Meran, Markus
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Ensiklik Laudato Si’: Perawatan Rumah Kita Bersama – Rumah Kita Ada Di Alam Ini Meran, Markus
Jurnal Masalah Pastoral Vol 4 No 1 (2016): JUMPA (Jurnal Masalah Pastoral)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60011/jumpa.v4i1.21

Abstract

Tulisan ini diinspirasi oleh ensiklik Laudato Si’ yang diartikan sebagai perawatan rumah kita bersama.2 Merawat rumah alam adalah panggilan asali manusia sejak manusia diciptakan. Pemahaman ini mempengaruhi perilaku hidup manusia dalam memperlakukan alam sebagai rumah. Pemahaman dari ensiklik ini memberikan semangat dalam diri setiap pribadi manusia kristiani untuk memiliki kecintaan dan ketertarikan terhadap alam. Alam telah memberikan banyak kehidupan kepada manusia maka manusia sebagai makhluk berbudi patut mengarahkan niat dalam dirinya untuk menghargai alam ciptaan dan dekat dengannya. Rasa cinta akan alam mengubah cara hidup Fransiskus Assisi dengan bertobat dan berdamai dengan alam. Ia adalah santo yang sebagian besar hidupnya berada dalam harmoni dengan alam, maka tidaklah mengherankan jika kemudian Paus Yohanes II mengangkat St. Fransiskus sebagai pelindung ekologi. Semangatnya turut menginspirasi tulisan ini.
Berspiritualitas Katekis Menuju Konsistensi Penghayatan Panggilan Menjadi Seorang Katekis Meran, Markus
Jurnal Masalah Pastoral Vol 5 No 1 (2017): JUMPA (Jurnal Masalah Pastoral)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60011/jumpa.v5i1.42

Abstract

Katekis adalah satu profesi yang digeluti dan dimiliki oleh orang khususyang membaktikan dirinya demi pendidikan iman akan Yesus karenaprofesionalismenya di bidang pendidikan dan pengajaran agama katolik.Menghayati panggilan menjadi katekis bukan suatu tahapan yang dilewatipada masa tertentu saja, tetapi dihayati seumur hidup sesuai denganpanggilan menjadi katekis. Panggilan menjadi katekis hanya mungkinbertahan, menggema, mengakar dalam diri jika dilandasi oleh spiritualitaskatekis. Katekis adalah orang yang dipanggil secara khusus untuk ikutterlibat didalam karya pewartaan iman akan Kristus. Katekis dipanggilmembela kehidupan atau pro-life. Membela kehidupan dapat diwujudkanmelalui pewartaan iman yang benar dan menghidupi nilai-nilai manusiawikristiani dengan benar dan tepat. Kita ditantang untuk mewujudkanidealisme hidup menjadi katekis. Kenyataan dunia modern saat ini denganadanya MEA (Manusia Ekonomi Asia), maka setiap orang akanberhadapan dengan dunia yang bebas tanpa kompromi. Arus komunikasidan relasi antar manusia semakin mudah, bebas dan tidak terkontrol.Orang akan hidup dengan dirinya sendiri tanpa ada yang mengawasi.Dunia zaman ini menawarkan banyak hal yang serba instan, cepat danmudah. Katekis yang tidak mengalami suasana perkembangan seperti inidikatakan jaman dulu (jadul). Kata-kata yang memprovokasi rasa, minatdan harga diri akan merasuk dalam diri dan akhirnya muncul aksi, kreasidan imajinasi untuk memenuhinya. Dengan demikian, katekis diharapkanmemiliki konsistensi dalam panggilannya serta perwujudan dirinyamenjadi pewarta firman Tuhan. Spiritualitas katekis memungkinkan terjadikonsistensi penghayatan panggilan menjadi katekis. Jati diri seorangkatekis ditantang oleh zaman namun spiritualitas dapat memperkuatketahanan diri sehingga mampu untuk menghadapi zaman.
Konseling Pastoral Sebagai Kebutuhan Pendampingan Bagi Anak Jalanan Di Kelurahan Maro-Distrik Meruake Meran, Markus
Jurnal Masalah Pastoral Vol 11 No 1 (2023): JUMPA (Jurnal Masalah Pastoral)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60011/jumpa.v11i1.53

Abstract

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konseling pastoral sangat urgen dan membawa dampak bagi anak jalanan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang berusaha untuk menggambarkan suatu gejala sosial. Konseling pastoral menjadi sebuah kebutuhan yang menolong anak untuk bisa mengubah kehidupannya. Konseling pastoral yang dilakukan terhadap anak jalanan bertujuan memulihkan hubungan yang sudah tidak harmonis (dirinya, orang tua dan Tuhan). Konseling pastoral menjadi sebuah kebutuhan yang menggiatkan fungsi dari sebuah pendampingan pastoral yaitu membimbing (guiding), mendamaikan/memperbaiki hubungan (reconciling), menopang/menyokong (sustaining), menyembuhkan (healing) dan mengasuh (nurturing). Faktor penyebab anak turun ke jalan ialah masalah ekonomi keluarga. Konseling pastoral menjadi dimensi gereja yang perlu diberikan kepada anggota gereja yang sedang tersesat. Hasil dari pendampingan yang dilakukan bagi anak jalanan yaitu anak-anak sadar, mengerti, paham, menyesal, dan memiliki kemauan untuk berubah. Konseling Pastoral menjadi sebuah kebutuhan yang dinantikan bagi anak jalanan untuk mengembalikan mereka kepada keluarga sehingga dapat menempuh pendidikan (sekolah) demi mengubah masa depan.
Agama dan Sekularisme Di Indonesia (Hybriditas dan Komoditas Agama) Meran, Markus
Jurnal Masalah Pastoral Vol 7 No 1 (2019): JUMPA (Jurnal Masalah Pastoral)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60011/jumpa.v7i1.90

Abstract

Sekularisme adalah sebuah konsep atau pemahaman yang memisahkan negara dan agama (state and religion). Agama selalu dihubungkan dengan ketuhanan, mengurus relasi yang bersifat spiritual dengan Tuhan. Sedangkan negara adalah lembaga yang mengurusi tatatanan hidup yang bersifat duniawi. Pemahaman ini yang mempengaruhi setiap orang untuk membedakan keduanya dan bersikap terhadapnya. Agama dan sekularisme perlu dipahami secara benar karena keduanya ada dalam kehidupan masyarakat. Sekularisasi agama sekarang ini merupakan situasi kekinian (baru) sebagai akibat dari berkembangnya zaman dan ideologi. Peran sentral agama semakin terkikis oleh peran negara dan berbagai aliran modernisme sehingga tidak terjadi sinergi antara agama dan negara. Agama juga mengalami hibriditasi berdasarkan pesan tradisional yang dibawa sejak awal dan kebudayaan atau konteks tumbuhnya agama di suatu tempat. Berger mengartikan hibriditasi sebagai suatu usaha sengaja untuk menyintesiskan sifat-sifat kebudayaan asing dan lokal. Agama yang berjumpa dengan aneka macam kebudayaan baru dan mengalami perkembangan baik itu perkembangan yang semakin menggembirakan tetapi juga ada pergeseran mentalitas yang membuat agama menjadi sangat diragukan pernannya. Akibatnya dalam beragama terjadi banyak penafsiran yang tidak berdasar dan bahkan sangat keliru. Oleh karena itu agama mesti hadir menawarkan keunggulan-keunggulan religi yang dijadikan pedoman hidup bersama Allah, sesama dan alam semesta. Agama mesti menawarkan nilai-nilai luhur keberadaban yang membuat setiap orang merasa memiliki kekuatan, untuk mengekpresikan keimanannya secara sadar dan bertanggungjawab.
Perdamaian Dalam Prspektif Katolik dan Islam Meran, Markus
Jurnal Masalah Pastoral Vol 7 No 2 (2019): JUMPA (Jurnal Masalah Pastoral)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60011/jumpa.v7i2.95

Abstract

Perdamaian sesungguhnya adalah penyesuaian dan pengarahan yang baik di mana semua pihak menyelesaikan konflik dengan cara damai karena ditemukan jalan keluar yang sama-sama tidak merugikan sehingga tercipta situasi yang kondusif. Dalam pemahaman yang lebih luas perdamaian adalah penyesuaian dan pengarahan yang baik dari orang seorang terhadap Penciptanya pada satu pihak dan kepada sesamanya pada pihak lain. Singkatnya kesatuan yang harmonis antara manusia dengan sesama yang lain, antara manusia dengan alam semesta. Perdamaian juga mencakup segala bidang kehidupan fisik, intelektual, akhlak dan kerohanian. Perdamaian yang datang dari Allah adalah perdamaian yang bersumber dari kebenaran akan Allah. Yesus berkata, ”Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat 5:9). “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya 107)