Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Pengaruh fungsi kampus Universitas Widya Mataram dalam mengubah tata ruang dan bentuk bangunan di kompleks Dalem Mangkubumen, Yogyakarta Yuniastuti, Tri; Murti, Desy Ayu Krisna
JURNAL ARSITEKTUR PENDAPA Vol. 7 No. 1 (2024): Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Widya Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37631/pendapa.v7i1.1381

Abstract

Dalem Mangkubumen awalnya adalah rumah tinggal Pangeran dari Kraton Yogyakarta, yaitu Pangeran Adipati Anom calon Sultan Hamengkubuwono VII. Dalem Mangkubumen yang dibangun tahun 1874-1905 tersebut telah mengalami berbagai fungsi, awalnya sebagai rumah Pangeran, hunian kerabat Kraton, hingga menjadi kampus Universitas Gadjah Mada (1949-1982) dan kampus Universitas Widya Mataram sejak tahun 1982 hingga saat ini. Perubahan fungsi tersebut menyebabkan penambahan bangunan baru yang memadati komplek Dalem Mangkubumen. Munculnya bangunan-bangunan baru tersebut mengakibatkan perubahan tata ruang dan bentuk bangunan pada beberapa bagian. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi seberapa banyak peran Universitas Widya Mataram dalam mempengaruhi perubahan tata ruang maupun bentuk bangunan dalam komplek Dalem Mangkubumen seperti yang nampak pada saat ini. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif historis secara deskriptif dan grafis dengan observasi visual dan penelusuran dokumen untuk menemukan jejak kronologis terbentuknya tata ruang dan bentuk bangunan yang baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan ruang kegiatan kampus Universitas Widya Mataram, telah terjadi beberapa perubahan bentuk pada bangunan asli, penambahan bangunan baru, pemanfaatan ruang terbuka untuk fungsi baru. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan pelestarian dalem Mangkubumen sebagai bangunan bersejarah yang perlu dikembalikan pada tata ruang dan bentuk aslinya serta penyesuaian penggunaannya.
Comparing Public Space for Women in Mlangi, Yogyakarta and Cumalikizik, Bursa Murti, Desy Ayu Krisna; Akyol, Ozlem
Journal of Asian Wisdom and Islamic Behavior Vol. 2 No. 1 (2024)
Publisher : JAWAB: Journal of Asian World and Islamic Behavior Journal of Asian World and Islamic Behavior

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59371/jawab.v2i1.64

Abstract

Public space is an extremely vital necessity in social life. In architecture, public space belongs to everyone living in an area, city, or settlement. Public spaces like communal spaces have particular profiles. If we talk about the need for gender determination, we can say more about women’s space. Yogyakarta and Bursa are similar cities characterized with a majority of Muslim citizens. Both have Muslim Settlements known, respectively, as Pathok Negoro and the area of Cumalikizik. Pathok Negoro, specifically located in Mlangi, has two patterns to encircling the number of nodes for the public spaces in the form of prayer room/mushola and pondok pesantren (Islamic boarding school) as the new nuclei at the neighborhood level. These spaces are special for women and an imam who leads in each Mushola or prayer room. The existence of two neighborhood levels in Mlangi is based on religious activities, namely of the santri (Islamic boarding school students) and Mlangi citizens. Mlangi accommodates several pondok pesantren so there is ample space to expand (multi nuclei/polycentric). Around the Cumalikizik area, there is a camii or Mosque and it serves as the most central communal space for women.