Public speaking, kemampuan berbicara di depan umum dengan percaya diri dan efektif, memainkan peran penting dalam berbagai aspek kehidupan seperti karier profesional, pendidikan, politik, dan aktivitas sosial. Meskipun penting, keterampilan ini seringkali kurang dikenal dan tidak diajarkan sejak dini, khususnya di tingkat sekolah dasar. Penelitian ini menyoroti pentingnya pengajaran public speaking sejak awal pendidikan dan mengidentifikasi kekurangan dalam praktik saat ini di kalangan siswa sekolah dasar. Dalam rangka mengatasi kekurangan ini, mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandira Kupang melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata Tematik di desa Lamabelawa, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur, dari April hingga Juni 2024. Program ini, yang dikenal sebagai "Suara yang Berbicara," bertujuan untuk melatih keterampilan public speaking anak-anak sekolah dasar melalui mendongeng cerita rakyat Nusa Tenggara Timur. Program ini difokuskan pada siswa usia 8-12 tahun dan menggunakan metode sosialisasi dan pelatihan untuk mengembangkan keterampilan berbicara di depan umum mereka. Hasil dari program ini menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam keterampilan public speaking siswa, dengan peningkatan dalam kepercayaan diri dan kemampuan berbicara yang jelas. Penilaian lomba yang diadakan menunjukkan bahwa beberapa siswa telah mencapai tingkat berbicara yang baik dengan penilaian positif dalam intonasi, gestur, dan pelafalan. Program ini juga mendapat respons positif dari guru dan orang tua, yang mengakui manfaat pelatihan dalam membantu siswa berbicara di depan umum dengan lebih baik. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pelatihan public speaking melalui cerita rakyat dapat menjadi metode efektif untuk mengasah keterampilan berbicara di depan umum pada anak-anak. Diharapkan, program serupa dapat diterapkan di sekolah-sekolah lain untuk memperkuat keterampilan public speaking sejak dini.