Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

DARI PUISI MENUJU RUANG DAN BENTUK : THE RITES OF THE BALI AGA (Metafora Konsep Desain Arsitektur melalui Telaah Strukturalisme-Semiologis Karya Sastra) Sihotang, Jonathan Hans Yoas
MEDIA MATRASAIN Vol 14, No 2 (2017)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Arsitektur dan sastra memiliki kesetaraan sebagai sebuah produk budaya, yang karenanya, dapat saling memberikan inspirasi dalam proses kreasi meski berbeda wujud. Kesetaraan ini yang memungkinkan kita menggali ide ruang melalui karya lain, dalam hal ini karya sastra puisi sebagai pemampatan ide dalam bentuk karya tulisan. Melalui kanal metafora, sebuah karya sastra dapat ‘dibedah’ strukturnya untuk memberikan pengertian yang lebih dalam terhadap sebuah tulisan dan ide yang disampaikan, untuk kemudian sari dan strukturnya dijadikan sebagai inspirasi bagi karya lain tanpa perlu terjebak dalam kenaifan.Melalui sebuah studi kualitatif untuk melihat makna dan struktur penyampaian sebuah karya, maka perpaduan pendekatan strukturalis – semiologis dipakai sebagai alat analisa. Pendekatan strukturalis dipakai untuk melihat sesuatu sebagai sebuah struktur yang otonom, dan pendekatan semiologis dipakai untuk melihat tanda dan makna yang terkonvensi; sehingga  pembacaan sebuah karya, sebelum dipakai sebagai bahan metafora bagi karya lain, akan lengkap.The Rites of the Bali Aga, sebuah puisi karya sastrawan angkatan 60 Indonesia: Sitor Situmorang dipilih untuk dijadikan bahan kaji, setahun setelah kepergiannya. Karya ini erat dengan romantisme ‘place’ dan budaya lokal Bali meski disampaikan dengan bahasa Inggris, serta sarat dengan permainan kata yang kompleks namun tersaji dalam kesederhanaan struktur penyampaian, khas Sitor. Olahan struktur pikir dan makna ini diterjamahkan ke dalam konsep fungsi-bentuk, peruntukan bangunan, urutan ruang, irama, suasana, serta konsep artikulasi bentuk, sesuai analisa pembacaan puisi yang didapat.Dengan prinsip ‘memandang sesuatu sebagai sesuatu yang lain, dapat membuka kesempatan untuk memperkaya desain arsitektur tanpa harus terbelenggu fungsi semata serta tetap mengakar pada esensi. Pendekatan ini memanfaatkan kesetaraan produk budaya sebagai alat menggali ide dan menyampaikan makna.Kata Kunci: metodologi desain, metafora, strukturalisme, semiologi, sastra, konsep.
DARI PUISI MENUJU RUANG DAN BENTUK : THE RITES OF THE BALI AGA (Metafora Konsep Desain Arsitektur melalui Telaah Strukturalisme-Semiologis Karya Sastra) Jonathan Hans Yoas Sihotang
MEDIA MATRASAIN Vol. 14 No. 2 (2017)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v14i2.16604

Abstract

Arsitektur dan sastra memiliki kesetaraan sebagai sebuah produk budaya, yang karenanya, dapat saling memberikan inspirasi dalam proses kreasi meski berbeda wujud. Kesetaraan ini yang memungkinkan kita menggali ide ruang melalui karya lain, dalam hal ini karya sastra puisi sebagai pemampatan ide dalam bentuk karya tulisan. Melalui kanal metafora, sebuah karya sastra dapat ‘dibedah’ strukturnya untuk memberikan pengertian yang lebih dalam terhadap sebuah tulisan dan ide yang disampaikan, untuk kemudian sari dan strukturnya dijadikan sebagai inspirasi bagi karya lain tanpa perlu terjebak dalam kenaifan.Melalui sebuah studi kualitatif untuk melihat makna dan struktur penyampaian sebuah karya, maka perpaduan pendekatan strukturalis – semiologis dipakai sebagai alat analisa. Pendekatan strukturalis dipakai untuk melihat sesuatu sebagai sebuah struktur yang otonom, dan pendekatan semiologis dipakai untuk melihat tanda dan makna yang terkonvensi; sehingga  pembacaan sebuah karya, sebelum dipakai sebagai bahan metafora bagi karya lain, akan lengkap.The Rites of the Bali Aga, sebuah puisi karya sastrawan angkatan 60 Indonesia: Sitor Situmorang dipilih untuk dijadikan bahan kaji, setahun setelah kepergiannya. Karya ini erat dengan romantisme ‘place’ dan budaya lokal Bali meski disampaikan dengan bahasa Inggris, serta sarat dengan permainan kata yang kompleks namun tersaji dalam kesederhanaan struktur penyampaian, khas Sitor. Olahan struktur pikir dan makna ini diterjamahkan ke dalam konsep fungsi-bentuk, peruntukan bangunan, urutan ruang, irama, suasana, serta konsep artikulasi bentuk, sesuai analisa pembacaan puisi yang didapat.Dengan prinsip ‘memandang sesuatu sebagai sesuatu yang lain, dapat membuka kesempatan untuk memperkaya desain arsitektur tanpa harus terbelenggu fungsi semata serta tetap mengakar pada esensi. Pendekatan ini memanfaatkan kesetaraan produk budaya sebagai alat menggali ide dan menyampaikan makna.Kata Kunci: metodologi desain, metafora, strukturalisme, semiologi, sastra, konsep.
IDENTIFIKASI TRANSFORMASI ARSITEKTUR : PASAR CINDE PALEMBANG: IDENTIFIKASI TRANSFORMASI ARSITEKTUR : PASAR CINDE PALEMBANG Indri Astrina Wirakusumah; R.A Sunia Widiaswara; Jonathan Hans Yoas Sihotang
Ide dan Dialog Desain Indonesia (Idealog) Vol 11 No 1 (2026): Jurnal Idealog Vol 11 No 1
Publisher : Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/idealog.v11i1.8968

Abstract

Abstract : This study examines the transformation of Pasar Cinde in Palembang within the architectural and environmental health context based on healthy market standards. As one of the oldest traditional markets, Pasar Cinde has undergone significant changes due to demolition and an unfinished modernization project, leading to spatial disorganization and a decline in environmental quality. This study assesses the market’s compliance with healthy market standards using an architectural anatomy approach, covering the environment, site, and buildings. The research employs a qualitative method with a descriptive-analytical approach through six stages: (1) documenting the market's condition before and after demolition, (2) classifying architectural elements, (3) comparing significant changes, (4) developing an evaluation matrix, (5) identifying the impact of transformation, and (6) drawing conclusions and recommendations. The findings indicate that Pasar Cinde’s feasibility declined from 55.5% before demolition to 20% afterward. Several key aspects were not met, including air circulation, natural lighting, drainage, cleanliness, and visitor and vendor comfort. However, there is potential for improvement in architectural aspects, such as better parking management, optimization of natural and artificial lighting, and more efficient spatial management. With the evaluation matrix, this study provides an objective assessment of the market’s post-transformation condition and offers recommendations to improve Pasar Cinde’s compliance with healthy and sustainable market principles. Keyword : Architectural anatomy, architectural transformation, healthy market, Pasar Cinde, sustainability.