Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

SEMIOTIKA BATIK BANYUMASAN SEBAGAI BENTUK IDENTITAS BUDAYA LOKAL MASYARAKAT BANYUMAS Saraswati, Hana; Iriyanto, Ery; Putri, Hermi Yuliana
Piwulang : Jurnal Pendidikan Bahasa Jawa Vol 7 No 1 (2019): Piwulang Jawi
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.608 KB) | DOI: 10.15294/piwulang jawa.v7i1.31435

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui bentuk motif batik Banyumasan sebagai bentuk identitas kearifan budaya lokal masyarakat Banyumas, (2) mengetahui makna yang terkandung dalam batik Banyumasan sebagai bentuk identitas kearifan budaya lokal masyarakat Banyumas, (3) mengetahui nilai filosofis yang terkandung dalam batik Banyumasan sebagai bentuk identitas kearifan budaya lokal masyarakat Banyumas. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini yaitu Banyumas memiliki motif khas batik Banyumasan diantaranya Lumbon, Jahe Serimpang, Gemek Setekem, Ayam Puger, Babon Angrem, Sekar Surya, Pring Sedapur, Serayuan, Godhong Kosong, Tirta Teja, Sida Mukti, Sida Luhur, Sekar Jagad, dan Udan Riris. Corak yang diambil menggambarkan masyarakat yang menyatu dengan alam. Makna dalam motif-motif tersebut menggambarkan masyarakat yang senantiasa menjaga hubungan sesama manusia, lingkungan dan Sanng Pencipta serta senantiasa menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat.
Tembang Macapat: Kritik Sosial Sedulur Sikep terhadap Ekspansi Industri Semen di Pegunungan Kendeng Iriyanto, Ery
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 8 No 2 (2020): Sutasoma: Jurnal Sastra Jawa
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v8i2.43185

Abstract

Macapat song is an ancestral heritage that contains life guidance for the Javanese. Each lyric or cakepan of the Macapat song has a deep meaning. However, for Sedulur Sikep Sukolilo Pati, the macapat song was used as a social criticism of the plan to build a cement factory in the Kendeng Utara mountains. Cakepan macapat song is adapted to the social criticism that is to be conveyed through the song. This research uses literary criticism studies (expressive criticism) with a descriptive analysis approach. The research data is in the form of cakepan tembang macapat. Sources of research data, namely Sedulur Sikep figures and social media. Methods of data collection using observation, interviews, and documentation. Data analysis using data reduction techniques, data presentation, and data verification. The results showed that the social criticism used by Sedulur Sikep through the macapat song consisted of five Pangkur songs and one Dhandhanggula song. The social criticisms include, 1) farmers land planted with cement factories, 2) justice must be upheld, 3) casualties caused by miners, 4) the government torments farmers, 5) the earth begins to prosecute nature destroyers, 6) commemoration of earth day is useless. Keywords: macapat song, social criticism, Sedulur Sikep, cement industry, Kendeng mountains.
Tembang Macapat: Kritik Sosial Sedulur Sikep terhadap Ekspansi Industri Semen di Pegunungan Kendeng Iriyanto, Ery
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 8 No 2 (2020): Sutasoma: Jurnal Sastra Jawa
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v8i2.43185

Abstract

Macapat song is an ancestral heritage that contains life guidance for the Javanese. Each lyric or cakepan of the Macapat song has a deep meaning. However, for Sedulur Sikep Sukolilo Pati, the macapat song was used as a social criticism of the plan to build a cement factory in the Kendeng Utara mountains. Cakepan macapat song is adapted to the social criticism that is to be conveyed through the song. This research uses literary criticism studies (expressive criticism) with a descriptive analysis approach. The research data is in the form of cakepan tembang macapat. Sources of research data, namely Sedulur Sikep figures and social media. Methods of data collection using observation, interviews, and documentation. Data analysis using data reduction techniques, data presentation, and data verification. The results showed that the social criticism used by Sedulur Sikep through the macapat song consisted of five Pangkur songs and one Dhandhanggula song. The social criticisms include, 1) farmers land planted with cement factories, 2) justice must be upheld, 3) casualties caused by miners, 4) the government torments farmers, 5) the earth begins to prosecute nature destroyers, 6) commemoration of earth day is useless. Keywords: macapat song, social criticism, Sedulur Sikep, cement industry, Kendeng mountains.
SEMIOTIKA BATIK BANYUMASAN SEBAGAI BENTUK IDENTITAS BUDAYA LOKAL MASYARAKAT BANYUMAS Saraswati, Hana; Iriyanto, Ery; Putri, Hermi Yuliana
Piwulang : Jurnal Pendidikan Bahasa Jawa Vol 7 No 1 (2019): Piwulang : Jurnal Pendidikan Bahasa Jawa
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/piwulang jawa.v7i1.31435

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui bentuk motif batik Banyumasan sebagai bentuk identitas kearifan budaya lokal masyarakat Banyumas, (2) mengetahui makna yang terkandung dalam batik Banyumasan sebagai bentuk identitas kearifan budaya lokal masyarakat Banyumas, (3) mengetahui nilai filosofis yang terkandung dalam batik Banyumasan sebagai bentuk identitas kearifan budaya lokal masyarakat Banyumas. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini yaitu Banyumas memiliki motif khas batik Banyumasan diantaranya Lumbon, Jahe Serimpang, Gemek Setekem, Ayam Puger, Babon Angrem, Sekar Surya, Pring Sedapur, Serayuan, Godhong Kosong, Tirta Teja, Sida Mukti, Sida Luhur, Sekar Jagad, dan Udan Riris. Corak yang diambil menggambarkan masyarakat yang menyatu dengan alam. Makna dalam motif-motif tersebut menggambarkan masyarakat yang senantiasa menjaga hubungan sesama manusia, lingkungan dan Sanng Pencipta serta senantiasa menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat.