar warisan pemikiran Kristen tentang kaitan antara filsafat dan teologi.