Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

HUBUNGAN TINGKAT RELIGIUSITAS DENGAN TINGKAT KECEMASAN MAHASISWA DI MASA PANDEMI COVID-19 wahyuni, indri; Sutarno; Andika, Rully
Jurnal Kesehatan Al-Irsyad Vol. 13 No. 2 (2020): Vol. 13, No. 2 Edisi September 2020
Publisher : UPT PPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Al Irsyad Al Islamiyyah Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.542 KB) | DOI: 10.36760/jka.v13i2.114

Abstract

World Health Organization (WHO) telah menetapkan COVID-19 sebagai pandemi pada 30 Januari 2020. Pandemi tidak hanya membawa risiko kematian akibat infeksi tetapi juga tekanan psikologis seperti kecemasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat religiusitas dengan tingkat kecemasan pada mahasiswa STIKES Al-Irsyad Al-Islamiyyah Cilacap di masa pandemi COVID-19 tahun 2020. Desain yang digunakan adalah survey analytic, dengan rancangan cross sectional. Besar sampel 84 mahasiswa STIKES Al-Irsyad Al-Islamiyyah Cilacap dengan teknik cluster random sampling adapun instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner Zung Self Rating-Anxiety Scale (ZSAS). Analisis bivariat menggunakan uji Somer’s D. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki tingkat religiusitas tinggi sebanyak 71 orang (84,5%) dan tingkat kecemasan ringan sebanyak 34 orang (40,5%). Hasil uji analisis statistik menggunakan Somer’s D diketahui p value 0,001 dan berdasarkan signifikansi α 0,05, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat religiusitas dengan tingkat kecemasan pada mahasiswa STIKES Al-Irsyad Al-Islamiyyah Cilacap di masa pandemi COVID-19 tahun 2020, dengan nilai keeratan sedang -0,534. Disarankan bagi masyarakat pada umumnya dan khususnya mahasiswa dapat meningkatkan religiusitas untuk mencegah, mengatasi, dan membantu dalam menghadapi gangguan kecemasan akibat COVID-19.
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEMAMPUAN PASIEN MENGONTROL HALUSINASI PADA PENDERITA SKIZOFRENIA Andika, Rully
Jurnal Kebidanan VOLUME 10. No. 01, JUNI 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Estu Utomo Boyolali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35872/jurkeb.v10i01.301

Abstract

ABSTRAKKeluarga adalah komponen penting yang memberikan dampak keberhasilan pada kesembuhan pasien halusinasi, karena dukungan keluarga yang berupa dukungan emosional memiliki peran penting selama pasien dirawat dirumah sakit dalam kemampuan pasien mengontrol halusinasi yang berupa menghardik, bercakap-cakap, melakukan kegiatan terjadwal, dan minum obat tepat waktu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kemampuan pasien mengontrol halusinasi pada penderita Skizofrenia. Jenis penelitian kuantitatif dengan desain descriptive correlational menggunakan rancangan pengambilan data secara cross sectional. Yang terdiri dari 77 responden keluarga pasien dengan halusinasi dan 77 pasien halusinasi. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Alat ukur menggunakan kuesioner tertutup dan checklist. Analisis bivariat menggunakan chi square.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga yang tidak memberikan dukungan emosional sebesar 39 orang (50,6%). Pasien yang tidak mampu mengontrol halusinasinya sebanyak 44 orang (57,1%). Terdapat hubungan antara dukungan emosional dengan kemampuan pasien mengontrol halusinasi di RSUD Banyumas, dengan pv = 0,000< 0,05.Kata kunci : Dukungan keluarga, kemampuan pasien mengontrol halusinasi, SkizofreniaFAMILY SUPPORT RELATIONSHIP WITH PATIENT ABILITY CONTROL HALUSINATION ON SKIZOFRENIA PATIENTSABSTRACTThe family is an important component that has an impact on the patient's success in hallucinations, as family support in the form of emotional support plays an important role during hospitalization in patients' ability to control hallucinatory hallucinations, chatting, scheduling and taking medication on time . This study aims to determine the relationship between family support and the ability of patients to control hallucinations in patients with schizophrenia .. Type of quantitative research with descriptive correlational design using the design of data collection cross-sectional. Which consisted of 77 respondents of patient families with hallucinations and 77 patients hallucinations. Sampling technique using purposive sampling. Measuring instruments using closed questionnaires and checklists. Bivariate analysis using chi square. The results showed that families who did not provide emotional support amounted to 39 people (50.6%). Patients who were unable to control their hallucinations were 44 people (57.1%). There is a relationship between emotional support and the patient's ability to control hallucinations at RSUD Banyumas, with pv = 0,000 <0.05.Keywords : Family support, patient's ability to control hallucinations, Schizophrenia
Penerapan Tesi Gawa Telur (Terapi Okupasi Pasca Gangguan Jiwa Pembuatan Telur Asin) Farkhah, Laeli; Hamdi, Hamdi; Andika, Rully; S, Trimeilia,; Ikhda, Resti; S, Putri M
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 2 (2026): Volume 8 Nomor 2 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i2.24210

Abstract

ABSTRACT Mental disorders have become a major focus of government attention. The number of mental disorder cases continues to increase each year. Data from the Ministry of Health (2018) show that approximately 400,000 people suffer from mental disorders, equivalent to 1.7 per 1,000 population. Central Java Province ranks third with a prevalence of mental disorders reaching 8.7%. The Tesi Gawa Telur Occupational Therapy aims to empower clients as an effort to optimize recovery, prevent relapse, support daily activities, and promote financial independence. This study aims to determine the outcomes of implementing Tesi Gawa Telur Occupational Therapy in preventing relapse among patients with mental disorders. This research employed a descriptive design using a case study approach involving seven respondents. Before the implementation of Tesi Gawa Telur Occupational Therapy, Ny. A, Ny. B, Ny. C, Ny. D, Tn. A, Tn. B, and Tn. C were categorized as having severe mental disorders. After receiving Tesi Gawa Telur Occupational Therapy for one week, consisting of three sessions per week with a duration of 1–2 hours over a six-month period, none of the patients experienced relapse. Tesi Gawa Telur Occupational Therapy can improve patients’ knowledge and skills in producing salted eggs and generate marketable products. This occupational therapy intervention can also prevent relapse in patients with mental disorders. Keywords: Mental Disorders, Tesi Gawa Telur Occupational Therapy, Relapse.  ABSTRAK Gangguan jiwa saat ini menjadi fokus perhatian pemerintah. Kasus gangguan jiwa setiap tahunnya mengalami peningkatan. Data Kementrian Kesehatan (2018) menunjukkan penderita ganggguan jiwa mencapai 400.000 jiwa atau sebesar 1,7 per 1.000 jiwa. Provisi Jawa Tengah menduduki peringkat ke tiga dengan jumlah penderita gangguan jiwa sebesar 8.7%. Terapi Okupasi Tesi Gawa Telur bertujuan untuk pemberdayaan klien sebagai upaya optimalisasi recovery, mencegah kekambuhan, aktivitas harian, dan mandiri secara finansial. Tujuan: Mengetahui hasil implementasi penerapan terapi okupasi Tesi Gawa Telur untuk mencegah kekambuhan. Metode: Penelitian ini bersifat bersifat deskriptif dengan desain penelitian studi kasus berjumlah 7 responden. Temuan: Sebelum diberikan terapi okupasi Tesi Gawa Telur Ny.A, Ny.B, Ny.C, Ny.D Tn.A, Tn.B, dan Tn.C dalam kategori gangguan jiwa berat. Setelah diberikan terapi okupasi Tesi Gawa Telur satu minggu 3 sesi dengan durasi 1-2 jam selama enam bulan, pasien tidak kambuh. Implikasi: Terapi Okupasi Tesi Gawa Telur dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan membuat telur asin serta menghasilkan produk layak jual. Terapi okupasi ini juga dapat mencegah kekambuhan pasien gangguan jiwa.  Kata Kunci: Gangguan Jiwa, Terapi Okupasi Tesi Gawa Telur, Kekambuhan.