Mahasiswa dipandang oleh masyarakat sebagai calon intelektual bangsa. Sebagian mahasiswa, atas berbagai pertimbangan, memutuskan berkuliah sambil bekerja sebagai marbut. Marbut adalah seseorang yang bertugas menjaga dan mengurus masjid. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan dan memahami pengalaman mahasiswa yang menjadi marbut.Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif fenomenologis dengan metode analisis eksplikasi data. Partisipan dalam penelitian ini adalah tiga orang mahasiswa dan sudah bekerja menjadi marbut lebih dari satu tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam dengan metode wawancara semi-terstruktur. Hasil penelitian menunjukan alasan terbesar ketiga subjek bekerja menjadi marbut adalah karena ingin mencari lingkungan yang bisa membantu subjek menjaga rutinitas ibadah. Kondisi ekonomi keluarga juga menjadi faktor tambahan yang menyebabkan ketiga subjek memutuskan untuk bekerja menjadi marbut. Dua dari tiga subjek juga bekerja paruh waktu di luar masjid untuk menambah penghasilan. Selama menjadi marbut ketiga subjek merasakan adanya peningkatan dalam religiusitas yang dilihat dari adanya peningkatan dimensi-dimensi religiusitas yaitu dimensi pengetahuan agama, dimensi efek atau pengalaman, dan dimensi praktik keagamaan. Ketiga subjek selama menjadi marbut juga membangun hubungan hangat dengan takmir dan warga di lingkungan masjid, berhasil melakukan penyesuaian ketika kewalahan menjalankan kegiatan tugas, dan memiliki rencana yang ingin dicapai di masa depan. Ketiga subjek menunjukan peningkatan dalam psychological well-being yang dapat dilihat dari munculnya beberapa dimensi psychologicalwell-being yaitu dimensi penerimaan diri, dimensi hubungan positif, dimensi penguasaan lingkungan, dan dimensi tujuan hidup serta adanya pengaruh positif dari peningkatan religiusitas.Kata Kunci : mahasiswa; marbut, religiusitas, psychological well-being