Marjanto, Damardjati Kun
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN WARISAN BUDAYA TAKBENDA (WBTB) INDONESIA Marjanto, Damardjati Kun
Kebudayaan Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v11i1.18

Abstract

AbstractThe objectives of the research for policy of intangible cultural heritage (ICH) are as follow.(1) To understand the processes and problems of implementation of ICH policy in Indonesia; (2)To identify stakeholders involved in ICH policies that have been registered and confirmed; and(3) To ascertain a plan of action programs that carried out by relevant agencies following thedetermination of ICH policy in Indonesia. This study uses qualitative research method, throughinterviews and focus group discussion (FGD) to a number of informants, i.e. government officials,cultural actors, and community members. The implementation of the Minister of Education andCulture regulation that related to â??the administrative proceduresâ? of ICH policy has be done asgood as possible by Directorate of Values Internalization and Cultural Diplomacy. However, it isbelieved that the effort is still need to be improved. It seems that this is caused by poor technicalability for filling the form and misunderstanding about ICH, which often confused as havingthe same meaning and value with cultural heritage. Local stakeholders need to have the sameunderstanding about the importance of the regulation of president and of Ministry of Educationand Culture. Therefore, all the regions can carry out this policy together and contribute toeach other in protecting ICH through action programs. Bidaâ??i, Songket, Sambas, and BetangTraditional House in West Kalimantan Province; and Makepung and Tektekan in Bali Provincehave been designated as ICH of Indonesia. However, conservation efforts should not stop at thisdetermination only.Keywords: Intangible Cultural Heritage (ICH), Bidaâ??i. Songket Sambas, Betang traditional house,Makepung and Tektekan AbstrakTujuan penelitian kebijakan Warisan Budaya Takbenda (WBTB) ini, adalah untuk: (1)mengetahui proses dan berbagai masalah dalam implementasi kebijakanWBTB Indonesia;(2) mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat dalam kebijakan WBTB yang telah didaftarkandan ditetapkan; dan (3) mengetahui rencana program aksi yang dilakukan oleh instansi terkaitterhadap penetapan WBTB Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatifdengan wawancara dan Focus Group Discussion (FGD) terhadap sejumlah informan, baik dariaparat pemerintahan, pelaku budaya, maupun warga masyarakat. Hasil penelitian menunjukanbahwa implementasi Permendikbud yang terkait â??prosedur administratifâ? KebijakanWBTB,telah dilakukan dengan maksimal oleh Direktorat INDB, beserta jajarannya. Meskipun demikian,dalam pelaksanaannya dirasakan kurang maksimal. Hal ini tampaknya, disebabkan kemampuanteknis pengisian formulir maupun pemahaman akan arti budaya takbenda seolah-olah samadengan cagar budaya. Perlu pemahaman dari stakeholders di daerah tentang pentingnya Perpresdan Permendikbud WBTB, sehingga kebijakan ini dapat bergerak bersama di daerah dan salingberkontribusi dalam melakukan perlindungan WBTB dalam bentuk program aksi. Bidai, SongketSambas, dan Rumah Betang di Provinsi Kalimantan Barat, serta Makepung dan Tektekan diProvinsi Bali sudah ditetapkan sebagai WBTB Indonesia. Upaya pelestarian seyogyanya tidakberhenti pada penetapan WBTB tersebut.Kata kunci: Warisan Budaya Takbenda (WBTB), Bidai (Bideâ??), Songket Sambas, Betang,Makepung dan Tektekan
NILAI BUDAYA YANG TERKANDUNG DALAM TRADISI SASI IKAN LOMPA DI NEGERI HARUKU KABUPATEN MALUKU TENGAH Marjanto, Damardjati Kun
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 16 No. 3 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.868 KB) | DOI: 10.52829/pw.69

Abstract

Manusia, alam, dan kebudayaan merupakan tiga entitas yang tidak bisa dipisahkan. Alam lingkungan sebagai tempat tinggal manusia membentuk cara hidup manusia yang dikenal sebagai kebudayaan, sedangkan kebudayaan itu sendiri juga merupakan cara adaptasi manusia dalam menanggapi lingkungan alamnya. Praktik keselarasan manusia dengan alam pada masyarakat Negeri Haruku dikenal sebagai Tradisi Sasi ikan lompa. Penelitian ini bertujuan untukmendeskripsikan sasi ikan lompa dan mengungkapkan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sasi ikan lompa merupakan salah satu contoh keberhasilan simbiosis mutualisme manusia dengan alam. Ikan Lompa yang dipelihara dengan tradisi sasi dapat berkembang dengan baik dan pada gilirannya mendatangkan kesejahteraqan bagi manusia Di samping itu tradisi sasi ikan lompa juga sarat dengan nilai-nilai budaya, yaitu penghormatan terhadap alam lingkungan, ketaatan terhadap aturan adat, kebersamaan dan kesetiakawanan sosial, dan juga pengorbanan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif di mana teknik pengumpulan data diperoleh dengan cara observasi, wawancara, dan FGD (Focus Group Discussion), dengan teknik analisis data deksriptif kualitatif.Man, nature, and culture are three entities that can not be separated. The natural environment as a dwelling for man shapes way of life that is known as culture. The other side, culture is also a way of human adaptation in response to its natural environment the harmony practices between man and nature in Negeri Haruku community is known as Sasi tradition for Lompa fish. The aim of this study describs Sasi tradition for Lompa fish and reveal cultural values in the tradition. The result of the study indicates that Sasi tradition for Lompa fish is one of succes model of symbiosis mutualisma between man and nature. Lompa fish that is cared in Sasi tradition can be thrived and bring in human welfare. Besides it, the tradition also loaded with cultural values, i.e. respect to natural environment, adherence to customary rules, togetherness and social solidarity, and also spirit of sacrifice. This study is a qualitative approach in which techniques for data collection is obtained by observation, interview, and FGD (Focus Group Discussion), with a qualitative descriptive techniques for data analysis.