Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Ujaran Kebencian, Hoax dan Perilaku Memilih (Studi Kasus pada Pemilihan Presiden 2019 di Indonesia) Sirait, Ferdinand Eskol Tiar
Jurnal Penelitian Politik Vol 16, No 2 (2019): Evaluasi Pemilu Serentak 2019
Publisher : Pusat Penelitian Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4803.239 KB) | DOI: 10.14203/jpp.v16i2.806

Abstract

Pilpres 2019 adalah pengulangan dari kontestasi 2 (dua) kandidat yang sebelumnya bertarung pada pilpres 2014. Kontestasi pilpres 2019 diwarnai dengan meluasnya penggunaan ujaran kebencian dan hoax, dimana salah satu medium terbesar dalam penyebarannya adalah pada media sosial. Sebagaimana hasil-hasil penelitian terdahulu, kampanye negatif dan hitam terutama diarahkan pada petahana. Penggunaan media sosial dan berita daring sebagai medium kampanye negatif dan hitam ini dikarenakan media sosial dan portal berita daring memiliki fitur-fitur yang sulit dikendalikan oleh petahana. Dengan menggunakan metode kualitatif, tulisan ini mencoba melihat dampak dari kampanye hitam terhadap perolehan suara capres petahana Joko Widodo. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa sedikit banyaknya kampanye negatif dan hitam memiliki dampak yang terbatas pada perolehan suara. Dampak ini terutama terlihat di daerah-daerah di mana faktor sosiologis memainkan peran penting dalam menentukan pilihan politik. Namun, ia tidak memiliki dampak pada daerah-daerah dimana faktor psikologis (yakni kedekatan partai) lebih berpengaruh. Singkatnya, hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa faktor-faktor sosiologis dan psikologis merupakan variable anteseden yang mempengaruhi relasi antara kampanye hitam dengan perolehan suara.Kata Kunci: ujaran kebencian, hoax, media digital, perilaku memilih, pilpres 
The Effect of News about Vaksin Nusantara on Millennial's Trust In The Performance of Jokowi's Cabinets Volume II Mulyani, Sry; Sirait, Ferdinand Eskol Tiar
Jurnal Pekommas Vol 6 (2021): Special Issue: The Role of Communication and Information Technology in the struggle ag
Publisher : Sekolah Tinggi Multi Media “MMTC” Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56873/jpkm.v6i3.4187

Abstract

Pandemi Covid-19 yang saat ini menyebar hingga keseluruh negara membuat setiap pemerintah dinegara manapun berupaya untuk melakukan pengendalian pandemi ini. salah satu langkah dalam pengendalian pandemi ini adalah dengan melakukan program vaksinasi bagi warga negaranya agar dapat mengurangi risiko atas dampak virus corona. Indonesia juga mendukung program vaksinasi covid-19 ini dengan melakukan impor vaksin dari luar negeri dan juga mendukung pengembangan vaksin di Indonesia. salah satu vaksin pengembangan indonesia adalah vaksin nusantara yang digagas oleh Terawan selaku mantan mentri kesehatan RI. Namun pada perjalanannya vaksin ini mendapat kontroversi pro dan kontra dimasyarakat karena permasalahan tidak lolos uji klinis yang dilakukan oleh BPOM, namun tetap melakukan vaksinasi ke beberapa tokoh. Penelitian ini ingin mengetahui adakah pengaruh pemberitaan vaksin nusantara terhadap kepercayaan terhadap kinerja kabinet Jokowi jilid II khususnya pada generasi milenial. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain penelitian eksperimen. Dan hasil penelitian ini menunjukan bahwa tidak adanya pengaruh signifikan antara pengembangan vaksin nusantara terhadap kepercayaan generasi milenial pada kinerja kabinet Jokowi jilid II.
Populist narratives, digital media, and public perceptions of election fraud in the Indonesian presidential elections 2019 and 2024 Sirait, Ferdinand Eskol Tiar; Irwansyah, Irwansyah; Eriyanto, Eriyanto
Otoritas : Jurnal Ilmu Pemerintahan Vol. 16 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Department of Government Studies, Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/ojip.v16i1.21189

Abstract

Persistent allegations of electoral fraud after Indonesia’s 2019 and 2024 elections show that legitimacy is shaped not only by legal validation but also by competing public narratives. Although both elections were certified, post-election discourse remained marked by polarization, distrust, and manipulation claims. Existing studies have examined fraud perceptions, populism, misinformation, and digital politics separately, yet research on how fraud narratives evolved across consecutive Indonesian elections remains limited. This study addresses this gap by analyzing how populist fraud narratives were produced and circulated in both elections, and how survey institutions contributed to electoral legitimacy. Using qualitative descriptive content analysis based on library and document-based research, this study synthesizes academic literature, official documents, media reports, and survey publications. The findings reveal a transformation in fraud narratives. In 2019, they were explicit, personalized, and elite-centered, articulated by senior political and religious actors, and linked to offline mobilization. In 2024, they became decentralized, implicit, and digitally networked, circulating through short-form content, partisan online communities, and buzzer-like amplification. Across both elections, survey institutions functioned as epistemic actors by measuring public perceptions and countering claims of widespread illegitimacy, while exposing partisan asymmetries and winner’s bias. This article contributes to debates on digital populism, electoral integrity, and democratic legitimacy by showing how election legitimacy is contested across legal-institutional, moral-populist, and empirical-survey arenas.