Bongga, Sumarce
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Faktor Risiko Penyebab Anemia Pada Ibu Hamil di Puskesmas Makale Tahun 2016 Bongga, Sumarce
Nursing Inside Community Vol 1 No 1 (2018): Nursing Inside Community
Publisher : STIKES Nani Hasanuddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.762 KB) | DOI: 10.35892/nic.v1i1.7

Abstract

Anemia dalam kehamilan dapat berpengaruh buruk pada ibu hamil . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko terjadinya anemia pada Ibu hamil Di Puskesmas Makale. Penelitian ini observasional analitik dengan rancangan case control. Kasus adalah ibu hamil memeriksakan ke puskesmas Makale yang mengalami anemia berdasarkan hasil laboratorium. Kontrol adalah ibu hamil yang memeriksakan ke puskesmas dan tidak mengalami anemia berdasarkan hasil laboratorium. Sampel sebanyak 108 ibu hamil 54 kasus dan 54 kontrol. Pengolahan data menggunakan program SPSS dengan Odds Rasio dan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan kepatuhan mengkonsumsi tablet Fe, paritas, dan jarak kehamilan merupakan faktor risiko terhadap kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Makale tahun 2016. Kepatuhan mengkonsumsi tablet Fe, paritas dan jarak kehamilan merupakan faktor risiko anemia pada ibu hamil. Variabel paling berhubungan dengan anemia ibu hamil adalah kepatuhan mengkonsumsi tablet Fe. Penelitian ini menyarankan agar ibu hamil rutin megkonsumsi tablet Fe agar terhindar dari anemia, Ibu yang mempunyai paritas ? 4 rajin memeriksakan kehamilannya untuk memantau kesehatan janin dan ibunya, Agar PUS memperhatikan jarak kehamilan dalam merencanakan kehamilan berikutnya.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Ibu Gavida I Tentang Inisiasi Menyusu Dini (IMD) Di Puskesmas Sa’dan Kab. Toraja Utara Tahun 2018 Bongga, Sumarce
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 2 No. 2 (2019): May 2019
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1097.703 KB) | DOI: 10.56338/mppki.v2i2.563

Abstract

Inisiasi menyusu dini adalah segera meletakan bayi di dada ibu (ada kontak kulit ibu dan kulit bayinya sekurang-kurangnya 1 jam untuk memberikan kesempatan kepada bayi menyusu segera mungkin). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor apakah yang mempegaruhi pengetahuan ibu gravida 1 tentang Inisiasi menyusui dini di Puskesmas Sa’dan Kab. Toraja utara  tahun 2018. Jenis penelitian  ini adalah yang bersifat deskriptif, jumlah Sampel 25 0rang. Hasil penelitian menunjukan ibu pengetahuan baik tidak sekolah 1 (4%), pendidikan dasar 8 (32%), pendidikan menengah 9 (36%), dan perguruan tinggi 2 (8%). pengetahuan cukup tidak sekolah 1 (4%), pendidikan dasar 1 (4%), pendidikan menengah 2 (8%). Sedangkan pengetahuan kurang tidak sekolah 1 (4). Ibu dengan pengetahuan baik mendapat informasi melalui media cetak 4 (16%), media elektronik 6 (24%), penyuluhan 5 (20%) pengetahuan cukup mendapat informasi melalui media cetak 4 (16%), media elektronik 1 (4%), dan yang dari penyuluhan 4 (16%), sedangkan pengetahuan kurang mendapat informasi melalui penyuluhan 1 (4%). Ibu dengan pengetahuan baik bekerja 2 (8%), dan tidak bekerja 14 (56%) ibu pengetahuan cukup tidak bekerja 8 (32%), sedangkan ibu pengetahuan kurang tidak bekerja 1 (4%). Serta Ibu dengan pengetahuan baik umur < 20 tahun 3  (12%), dan umur 20-35 tahun 13 (52%), sedangkan pengetahuan cukup umur  < 20 tahun 4  (16%), dan umur 20-35 tahun 5 (20%), sedangkan pengetahuan kurang umur < 20 tahun 1 (4%). Berdasarkan hasil penelitian faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan ibu gavida I tentang Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah pendidikan dengan besar responden berada pada tingkat pengetahuan menegah (52%), sumber  informasi tentang IMD paling banyak dari media elektronik (40%), Pekerjaan responden tidak bekerja (IRT) sebanyak (92%), dan umur dengar rata-rata umur 20-30 tahun paling banyak adalah 18 orang (72%). Pada petugas kesehatan lebih aktif dengan kegiatan sosialisai dan edukasi IMD kepada masyarakat perluh lebih ditingkatkan lagi dengan melibatkan peran serta tenaga kesehatan.Â