Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

ANALISIS PEMANFAATAN HUTAN KOTA DI KOTA KOTAMOBAGU Paransi, Sundari E.; ., Sangkertadi; Wuisang, Cynthia E. V.
MEDIA MATRASAIN Vol. 18 No. 2 (2021)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/matrasain.v18i2.37065

Abstract

The urban forest is one type of urban green open space, which is an area in which there are dense and compact trees and is an important conservation in the urban environment. O2, the center of habitat for flora and fauna of liars, provider of urban aesthetics, etc. There are also Bonawang Urban Forests in Kotamobagu City – the benefits identified using Soil Surface Temperature were analyzed using ArcGIS, Air Quality Calculations, and the calculation of the minimum area of the urban forest. With the results that there are still areas with high temperatures of 29-30˚C, the IKU in urban forests is classified as moderate, the minimum area of urban forests for Kotamobagu City is 1,105.62 m2, around the industrial area because there is a Bulog factory 600 m from the City Forest. Bonawang, is still not prominent, and some people have not felt the benefits of urban forests from their homes.
ANALISIS PEMANFAATAN HUTAN KOTA DI KOTA KOTAMOBAGU Paransi, Sundari E.; ., Sangkertadi; Wuisang, Cynthia E. V.
MEDIA MATRASAIN Vol. 18 No. 2 (2021)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/matrasain.v18i2.37065

Abstract

The urban forest is one type of urban green open space, which is an area in which there are dense and compact trees and is an important conservation in the urban environment. O2, the center of habitat for flora and fauna of liars, provider of urban aesthetics, etc. There are also Bonawang Urban Forests in Kotamobagu City – the benefits identified using Soil Surface Temperature were analyzed using ArcGIS, Air Quality Calculations, and the calculation of the minimum area of the urban forest. With the results that there are still areas with high temperatures of 29-30˚C, the IKU in urban forests is classified as moderate, the minimum area of urban forests for Kotamobagu City is 1,105.62 m2, around the industrial area because there is a Bulog factory 600 m from the City Forest. Bonawang, is still not prominent, and some people have not felt the benefits of urban forests from their homes.
PUSAT KEISLAMAN DI KOTA TERNATE (STUDI BUDAYA ISLAM). Deconstruction of Islamic Structure Usman, Suhrawardi; ., Sangkertadi; Erdiono, Deddy
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 1, Mei 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i1.19304

Abstract

Islam sebagai suatu keyakinan yang mengajarkan pada kehidupan bermasyarakat yang lebih baik dan terarah ini, tidak terlepas dari pengaruh sistem kebudayaan yang telah mengakar pada masyarakat. Pengaruh inilah yang memunculkan akulturasi dan transformasi pada nilai tatanan keislaman yang ada. Kota Ternate merupakan salah satu kota dengan perkembangan Islam yang pesat ini dari akulturasi nilai keislaman dan kebudayaan masyarakat. Hal ini tentu saja dapat dilihat pada beberapa pratek-praktek keberagaman yang terjadi. Penghadiran Pusat Keislaman (Studi Budaya Islam) sebagai suatu pusat kegiatan keislaman yang dapat menjembatani kehidupan sosial masyarakat dengan nilai-nilai Islami. Pusat Keislaman (Studi Budaya Islam) ini dikhususkan pada fasilitas-fasilitas dengan fungsi muamalah sebagai pemenuhan akan eksistensi Masjid Raya Al-Munawwar yang merupakan pusat peribadatan masyarakat Kota Ternate. Bangunan ini tidak hanya difungsikan pada kegiatan-kegiatan muamalah tetapi terlebih khususnya pada fasilitas-fasilitas studi budaya Islam sehingga baik yang muslim maupun masyarakat non muslim dapat mengenal lebih dekat tentang nilai-nilai universal Islam dalam berbudaya. Pusat Keislaman (Studi Budaya Islam) ini dihadirkan dengan menggunakan pendekatan deconstruction of Islamic Culture sehingga pada akhirnya paradigma berbudaya masyarakat lebih terarah sesuai dengan nilai-nilai keislaman. Kata kunci : Akulturasi Budaya Islam, deconstruction of Islamic Culture, Pusat Keislaman (Studi Budaya Islam), Kota Ternate.
OCEANARIUM DI MANADO. Arsitektur Ikonik Taroreh, Julio B.; ., Sangkertadi; Moniaga, Ingerid L.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 1, Mei 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i1.19309

Abstract

Kota Manado adalah salah satu kota di Indonesia yang memiliki keindahan bawah laut yang sangat indah dan menarik. Untuk menikmati keindahan tersebut sebagian orang menikmati dengan cara menyelam dan snorkeling. Namun sebagian orang yang ingin menikmati keindahan bawah laut tersebut dibatasi oleh keahlian menyelam serta snorkeling yang kurang dan keterbatasan fisik serta umur.  Tujuan perencanaan ini diantaranya menghadirkan objek wisata bawah laut di kota Manado, menciptakan fasilitas bawah laut yang bersifat rekreasi dan edukasi, serta mengembangkan tingkat pariwisata khususnya alam bawah laut di Manado.Metode perancangan dengan pendekatan fungsi aspek utama yaitu pendekatan tematik, tipologi objek dan analisis tapak serta lingkungannya.Hasil perancangan Oceanarium di Manado ini menggunakan konsep “Arsitektur Ikonik” dimana penerapan perancangan bangunan yang berskala besar serta bentuk yang atraktif dan menciptakan bangunan sebagai ikon kota Manado. Kata Kunci: Oceanarium, Manado, Arsitektur Ikonik
NEO PESANTREN DI MANADO. Heterotopia - Disorder dalam Order ., Zahra; ., Sangkertadi; Erdiono, Deddy
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i2.20827

Abstract

Kota Manado yang merupakan ibukota sekaligus kota terbesar di provinsi Sulawesi Utara, meskipun mayoritas penduduknya adalah non muslim tetapi merupakan kota dengan jumlah penduduk muslim tertinggi dibandingkan dengan kota/kabupaten lain di provinsi ini. Berdasarkan hal tersebut, pastinya diperlukan pewadahan untuk berbagai kegiatan dan aktivitas penduduk muslim di Kota Manado yang memadai dan sesuai kebutuhan masyarakat muslim. Pesantren adalah lembaga pendidikan agama islam yang berperan penting dalam pendidikan agama islam. Di Kota Manado sudah ada beberapa pendidikan berformat pesantren, hanya saja minat penduduk terhadap pendidikan pesantren masih rendah. Hal ini karena system dan pelayanan pesantren yang masih belum sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidup masyarakat, dalam hal ini masyarakat perkotaan. Neo pesantren adalah pembaruan terhadap konsep pesantren guna merencanakan dan merancang konsep pesantren yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidup masyarakat modern, dalam hal ini tanpa menghilangkan inti dari pesantren yaitu agama islam. Tema rancangan yaitu Heterotopia dianggap sesuai dengan konsep perancangan Neo Pesantren. Dimana konsep Disorder (penyimpangan) pada tema adalah untuk menciptakan pembaruan pada perancangan, serta konsep Order (keteraturan) adalah untuk mengontrol pembaruan pembaruan yang akan di rencanakan yaitu sesuai dengan pendidikan agama Islam.Kata kunci : Kota Manado, Neo Pesantren, Heterotopia, Order, Disorder