Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

KEWARGANEGARAAN INKLUSIF: MENEMPATKAN MODEL BUDAYA DISABILITAS DALAM TEORI MULTIKULTURAL LIBERAL WILL KYMLICKA Rustam, Hanandhia Lindsy; Putri, LG. Saraswati
Multikultura Vol. 2, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan cultural model of disability atau model budaya disabilitas dalam teori multikultural liberal Will Kymlicka. Status kewarganegaraan disabilitas seringkali masih diturunkan menjadi kewarganegaraan pasif atau parsial yang patut dikasihani dan mendapat perhatian paternalistik. Kemunculan advokasi disabilitas sebagai hak kelompok dan bukan hak individu baru-baru ini menuntut kita untuk mengevaluasi secara lebih menyeluruh konsepsi disabilitas sebagai sebuah kelompok non-etnis namun bersifat budaya yang menegosiasikan tempat mereka di wilayah negara. Model budaya disabilitas inilah yang sejalan dengan tujuan teori multikultural liberal Will Kymlicka yang menyatakan bahwa masyarakat yang beragam membutuhkan lebih dari sekedar akses yang setara dan hak-hak dasar namun juga jaminan substantif untuk memenuhi kebutuhan spesifik dan kerentanan kelompok tertentu.
INTERNALISASI MISOGINI: KEKERASAN SEKSUAL SEBAGAI SENJATA PERANG Hanryana, Umanitya Fitri; Putri, LG. Saraswati
Paradigma: Jurnal Kajian Budaya Vol. 15, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the role of internalized misogyny in sexual violence used as a weapon of war. Misogyny in patriarchal cultures fosters hatred towards women, facilitating sexual violence in armed conflicts. Cases in the Congo, Rwanda, Ukraine, and Yugoslavia demonstrate how sexual violence is systematically employed to demean and destroy women. Through a feminist critical approach and qualitative analysis, this research reveals that sexual violence in war is often not recognized as a weapon of war due to the inferior position of women in patriarchal societies, being merely seen as ordinary crimes despite being systematic and structured human rights violations. Findings indicate that women in war experience layered violence based on their gender, ethnicity, and nationality. Internalized misogyny normalizes sexual violence in war. Therefore, feminist-oriented laws and policies are required to acknowledge women's human rights as part of human rights and provide justice for victims of sexual violence. This study underscores the importance of feminist education to eradicate misogyny and patriarchal cultures. Furthermore, recognition and rehabilitation of sexual violence victims in war zones are necessary to restore affected communities. The author hopes future research will delve deeper to break the impunity in human rights violations and keep the memory of victims and the struggle for justice alive.